
Bagi Dosen dan Mahasiswa S2/S3, frasa “Publish or Perish” (Publikasi atau Mati) adalah momok yang nyata. Tuntutan untuk menembus jurnal bereputasi (Scopus/WoS) semakin tinggi, namun kendala di lapangan seringkali menghambat.
Mulai dari izin penelitian yang sulit, dana riset yang terbatas, hingga data lapangan yang tidak valid.
Apakah Anda sedang mengalami jalan buntu tersebut? Jika ya, maka Anda perlu melirik metode Systematic Literature Review (SLR).
SLR bukanlah sekadar “tinjauan pustaka” biasa yang ada di Bab 2 skripsi. SLR adalah sebuah metode penelitian mandiri yang mengolah data sekunder (artikel jurnal) secara sistematis untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Kabar baiknya: Jurnal internasional sangat menyukai artikel tipe SLR karena potensi sitasinya (citation impact) yang sangat tinggi.
Lalu, bagaimana cara membuatnya agar tidak ditolak editor? Berikut panduan langkah demi langkahnya.
Apa Bedanya SLR dengan Literature Review Biasa?
Sebelum mulai, pahami dulu bedanya agar Anda tidak salah kamar.
-
Traditional Review: Penulis memilih artikel sesuka hati, subjektif, dan naratif. (Biasanya rentan ditolak jurnal Q1/Q2).
-
Systematic Literature Review (SLR): Penulis menggunakan protokol ketat, transparan, dan bisa diulang (replicable) oleh peneliti lain. Artikel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang jelas.
Tahapan Membuat SLR Standar Internasional (Metode PRISMA)
Untuk menembus jurnal internasional, standar emas yang wajib Anda gunakan adalah PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses).
Berikut adalah alurnya:
1. Perumusan Masalah (Define Research Question)
SLR yang baik berawal dari pertanyaan yang spesifik. Gunakan kerangka PICOC:
-
Population: Siapa subjeknya? (Misal: Guru SD).
-
Intervention: Apa metode/variabelnya? (Misal: Gamifikasi).
-
Comparison: Dibandingkan dengan apa? (Opsional).
-
Outcome: Apa hasil yang diharapkan? (Misal: Motivasi Belajar).
-
Context: Di mana? (Misal: Sekolah Inklusi).
2. Pencarian Data (Identification)
Di sinilah Anda “panen” data. Anda tidak perlu menyebar kuesioner ke hutan, cukup duduk di depan laptop. Gunakan database bereputasi seperti Scopus, Web of Science (WoS), atau PubMed. Jika akses terbatas, Anda bisa menggunakan Google Scholar dengan bantuan tools gratis seperti Publish or Perish (PoP) untuk mengunduh metadata ratusan jurnal sekaligus.
Tips: Gunakan operator Boolean (AND, OR, NOT) saat mencari keyword agar hasil pencarian spesifik.
3. Penyaringan (Screening & Eligibility)
Ini adalah tahap krusial. Misalkan Anda menemukan 500 artikel. Tidak mungkin Anda baca semua, bukan? Lakukan penyaringan bertahap:
-
Screening Judul & Abstrak: Buang artikel yang tidak relevan dengan topik.
-
Kriteria Inklusi/Eksklusi: Tetapkan aturan main. Contoh: “Hanya mengambil artikel berbahasa Inggris, terbitan 5 tahun terakhir (2020-2025), dan jenisnya artikel jurnal (bukan prosiding).”
4. Ekstraksi Data & Sintesis (Included)
Setelah tersisa misal 50 artikel final, bacalah secara utuh (full text). Jangan hanya meringkas! Lakukan sintesis:
-
Kelompokkan berdasarkan tema/metode.
-
Cari gap (celah kosong) yang belum dibahas peneliti sebelumnya.
-
Gunakan tools visualisasi seperti VOSviewer untuk membuat peta bibliometrik yang cantik. Grafik warna-warni dari VOSviewer sangat disukai reviewer karena memanjakan mata.
5. Penulisan Naskah (Reporting)
Struktur artikel SLR di jurnal internasional biasanya:
-
Introduction: Mengapa topik ini penting?
-
Method: Jelaskan langkah PRISMA Anda (wajib sertakan diagram alur PRISMA).
-
Result & Discussion: Sajikan tabel sintesis dan peta VOSviewer. Jelaskan tren penelitian saat ini.
-
Conclusion & Future Research: Apa rekomendasi Anda untuk peneliti selanjutnya?
Mengapa Banyak SLR Ditolak? (Dan Solusinya)
Alasan utama penolakan artikel SLR biasanya adalah: Metodologi tidak transparan. Reviewer bertanya: “Kenapa Anda memilih 50 artikel ini? Kenapa artikel si A tidak masuk?”
Jika Anda tidak bisa menjelaskannya dengan protokol yang ketat, artikel dianggap bias. Oleh karena itu, penguasaan tools (seperti PoP, VOSviewer, Mendeley) dan pemahaman protokol PRISMA adalah kunci mutlak.
Anda merasa kesulitan mempelajari semua tools tersebut secara otodidak? Atau bingung cara mengoperasikan VOSviewer agar grafiknya terbaca?
Jangan habiskan waktu berbulan-bulan untuk trial-and-error.
Dea Learning Center membuka program Pelatihan Peneliti & Akademisi yang secara khusus membedah tuntas pembuatan SLR. Mulai dari cara harvesting data dengan Publish or Perish, filter data, hingga visualisasi canggih dengan VOSviewer/Biblioshiny.
Mentor kami adalah akademisi yang telah berpengalaman menembus jurnal bereputasi. Kami akan bimbing Anda sampai paham pola pikirnya.
Siapkan naskah publikasi Anda sekarang juga tanpa pusing data lapangan.
👉 Daftar Pelatihan SLR & Bibliometrik di Sini
FAQ: Systematic Literature Review (SLR)
Apa itu Systematic Literature Review (SLR)? SLR adalah metode penelitian yang mengidentifikasi, mengevaluasi, dan menginterpretasi semua penelitian yang tersedia dan relevan terkait pertanyaan penelitian tertentu. Berbeda dengan review biasa, SLR menggunakan protokol yang ketat dan sistematis.
Apa software yang digunakan untuk membuat SLR? Beberapa tools populer yang wajib dikuasai adalah:
-
Publish or Perish (PoP): Untuk mencari dan mengunduh metadata jurnal.
-
Mendeley/Zotero: Untuk manajemen referensi.
-
VOSviewer / Biblioshiny: Untuk visualisasi data (pemetaan) bibliometrik.
-
NVivo: Untuk analisis konten kualitatif (jika diperlukan).
Apakah artikel SLR bisa masuk jurnal Scopus? Sangat bisa. Justru jurnal internasional bereputasi tinggi (Q1/Q2) sangat menyukai artikel jenis SLR karena biasanya menjadi rujukan utama bagi peneliti lain, sehingga meningkatkan Impact Factor jurnal tersebut.
Apa itu metode PRISMA dalam SLR? PRISMA (Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses) adalah standar pelaporan minimum berbasis bukti untuk tinjauan sistematis. Ini berupa diagram alur (flowchart) yang menjelaskan berapa artikel yang ditemukan, disaring, dibuang, dan akhirnya dianalisis.
📌 Daftarkan diri Anda sekarang di DEA Learning Center dan wujudkan tata kelola sekolah yang lebih profesional, transparan, dan berkelanjutan.
