apa itu slr
apa itu slr

Apa itu SLR?

SLR (Systematic Literature Review) adalah metode tinjauan pustaka yang mengumpulkan, menyaring, dan menganalisis penelitian terdahulu menggunakan protokol yang ditetapkan sebelum pencarian dimulai, sehingga seluruh prosesnya transparan dan dapat direplikasi peneliti lain. Berbeda dari tinjauan pustaka biasa, SLR memperlakukan proses pencarian literatur itu sendiri sebagai data penelitian yang harus dilaporkan.

Satu kalimat pembeda yang paling sering menolong mahasiswa: pada tinjauan pustaka biasa, peneliti memilih artikel yang mendukung argumennya; pada SLR, peneliti menetapkan kriteria lebih dulu, lalu menerima apa pun yang lolos kriteria itu — termasuk temuan yang bertentangan dengan dugaannya.

Ringkasnya: SLR punya tujuh tahap — merumuskan pertanyaan, menyusun protokol, menetapkan kriteria inklusi-eksklusi, mencari literatur, menyeleksi, mengekstraksi data, lalu mensintesis. Standar pelaporan yang paling banyak dipakai adalah PRISMA 2020, yang terdiri atas checklist 27 butir dan satu diagram alir seleksi.

Perbedaan SLR dan literature review biasa

Aspek Literature review naratif Systematic Literature Review
Pertanyaan penelitian Umum, bisa berkembang saat menulis Spesifik dan dikunci di awal, biasanya lewat kerangka PICO/SPIDER
Protokol Tidak ada Ditulis dan ditetapkan sebelum pencarian; idealnya diregistrasi
Strategi pencarian Tidak dilaporkan Dilaporkan lengkap: basis data, kata kunci, operator boolean, tanggal akses
Pemilihan artikel Berdasarkan pertimbangan penulis Berdasarkan kriteria inklusi-eksklusi yang ditetapkan di awal
Penilaian kualitas Jarang dilakukan Wajib, memakai instrumen seperti CASP, JBI, atau MMAT
Bisa direplikasi? Tidak Ya — peneliti lain harus bisa mendapatkan hasil seleksi yang sama
Waktu pengerjaan Beberapa minggu Beberapa bulan; untuk skripsi biasanya satu semester
Risiko bias Tinggi — cenderung memilih yang mendukung Ditekan lewat protokol dan seleksi ganda oleh dua reviewer

Perlu dibedakan juga dari dua istilah yang sering tertukar: scoping review memetakan luasnya suatu bidang tanpa menilai kualitas studi, sedangkan meta-analisis menggabungkan hasil statistik dari beberapa studi. Meta-analisis biasanya dilakukan setelah SLR, bukan menggantikannya.

Tujuh tahapan SLR

1. Merumuskan pertanyaan penelitian

Gunakan kerangka yang sesuai bidang. Untuk penelitian pendidikan, SPIDER sering lebih cocok daripada PICO karena banyak studi pendidikan bersifat kualitatif.

  • PICO — Population, Intervention, Comparison, Outcome. Cocok untuk studi eksperimen.
  • SPIDER — Sample, Phenomenon of Interest, Design, Evaluation, Research type. Cocok untuk studi kualitatif dan campuran.

Contoh pertanyaan yang sudah terkunci: “Bagaimana penerapan project based learning memengaruhi kemampuan berpikir kritis siswa SD di Indonesia, menurut penelitian yang terbit 2015–2025?”

2. Menyusun protokol

Protokol adalah dokumen yang berisi rencana lengkap sebelum satu artikel pun dibaca: pertanyaan, kriteria, basis data yang akan digunakan, kata kunci, cara menyaring, dan cara mengekstraksi. Menuliskannya lebih dulu adalah yang mencegah peneliti tanpa sadar menyaring hasil agar sesuai dugaannya.

Untuk penelitian kesehatan, protokol biasa diregistrasi di PROSPERO. Untuk penelitian pendidikan, registrasi belum umum di Indonesia — tetapi protokol tetap wajib ditulis dan dilampirkan.

3. Menetapkan kriteria inklusi dan eksklusi

Kriteria harus bisa dijawab ya atau tidak oleh orang lain tanpa menafsirkan. Contoh set kriteria yang jelas:

Kriteria Inklusi Eksklusi
Tahun terbit 2015–2025 Sebelum 2015
Jenis publikasi Artikel jurnal peer-reviewed Prosiding, skripsi, laporan lembaga, artikel opini
Bahasa Indonesia dan Inggris Bahasa lain
Subjek Siswa SD (usia 6–12) SMP, SMA, perguruan tinggi
Desain Eksperimen, kuasi-eksperimen, studi kasus Artikel konseptual tanpa data
Ketersediaan Teks penuh dapat diakses Hanya abstrak

4. Melakukan pencarian literatur

Gunakan minimal dua basis data agar cakupannya memadai. Untuk penelitian pendidikan Indonesia, kombinasi yang lazim: Scopus atau Web of Science untuk jurnal internasional, ERIC untuk pendidikan, Google Scholar untuk penyisiran tambahan, dan Garuda atau portal SINTA untuk jurnal nasional.

Catat string pencariannya persis, termasuk operator boolean dan tanggal akses. Contoh:

("project based learning" OR "pembelajaran berbasis proyek") AND ("critical thinking" OR "berpikir kritis") AND ("elementary school" OR "sekolah dasar")

Tanpa catatan ini, SLR Anda tidak dapat direplikasi — dan itu berarti syarat utamanya tidak terpenuhi.

5. Menyeleksi artikel

Seleksi berjalan tiga lapis: hapus duplikat, saring berdasarkan judul dan abstrak, lalu saring berdasarkan teks penuh. Setiap lapis dicatat jumlah masuk dan keluarnya, beserta alasan pengeluaran pada tahap teks penuh.

Idealnya dilakukan dua orang secara terpisah, lalu hasilnya dibandingkan. Kalau bekerja sendiri (kasus paling umum untuk skripsi), lakukan seleksi dua kali dengan jeda beberapa hari dan catat butir yang berubah keputusannya.

6. Mengekstraksi data

Buat satu tabel ekstraksi sebelum membaca artikel, lalu isi kolomnya secara konsisten. Kolom minimal:

Kolom Isi
Penulis & tahun Sitasi ringkas
Negara / lokasi Konteks penelitian
Desain penelitian Eksperimen, kualitatif, campuran
Sampel Jumlah dan karakteristik
Intervensi / fenomena Apa yang diteliti
Instrumen Alat ukur yang dipakai
Temuan utama Hasil pokok, disalin ringkas
Keterbatasan Yang diakui penulisnya sendiri
Skor kualitas Hasil penilaian CASP/JBI/MMAT

7. Mensintesis dan melaporkan

Sintesis bukan meringkas artikel satu per satu. Yang dicari adalah pola lintas studi: temuan yang berulang, temuan yang bertentangan, celah yang belum diteliti, dan konteks yang membedakan hasilnya.

Untuk data kualitatif, sintesis tematik paling umum. Untuk data kuantitatif yang sebanding, bisa dilanjutkan ke meta-analisis. Pelaporan mengikuti checklist PRISMA 2020 dan wajib menyertakan diagram alir seleksi.

Diagram alir PRISMA: apa yang harus terisi

Diagram alir PRISMA 2020 melaporkan jumlah artikel di setiap tahap. Isinya harus menjumlah dengan benar dari atas ke bawah — ini yang paling sering jadi koreksi reviewer.

Identifikasi
Artikel ditemukan dari basis data: Scopus (n = 412), ERIC (n = 188), Garuda (n = 96) → total 696
Duplikat dihapus: n = 143 → tersisa 553

Penyaringan
Disaring berdasarkan judul dan abstrak: n = 553
Dikeluarkan: n = 431 (tidak sesuai populasi, bukan artikel penelitian, di luar rentang tahun)
Teks penuh dinilai kelayakannya: n = 122
Dikeluarkan dengan alasan: teks penuh tidak dapat diakses (n = 24), desain tidak sesuai (n = 39), luaran tidak diukur (n = 21)

Termasuk
Artikel yang dianalisis: n = 38

Angka di atas adalah ilustrasi format, bukan data penelitian nyata. Ganti dengan hasil pencarian Anda sendiri.

Lima kesalahan yang paling sering membuat SLR ditolak reviewer

  1. Protokol disusun setelah pencarian selesai. Ketahuan dari kriteria inklusi yang kebetulan pas dengan artikel yang sudah dipilih.
  2. String pencarian tidak dilaporkan. Tanpa ini, reviewer tidak bisa memeriksa apakah cakupannya memadai.
  3. Angka pada diagram alir tidak konsisten. Jumlah yang dikeluarkan tidak sama dengan selisih antar tahap.
  4. Penilaian kualitas dilewati. Semua artikel diperlakukan setara padahal desain dan ukuran sampelnya jauh berbeda.
  5. Sintesis berubah jadi ringkasan berurutan. Bagian hasil berisi “Penelitian A menemukan…, Penelitian B menemukan…” tanpa pola lintas studi.

Dari lima kesalahan di atas, yang paling mahal adalah menyusun protokol setelah pencarian selesai — karena berarti seluruh proses harus diulang. Kalau ingin protokolnya diperiksa sebelum Anda mulai mencari, ada kelas SLR dengan pendampingan di bawah.

Berapa artikel yang cukup untuk sebuah SLR?

Tidak ada angka baku. Yang dinilai adalah ketepatan proses, bukan jumlah akhirnya. Untuk skripsi dan tesis pendidikan di Indonesia, rentang 20–50 artikel yang lolos seleksi umum dijumpai. Yang justru mengkhawatirkan reviewer adalah dua ekstrem: hasil akhir di bawah 10 artikel (kemungkinan strategi pencarian terlalu sempit) atau di atas 150 (kemungkinan kriteria terlalu longgar sehingga sintesisnya jadi dangkal).

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa itu SLR dalam penelitian?

SLR adalah metode tinjauan pustaka yang mengumpulkan dan menganalisis penelitian terdahulu menggunakan protokol yang ditetapkan sebelum pencarian dimulai, sehingga prosesnya transparan dan dapat direplikasi peneliti lain.

Apa bedanya SLR dan literature review?

Literature review biasa memilih artikel berdasarkan pertimbangan penulis dan tidak melaporkan cara pencariannya. SLR menetapkan kriteria lebih dulu, melaporkan seluruh strategi pencarian, menilai kualitas tiap studi, dan hasilnya dapat direplikasi orang lain.

Apakah SLR bisa dikerjakan sendiri untuk skripsi?

Bisa, dan banyak dilakukan. Standar idealnya melibatkan dua reviewer untuk tahap seleksi. Kalau bekerja sendiri, lakukan seleksi dua kali dengan jeda waktu dan laporkan keterbatasan ini di bagian metode — reviewer menghargai keterbatasan yang diakui terbuka.

Berapa lama waktu mengerjakan SLR?

Bergantung luas topik dan jumlah basis data. Untuk skripsi atau tesis, satu semester adalah perkiraan yang wajar. Tahap yang paling sering diremehkan bukan membaca artikelnya, melainkan menyusun protokol dan menyaring ratusan judul di awal.

Apakah SLR harus memakai PRISMA?

PRISMA adalah panduan pelaporan, bukan kewajiban hukum. Namun sebagian besar jurnal terakreditasi meminta atau sangat menganjurkannya, dan diagram alirnya adalah cara tercepat bagi reviewer memeriksa apakah proses seleksi Anda konsisten.

Software apa yang membantu mengerjakan SLR?

Untuk manajemen referensi dan penghapusan duplikat: Mendeley atau Zotero. Untuk analisis tematik hasil ekstraksi: NVivo atau ATLAS.ti. Untuk analisis bibliometrik: VOSviewer. Semua bisa digantikan spreadsheet bila jumlah artikelnya kecil — alat tidak membuat SLR jadi sistematis; protokolnya yang membuat.

Kerangka protokol SLR yang bisa disalin

Protokol ditulis sebelum satu artikel pun dicari. Salin kerangka berikut dan isi seluruhnya lebih dulu; kalau ada bagian yang belum bisa dijawab, berarti pertanyaan penelitiannya belum cukup sempit.

1. Pertanyaan penelitian
Kerangka yang dipakai (PICO / SPIDER): …
Rumusan pertanyaan: …

2. Basis data dan strategi pencarian
Basis data (minimal dua): …
String pencarian lengkap dengan operator boolean: …
Tanggal akses: …

3. Kriteria inklusi dan eksklusi
Tahun terbit: inklusi … / eksklusi …
Jenis publikasi: … / …
Bahasa: … / …
Subjek: … / …
Desain penelitian: … / …
Ketersediaan teks penuh: … / …

4. Prosedur seleksi
Siapa yang menyeleksi, berapa tahap, cara menyelesaikan perbedaan pendapat: …
Kalau bekerja sendiri: jeda antar putaran seleksi … hari

5. Instrumen penilaian kualitas
CASP / JBI / MMAT — pilih satu dan sebutkan alasannya: …

6. Kolom tabel ekstraksi data
Penulis & tahun · negara/lokasi · desain · sampel · intervensi/fenomena · instrumen · temuan utama · keterbatasan · skor kualitas

7. Rencana sintesis
Tematik / naratif / meta-analisis: …

Ketika bagian 2 dan 3 sudah terisi lengkap dan bisa dibaca orang lain tanpa penjelasan tambahan, protokol Anda sudah memenuhi syarat dasar SLR: dapat direplikasi.

Belajar langsung bersama pendamping

Program DEA Learning Center

Pelatihan Praktisi Penelitian

Untuk peneliti, dosen, akademisi, dan mahasiswa. Materi SLR ada di jalur webinar; format yang lebih panjang tersedia dengan topik yang bisa diminta sesuai kebutuhan.

Format Topik yang paling terkait artikel ini
Webinar
3 JP · 2 jam 15 menit
In service learning
Menemukan Research Gap dan Novelty Penelitian dengan SLR · NVivo untuk Mengelola Data Kualitatif Berbasis Coding Tematik · Merancang Instrumen Penelitian yang Valid Berbasis Teori · AI untuk Penelitian: Bantu Riset Lebih Cepat, Tetap Etis dan Ilmiah
Kelas Intensif
22 JP · 3 sesi + 5 hari praktik
12 JP kelas + 10 JP praktik mandiri
Topik disesuaikan permintaan — dari lebih dari 100 topik yang tersedia
Bootcamp
44 JP · 6 sesi + 10 hari praktik
24 JP kelas + 20 JP praktik mandiri
Topik disesuaikan permintaan, dengan praktik mandiri terpandu

Biaya per peserta — makin banyak peserta, makin murah per orang:

Format 5 peserta 10 15 20 25
Webinar 850.000 700.000 550.000 325.000 300.000
Kelas Intensif 2.500.000 2.250.000 1.750.000 1.500.000 1.250.000
Bootcamp 4.000.000 3.500.000 3.000.000 2.500.000 2.000.000

Berlaku untuk pelatihan daring. Pelatihan luring ada tambahan biaya operasional dan logistik sesuai kota tujuan.

Semua format sudah termasuk:

  • Akses softcopy materi seumur hidup
  • Pendampingan profesional oleh mentor ahli
  • Lebih dari 100 topik yang bisa dikustomisasi sesuai kebutuhan
  • Softcopy e-sertifikat
  • Akses recording kelas kapan saja, gratis

Lihat Program & Daftar
Konsultasi Sekarang

Untuk kampus, prodi, atau komunitas riset: biaya per peserta turun tajam untuk kelompok besar — webinar untuk 25 peserta jatuh di Rp300.000 per orang. Topiknya juga bisa dikustomisasi dari lebih dari 100 topik yang tersedia. Konsultasikan kebutuhan lembaga Anda ke 0821-3735-9495. Kalau Anda juga mengajar, program untuk tenaga pendidik membahas sisi pembelajarannya.

Lanjutan

Ditinjau oleh: Dwi Esti Andriani, Ed.D.

Founder DEA Learning Center. Ed.D. Educational Leadership and Management, University of Western Australia. Dosen dan mantan Kepala Departemen S1 Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri Yogyakarta (2019–2023).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *