
Asesmen diagnostik non-kognitif adalah penilaian yang dilakukan guru di awal semester untuk mengetahui kondisi psikologis, emosi, sosial, gaya belajar, minat, dan latar belakang siswa — bukan kemampuan akademiknya. Cara membuatnya: siapkan instrumen berupa gambar ekspresi emosi atau kuesioner, laksanakan di sesi awal sebelum pembelajaran dimulai, analisis hasilnya untuk memetakan kebutuhan belajar, lalu jadikan dasar merancang pembelajaran berdiferensiasi.
Apa itu Asesmen Diagnostik Non-Kognitif?
Dalam Kurikulum Merdeka, asesmen diagnostik dibagi menjadi dua jenis yang saling melengkapi:
| Jenis | Yang Diukur | Waktu Pelaksanaan |
|---|---|---|
| Diagnostik Kognitif | Pemahaman dan kemampuan akademik siswa terhadap materi | Awal dan akhir pembelajaran / pergantian topik |
| Diagnostik Non-Kognitif | Kondisi psikologis, emosi, sosial, gaya belajar, minat, dan latar belakang siswa | Awal semester / awal tahun ajaran baru |
Asesmen diagnostik non-kognitif adalah proses mengumpulkan informasi mengenai karakter dan kondisi siswa yang tidak berkaitan langsung dengan kemampuan intelektual — mencakup aspek emosional, sosial, dan perkembangan lainnya yang memengaruhi kesejahteraan dan kesiapan belajar siswa di sekolah.
Berbeda dengan tes atau ujian, asesmen ini tidak memiliki jawaban benar atau salah. Tujuannya bukan menilai, tapi memahami — agar guru bisa merancang pembelajaran yang benar-benar sesuai dengan kondisi nyata setiap siswa.
Mengapa Penting Dilakukan di Awal Semester?
Banyak guru yang langsung masuk ke materi di minggu pertama semester. Ini adalah kebiasaan yang perlu diubah — karena proses pembelajaran yang mengabaikan perbedaan kondisi awal peserta didik tidak membuat siswa merdeka dalam belajar.
Tanpa asesmen diagnostik non-kognitif, guru cenderung menggunakan pendekatan one-size-fits-all — satu strategi untuk semua siswa, padahal setiap siswa datang dengan kondisi yang sangat berbeda: ada yang baru melewati konflik keluarga, ada yang memiliki kecemasan sosial tinggi, ada yang belajar jauh lebih baik secara visual dibanding verbal, ada yang sangat termotivasi pada topik tertentu tapi tidak pada topik lain.
Hasil asesmen diagnostik non-kognitif yang baik memungkinkan guru untuk:
- Mengelompokkan siswa berdasarkan kebutuhan belajar, bukan hanya nilai
- Memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar mayoritas kelas
- Mendeteksi dini siswa yang memerlukan perhatian khusus (sosial-emosional atau kondisi keluarga)
- Merancang pembelajaran berdiferensiasi yang lebih tepat sasaran
- Membangun komunikasi yang lebih personal dan bermakna dengan siswa
Aspek yang Digali dalam Asesmen Diagnostik Non-Kognitif
Berdasarkan panduan Kurikulum Merdeka dan penelitian lapangan, ada lima kelompok informasi utama yang perlu digali:
1. Kesejahteraan Psikologis dan Sosial-Emosional
Bagaimana kondisi emosi siswa saat ini? Apakah mereka merasa aman, nyaman, dan siap belajar? Apakah ada kecemasan, kekhawatiran, atau tekanan yang mereka rasakan?
2. Aktivitas Belajar di Luar Sekolah
Bagaimana rutinitas belajar siswa di rumah? Apakah ada yang mendampingi? Berapa lama mereka belajar mandiri? Apakah ada gangguan yang menghambat?
3. Kondisi dan Latar Belakang Keluarga
Kondisi keluarga sangat memengaruhi kesiapan belajar. Informasi ini sensitif dan harus diperlakukan dengan kerahasiaan penuh — bukan untuk menghakimi, tapi untuk memahami konteks siswa.
4. Latar Belakang Pergaulan dan Lingkungan Sosial
Siapa teman dekat siswa? Bagaimana hubungan mereka dengan teman sebaya? Apakah mereka nyaman berinteraksi di kelas?
5. Karakter, Minat, dan Gaya Belajar
Ini adalah informasi yang paling langsung berguna untuk merancang pembelajaran. Gaya belajar (visual, auditori, kinestetik), minat pada topik tertentu, dan karakter belajar siswa menentukan bagaimana guru menyajikan materi agar paling efektif.
Tahap 1 — Persiapan: Menyusun Instrumen
Langkah 1: Tentukan Fokus Informasi yang Ingin Digali
Tidak semua aspek harus digali sekaligus — terutama untuk jenjang SD. Tentukan prioritas berdasarkan kebutuhan:
- Awal tahun ajaran baru → prioritaskan kondisi sosial-emosional, gaya belajar, dan minat
- Awal semester genap → bisa lebih berfokus pada evaluasi semester sebelumnya dan motivasi ke depan
- Setelah liburan panjang atau peristiwa besar → prioritaskan kondisi psikologis dan kesiapan belajar
Langkah 2: Pilih Bentuk Instrumen yang Sesuai Jenjang
| Jenjang | Bentuk Instrumen yang Dianjurkan |
|---|---|
| SD Kelas 1–3 | Gambar ekspresi wajah/emoji, menggambar, bercerita lisan |
| SD Kelas 4–6 | Kuesioner sederhana dengan pilihan gambar atau kata, pertanyaan terbuka pendek |
| SMP | Kuesioner tertulis, skala rating, pertanyaan terbuka 2–3 kalimat |
| SMA / SMK | Kuesioner terstruktur, angket gaya belajar, refleksi tertulis |
Langkah 3: Susun Kisi-Kisi Instrumen
Sebelum menulis pertanyaan, buat kisi-kisi sederhana yang memetakan: aspek yang diukur → indikator → bentuk pertanyaan. Ini memastikan setiap pertanyaan memiliki tujuan yang jelas dan tidak ada aspek penting yang terlewat.
Contoh kisi-kisi sederhana:
| No | Aspek | Indikator | Bentuk |
|---|---|---|---|
| 1 | Kondisi emosional | Perasaan saat memulai semester | Emoji / pilihan |
| 2 | Gaya belajar | Cara belajar yang paling nyaman | Pilihan ganda |
| 3 | Minat belajar | Topik/mata pelajaran favorit | Pertanyaan terbuka |
| 4 | Aktivitas belajar di rumah | Rutinitas belajar harian | Pertanyaan terbuka |
| 5 | Motivasi | Harapan untuk semester ini | Kalimat melengkapi |
| 6 | Kondisi belajar di rumah | Ketersediaan ruang dan pendampingan | Pilihan / ceklist |
Langkah 4: Siapkan Alat Bantu Visual (terutama untuk SD)
Untuk jenjang SD kelas bawah, siapkan kartu ekspresi emosi — gambar wajah yang menunjukkan berbagai perasaan (senang, sedih, marah, takut, bingung, antusias, lelah, dan sebagainya). Alat bantu ini membantu anak mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan mereka lebih mudah daripada menuliskannya.
Tahap 2 — Pelaksanaan: Cara Menjalankan di Kelas
Ciptakan Suasana yang Aman dan Nyaman
Ini adalah prasyarat terpenting. Sebelum memulai, sampaikan kepada siswa:
- Tidak ada jawaban benar atau salah — semua jawaban diterima
- Jawaban mereka bersifat rahasia dan tidak akan memengaruhi nilai
- Tujuannya adalah agar guru bisa membantu mereka belajar lebih baik
Jika siswa tidak merasa aman, mereka akan memberikan jawaban yang “aman” — bukan jawaban yang jujur. Data yang tidak jujur tidak berguna.
Pilih Waktu yang Tepat
Lakukan di 15–30 menit pertama pertemuan awal semester — sebelum ada materi pelajaran yang disampaikan. Jangan gabungkan dengan kegiatan lain yang membutuhkan konsentrasi kognitif tinggi.
Teknik Pelaksanaan per Jenjang
Untuk SD kelas bawah (Kelas 1–3):
- Bagikan kartu ekspresi emosi atau tunjukkan gambar di papan tulis
- Tanyakan: “Pilih gambar yang paling menggambarkan perasaanmu sekarang”
- Minta siswa bercerita singkat tentang pilihannya
- Ajukan 2–3 pertanyaan kunci secara lisan sambil guru mencatat
Untuk SD kelas atas dan SMP:
- Bagikan lembar kuesioner yang sudah disiapkan
- Beri waktu 15–20 menit untuk mengisi — tanpa tekanan
- Guru berkeliling untuk memastikan semua siswa paham instruksi
- Kumpulkan dan simpan hasil
Untuk SMA / SMK:
- Bisa dilakukan secara digital (Google Form) atau cetak
- Tambahkan pertanyaan reflektif yang lebih mendalam
- Bisa dikombinasikan dengan sesi ngobrol santai (check-in awal semester)
- Pertimbangkan membuat respons anonim untuk aspek yang sensitif (kondisi keluarga)
Tahap 3 — Analisis dan Tindak Lanjut
Inilah tahap yang paling sering dilewati — dan ini adalah kesalahan terbesar. Asesmen tanpa tindak lanjut sama dengan mengumpulkan data lalu membuangnya.
Cara Menganalisis Hasil
Langkah 1: Rekap data dalam tabel sederhana
Buat tabel dengan nama siswa di baris dan aspek yang diukur di kolom. Isi dengan temuan singkat dari tiap siswa. Tidak perlu analisis statistik — cukup identifikasi pola.
Langkah 2: Identifikasi 3 kelompok
Setelah merekap, kelompokkan siswa berdasarkan temuan yang relevan dengan pembelajaran:
- Kelompok yang perlu perhatian khusus (ada indikator stres, kondisi sulit, atau hambatan belajar yang signifikan)
- Kelompok dengan karakteristik belajar dominan (misalnya: mayoritas visual, atau mayoritas kinestetik)
- Kelompok dengan minat atau motivasi yang perlu dibangun (siswa yang menunjukkan minat rendah atau kecemasan terhadap mata pelajaran tertentu)
Langkah 3: Catat temuan penting per siswa
Untuk siswa yang menunjukkan indikator kondisi psikososial yang perlu diperhatikan, buat catatan terpisah yang akan ditindaklanjuti secara personal — mungkin melalui percakapan empat mata, komunikasi dengan wali kelas, atau bahkan guru BK.
Tindak Lanjut yang Konkret
Hasil asesmen diagnostik non-kognitif harus tercermin dalam keputusan pembelajaran yang nyata. Berikut peta tindak lanjut berdasarkan temuan:
| Temuan | Tindak Lanjut |
|---|---|
| Mayoritas siswa menunjukkan gaya belajar visual | Perbanyak penggunaan diagram, infografis, video, dan mind map dalam pembelajaran |
| Ada siswa dengan kondisi emosional tidak stabil | Lakukan check-in individual di awal beberapa pertemuan pertama; koordinasi dengan guru BK |
| Banyak siswa belajar tanpa pendampingan di rumah | Rancang tugas yang bisa dikerjakan mandiri tanpa bantuan orang tua; hindari tugas yang butuh bimbingan intensif |
| Minat siswa sangat beragam | Rancang aktivitas yang memberi pilihan topik atau konteks yang sesuai minat |
| Ada siswa dari kondisi keluarga yang sulit | Jaga sensitivitas dalam pemberian tugas yang membutuhkan biaya atau fasilitas tertentu; berikan dukungan secara personal |
| Siswa menunjukkan kecemasan terhadap mata pelajaran | Awali semester dengan aktivitas ringan yang membangun kepercayaan diri, bukan langsung materi sulit |
Kapan Harus Melibatkan Pihak Lain?
- Jika siswa menunjukkan tanda-tanda tekanan psikologis yang berat → libatkan guru BK atau konselor sekolah
- Jika kondisi keluarga menunjukkan kebutuhan yang melampaui kapasitas guru → sampaikan kepada wali kelas dan koordinasikan dengan kepala sekolah
- Jika temuan perlu dikomunikasikan ke orang tua → lakukan dengan hati-hati, dalam percakapan personal, bukan melalui grup kelas
Contoh Instrumen Lengkap per Jenjang
Instrumen SD Kelas 4–6
[Nama] [Kelas] [Tanggal]
Bagian A — Perasaanku
- Lingkari gambar yang paling menggambarkan perasaanmu hari ini: 😄 Senang 😐 Biasa saja 😔 Sedih 😰 Cemas 😴 Lelah 😤 Tidak suka
- Satu hal yang paling kamu tunggu-tunggu dari semester ini adalah:
- Satu hal yang paling kamu khawatirkan dari semester ini adalah:
Bagian B — Cara Belajarku 4. Saya belajar paling mudah kalau: ☐ Melihat gambar, diagram, atau video ☐ Mendengarkan penjelasan guru atau teman ☐ Langsung mencoba dan mempraktikkan
- Mata pelajaran yang paling saya sukai: _______________ Alasannya: _______________________________________________
- Mata pelajaran yang terasa paling sulit: _______________ Alasannya: _______________________________________________
Bagian C — Belajar di Rumah 7. Setelah pulang sekolah, saya biasanya: ☐ Langsung belajar / mengerjakan PR ☐ Istirahat dulu, baru belajar malam ☐ Jarang sempat belajar di rumah
- Saat belajar di rumah, yang biasanya menemani atau membantu saya: ☐ Orang tua / anggota keluarga ☐ Teman / kakak ☐ Saya belajar sendiri
- Tuliskan satu kalimat tentang harapanmu untuk kelas ini semester ini:
Instrumen SMP
[Nama] [Kelas] [Tanggal] Jawablah dengan jujur. Tidak ada jawaban benar atau salah. Jawaban kamu bersifat rahasia.
Bagian A — Kondisi Saya Saat Ini
- Bagaimana perasaanmu memulai semester ini? (pilih satu atau lebih) ☐ Antusias dan semangat ☐ Biasa saja, sama seperti semester-semester sebelumnya ☐ Sedikit cemas atau khawatir ☐ Kurang semangat ☐ Lainnya: _______________
- Adakah hal di luar sekolah yang sedang membuatmu sulit berkonsentrasi belajar? (tidak harus dijawab jika tidak ingin)
Bagian B — Gaya dan Kebiasaan Belajar 3. Ketika belajar untuk ulangan, cara yang paling efektif untukmu adalah: ☐ Membaca ulang catatan atau buku ☐ Mendengarkan ulang penjelasan (rekaman, video, mendengar teman menjelaskan) ☐ Membuat rangkuman, mind map, atau diagram ☐ Mengerjakan soal latihan sebanyak mungkin ☐ Berdiskusi atau belajar bersama teman
- Saya belajar paling baik ketika: ☐ Suasana tenang dan sendiri ☐ Ada musik atau suara latar ☐ Bersama teman atau kelompok
- Rata-rata, berapa lama kamu belajar di rumah per hari (di luar mengerjakan PR)? ☐ Kurang dari 30 menit ☐ 30–60 menit ☐ 1–2 jam ☐ Lebih dari 2 jam
Bagian C — Minat dan Motivasi 6. Mata pelajaran atau topik yang paling menarik bagimu: _______________ Kenapa? _______________________________________________
- Sebutkan satu hal yang ingin kamu kuasai atau capai semester ini (boleh di dalam atau di luar pelajaran):
- Kalau kamu bisa mengubah satu hal dari cara kelas ini berjalan, kamu ingin mengubah apa?
Instrumen SMA / SMK
[Nama] [Kelas / Jurusan] [Tanggal]
Bagian A — Kondisi Saat Ini
- Dalam skala 1–5 (1 = sangat rendah, 5 = sangat tinggi), nilai semangatmu memulai semester ini: ___
- Apa yang paling membuatmu semangat atau tidak semangat memulai semester ini?
- Adakah kondisi di luar sekolah yang saat ini memengaruhi fokus belajarmu? Jika iya, ceritakan sejauh yang kamu nyaman:
Bagian B — Profil Belajar 4. Cara belajar yang paling efektif untukmu: ☐ Visual (membaca, melihat gambar/video/diagram) ☐ Auditori (mendengarkan, berdiskusi, menjelaskan ke orang lain) ☐ Kinestetik (mencoba langsung, praktik, membuat sesuatu) ☐ Kombinasi — sebutkan: _______________
- Saya merasa paling produktif belajar pada waktu: ☐ Pagi hari ☐ Siang hari ☐ Sore hari ☐ Malam hari
- Hambatan terbesar yang sering mengganggumu saat belajar di rumah:
Bagian C — Tujuan dan Harapan 7. Satu target akademik yang ingin kamu capai semester ini:
- Satu keterampilan non-akademik yang ingin kamu kembangkan semester ini:
- Hal yang paling kamu harapkan dari cara guru mengajar di kelas ini:
Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari
1. Mengumpulkan data lalu tidak menindaklanjuti Ini adalah kesalahan paling fatal. Jika hasilnya hanya disimpan dalam laci, asesmen ini tidak memberi manfaat apa pun. Hasil harus tercermin dalam keputusan pembelajaran — sekecil apa pun perubahannya.
2. Membuat instrumen terlalu panjang Instrumen yang terlalu panjang membuat siswa lelah dan mengisinya asal-asalan. Untuk SD, cukup 5–8 item. Untuk SMP dan SMA, 8–15 item sudah mencukupi untuk mendapatkan gambaran yang memadai.
3. Menggunakan pertanyaan yang terlalu sensitif tanpa pengantar yang tepat Pertanyaan tentang kondisi keluarga atau masalah pribadi perlu disampaikan dengan sangat hati-hati. Selalu awali dengan pengantar yang menegaskan kerahasiaan dan tidak ada kewajiban menjawab.
4. Menganggap gaya belajar sebagai “label” permanen Hasil asesmen gaya belajar adalah gambaran kecenderungan saat ini, bukan label tetap. Siswa bisa belajar dengan berbagai cara — tujuannya bukan mengotak-ngotakkan, tapi memahami titik masuk yang paling efektif untuk masing-masing siswa.
5. Melakukan asesmen hanya sekali seumur hidup Kondisi siswa berubah. Idealnya, asesmen non-kognitif diulangi di awal setiap semester — terutama komponen kondisi emosional dan motivasi. Gaya belajar dan minat bisa dicek ulang setiap tahun ajaran.
6. Tidak menjaga kerahasiaan data Data asesmen non-kognitif adalah informasi sensitif. Jangan dibagikan ke sembarang pihak, tidak diumumkan di kelas, dan disimpan dengan aman. Kepercayaan siswa adalah fondasi dari keberhasilan asesmen ini.
Pembelajaran Berdiferensiasi Butuh Data yang Tepat
Asesmen diagnostik non-kognitif adalah pintu masuk menuju pembelajaran berdiferensiasi yang bermakna. Tapi merancang diferensiasi yang efektif — dari diferensiasi konten, proses, hingga produk — adalah keterampilan tersendiri yang perlu dilatih.
Dea Learning Center menyelenggarakan pelatihan untuk guru tentang asesmen diagnostik dan pembelajaran berdiferensiasi dalam Kurikulum Merdeka, termasuk bagaimana menggunakan hasil asesmen non-kognitif untuk merancang modul ajar yang benar-benar menjawab kebutuhan siswa yang beragam.
Program tersedia dalam format Webinar, Kelas Intensif, dan In-House Training untuk sekolah. Cek jadwal dan daftarkan diri di dealearningcenter.id atau langsung konsultasikan via WhatsApp.
FAQ
Apa perbedaan asesmen diagnostik non-kognitif dan kognitif? Asesmen diagnostik kognitif mengukur kemampuan dan pengetahuan akademik siswa terhadap materi pelajaran. Asesmen diagnostik non-kognitif mengukur kondisi psikologis, emosi, sosial, gaya belajar, dan minat siswa — aspek yang tidak berhubungan langsung dengan kemampuan intelektual tetapi sangat memengaruhi kesiapan dan efektivitas belajar.
Apakah asesmen diagnostik non-kognitif wajib dilakukan? Dalam Kurikulum Merdeka, asesmen diagnostik — termasuk non-kognitif — merupakan bagian integral dari perencanaan pembelajaran berdiferensiasi. Meskipun tidak ada sanksi formal jika tidak dilakukan, tanpa asesmen ini guru sulit merancang pembelajaran yang benar-benar sesuai kebutuhan siswa.
Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk melaksanakan asesmen diagnostik non-kognitif? Pelaksanaan di kelas membutuhkan sekitar 15–30 menit, tergantung jenjang dan panjang instrumen. Analisis hasilnya membutuhkan 30–60 menit untuk satu kelas, tergantung jumlah siswa dan kedalaman data yang dikumpulkan.
Bisakah asesmen diagnostik non-kognitif dilakukan secara digital? Bisa. Google Form adalah pilihan yang paling praktis dan gratis — hasil langsung terekap otomatis dan mudah dianalisis. Namun untuk SD kelas bawah, instrumen berbasis kertas dengan gambar visual tetap lebih efektif.
Apakah hasil asesmen diagnostik non-kognitif perlu dilaporkan ke orang tua? Tidak harus dilaporkan secara keseluruhan, namun jika ditemukan kondisi yang memerlukan perhatian bersama (misalnya, siswa menunjukkan indikator tekanan emosional yang berat atau kondisi keluarga yang memerlukan dukungan), komunikasi dengan orang tua perlu dilakukan secara personal dan empatik.
Apakah ada format baku instrumen asesmen diagnostik non-kognitif dari Kemendikbud? Tidak ada format yang sepenuhnya baku. Kemendikbud menyediakan panduan dan contoh referensi di Platform Merdeka Mengajar (PMM), namun guru didorong untuk mengembangkan instrumen yang sesuai dengan konteks kelas dan jenjangnya masing-masing.
Artikel ini diterbitkan oleh Dea Learning Center — lembaga pelatihan profesional untuk guru, peneliti, dan tenaga kependidikan. Kami mendampingi pendidik Indonesia dalam merancang asesmen dan pembelajaran yang bermakna, efektif, dan berpusat pada kebutuhan siswa.
