cara menemukan research gap
cara menemukan research gap

Research gap adalah celah dalam pengetahuan yang belum dijawab penelitian sebelumnya, sedangkan novelty adalah kontribusi baru yang Anda tawarkan untuk mengisi celah itu. Cara paling bisa dipertanggungjawabkan untuk menemukannya adalah lewat Systematic Literature Review (SLR): menelusuri literatur dengan kata kunci dan kriteria yang ditetapkan di awal, menyaringnya secara terdokumentasi, lalu menganalisis pola temuan untuk melihat apa yang belum terjawab. Bedanya dengan tinjauan pustaka biasa terletak pada satu hal — setiap keputusan penyaringan bisa ditelusuri ulang oleh orang lain.

Artikel ini membahas jenis-jenis research gap, langkah SLR yang bisa langsung dijalankan, dan cara mengubah gap menjadi rumusan novelty yang bertahan saat diuji.


Beda Research Gap, Novelty, dan Rumusan Masalah

Tiga istilah ini sering dipakai bergantian, padahal fungsinya berbeda dan penguji membedakannya dengan tegas.

Istilah Definisi singkat Sifatnya
Research gap Celah dalam pengetahuan yang belum dijawab penelitian terdahulu Temuan — Anda menemukannya di literatur
Novelty Kontribusi baru yang Anda tawarkan untuk mengisi celah itu Klaim — Anda yang menawarkannya
Rumusan masalah Pertanyaan spesifik yang akan dijawab penelitian Anda Alat — turunan operasional dari keduanya

Alurnya berurutan: gap ditemukan dari literatur → novelty dirumuskan sebagai tawaran → rumusan masalah disusun sebagai pertanyaan kerja.

Kesalahan yang paling sering terjadi adalah membalik urutan ini — merumuskan masalah dulu, lalu mencari-cari gap yang bisa membenarkannya. Hasilnya terbaca sebagai pembenaran, bukan temuan, dan biasanya runtuh di pertanyaan kedua penguji.


Tujuh Jenis Research Gap yang Perlu Anda Kenali

Salah satu kerangka yang banyak dirujuk adalah taksonomi Miles (2017), yang mengembangkan model sebelumnya dari Robinson dkk. (2011) serta Müller-Bloch dan Kranz (2014). Taksonomi ini memuat tujuh jenis celah penelitian.

Jenis gap Wujudnya di literatur Contoh dalam konteks pendidikan
Evidence gap Temuan antarpenelitian saling bertentangan Sebagian studi menemukan gamifikasi meningkatkan motivasi, sebagian lain tidak
Knowledge gap Pengetahuan tentang suatu hal memang belum ada Belum ada studi tentang beban administratif guru pasca-kebijakan tertentu
Practical-knowledge gap Praktik di lapangan berbeda dari yang dianjurkan teori Guru mengaku menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, praktiknya berbeda
Methodological gap Satu metode terlalu dominan sehingga hasilnya bias Seluruh studi memakai survei, tidak ada yang mengamati langsung
Empirical gap Klaim atau proposisi belum diuji secara empiris Model konseptual yang banyak dikutip tapi belum pernah diuji di lapangan
Theoretical gap Teori yang ada tidak cukup menjelaskan fenomena Teori adopsi teknologi kurang menjelaskan penolakan guru senior
Population gap Ada kelompok yang kurang terwakili dalam riset Riset terkonsentrasi di sekolah perkotaan, sekolah daerah 3T minim

Sumber: Miles, D. A. (2017), A Taxonomy of Research Gaps: Identifying and Defining the Seven Research Gaps, Doctoral Student Workshop, Dallas, Texas.

Kegunaan praktis daftar ini: saat memetakan literatur, Anda punya tujuh lensa untuk dipakai bergantian, bukan hanya bertanya “apa yang belum diteliti”. Population gap dan methodological gap termasuk yang paling mudah ditemukan dan paling sering luput dari perhatian mahasiswa.


Kenapa SLR, Bukan Sekadar “Baca Banyak Jurnal”

Tinjauan pustaka biasa dan SLR sama-sama membaca literatur. Perbedaannya ada pada apakah proses pembacaannya bisa dipertanggungjawabkan.

Aspek Tinjauan pustaka biasa Systematic Literature Review
Pemilihan artikel Berdasarkan yang kebetulan ditemukan Kata kunci dan kriteria ditetapkan di awal
Kriteria inklusi/eksklusi Sering tidak dinyatakan Dinyatakan eksplisit dan diterapkan konsisten
Dokumentasi proses Minim Terdokumentasi, umumnya lewat diagram alur PRISMA
Bisa diulang orang lain Tidak Ya
Kekuatan klaim gap Lemah, mudah dipatahkan Kuat, karena punya jejak

Perbedaan ini terasa langsung di ruang sidang. Ketika penguji bertanya “dari mana Anda tahu belum ada yang meneliti ini?”, jawaban “saya sudah cari-cari di Google Scholar” berada di posisi yang sangat berbeda dibanding jawaban yang menyebutkan basis data yang ditelusuri, rentang tahun, kata kunci, dan jumlah artikel yang lolos penyaringan.

Standar pelaporan yang paling luas dipakai untuk ini adalah PRISMA 2020, yang memuat daftar periksa 27 butir beserta diagram alur untuk melaporkan proses penyaringan literatur secara transparan (Page dkk., BMJ, 2021).


Enam Langkah SLR untuk Menemukan Gap

Langkah 1 — Rumuskan pertanyaan review

Pertanyaan review berbeda dari pertanyaan penelitian Anda nanti. Bentuknya kira-kira: “Apa yang sudah diketahui tentang X pada populasi Y dalam periode Z?”

Kerangka PICO (Population, Intervention, Comparison, Outcome) atau turunannya membantu menjaga pertanyaan tetap terkendali.

Langkah 2 — Tetapkan strategi pencarian

Tentukan di awal, dan tulis:

  • Basis data yang akan ditelusuri — Scopus, ScienceDirect, DOAJ, SINTA, Garuda, Google Scholar
  • Kata kunci beserta sinonim dan padanan bahasa Inggris–Indonesia
  • Operator Boolean yang dipakai, misalnya ("teacher professional development" OR "pengembangan keprofesian guru") AND ("rural" OR "3T")
  • Rentang tahun, umumnya lima sampai sepuluh tahun terakhir

Langkah 3 — Tetapkan kriteria inklusi dan eksklusi

Contoh kriteria yang lazim:

  • Inklusi: artikel jurnal peer-reviewed, terbit 2019–2026, teks lengkap tersedia, membahas populasi yang relevan
  • Eksklusi: prosiding tanpa peer review, artikel opini, duplikat, tidak berbahasa Indonesia atau Inggris

Kuncinya: tetapkan sebelum menyaring, bukan sesudah. Kriteria yang disusun belakangan agar cocok dengan artikel yang kebetulan Anda suka adalah bentuk bias yang mudah terlihat.

Langkah 4 — Saring dan dokumentasikan

Penyaringan berjalan tiga lapis: judul → abstrak → teks lengkap. Catat jumlah artikel di setiap lapis dan alasan pengeluarannya. Hasilnya dituangkan dalam diagram alur.

Langkah 5 — Ekstraksi data ke tabel sintesis

Buat satu tabel dengan kolom: penulis dan tahun, tujuan, populasi dan konteks, metode, temuan utama, keterbatasan yang disebutkan. Tabel inilah bahan baku analisis Anda.

Langkah 6 — Analisis pola dan tetapkan gap

Baca tabel secara vertikal per kolom, dengan tujuh lensa gap di tangan:

  • Kolom populasi → adakah kelompok yang absen? (population gap)
  • Kolom metode → adakah pendekatan yang terlalu mendominasi? (methodological gap)
  • Kolom temuan → adakah hasil yang saling bertentangan? (evidence gap)
  • Kolom keterbatasan → adakah kendala yang berulang di banyak studi?

Kolom keterbatasan adalah tambang yang paling sering terlewat. Peneliti sebelumnya sudah menuliskan sendiri kelemahan studi mereka; Anda tinggal membacanya.


Alat Bantu: Mendeley, Publish or Perish, VOSviewer

Tiga perangkat yang lazim dipakai dalam SLR, dan pembagian perannya:

Alat Fungsi utama Dipakai di langkah
Publish or Perish Menarik metadata publikasi dari berbagai basis data sekaligus Langkah 2–3 (pencarian)
Mendeley Mengelola referensi, mendeteksi duplikat, menyusun sitasi otomatis Langkah 3–5 (penyaringan & penulisan)
VOSviewer Memvisualkan jaringan kata kunci, penulis, dan sitasi Langkah 6 (analisis pola)

VOSviewer sangat membantu di tahap analisis: peta jaringan kata kunci memperlihatkan klaster topik yang padat sekaligus area yang jarang terhubung. Area yang renggang di peta itu sering menjadi petunjuk awal adanya celah.

Catatan soal AI: perangkat AI bisa membantu meringkas dan mengelompokkan artikel, tapi jangan pernah menjadikannya sumber klaim gap tanpa verifikasi. Model bahasa dapat menghasilkan referensi yang terdengar meyakinkan namun tidak ada wujudnya. Setiap sitasi wajib Anda buka dan pastikan sendiri.


Mengubah Gap Menjadi Rumusan Novelty

Gap yang sudah ditemukan belum otomatis menjadi novelty. Novelty adalah tawaran Anda, dan bentuknya bisa bermacam-macam:

Bentuk novelty Wujudnya
Konteks baru Menguji hal yang sudah mapan pada populasi atau setting yang belum diteliti
Metode baru Menjawab pertanyaan lama dengan pendekatan yang belum pernah dipakai
Kombinasi variabel baru Menggabungkan variabel yang selama ini diteliti terpisah
Perluasan teori Menerapkan atau memodifikasi teori dari bidang lain
Instrumen baru Mengembangkan dan memvalidasi alat ukur yang belum tersedia
Sintesis Merangkum bukti yang tersebar untuk menghasilkan pemahaman baru

Contoh alurnya:

Gap (population + methodological): Dari 24 artikel tentang kesiapan guru menggunakan AI generatif, 21 di antaranya menggunakan survei kuantitatif, dan seluruhnya dilakukan di sekolah perkotaan.

Novelty: Penelitian ini menggali pengalaman guru SMP di wilayah kabupaten dalam mengadopsi AI generatif melalui pendekatan kualitatif, sehingga menjelaskan alasan di balik pola penerimaan yang selama ini hanya terekam secara angka.

Perhatikan bahwa klaimnya tidak berlebihan. Novelty tidak harus mengubah lanskap keilmuan — cukup menambahkan sesuatu yang belum ada, dengan batas yang jelas.


Cara Menulis Klaim Novelty di Bab 1

Novelty biasanya ditempatkan di akhir latar belakang, sebelum rumusan masalah. Pola empat kalimat yang bekerja dengan baik:

  1. Apa yang sudah diketahui — “Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa…”
  2. Apa yang belum — “Namun, kajian tersebut umumnya terbatas pada…”
  3. Kenapa itu penting — “Padahal, konteks X memiliki karakteristik yang berbeda karena…”
  4. Apa yang Anda tawarkan — “Penelitian ini mengisi celah tersebut dengan…”

Dua hal yang memperkuat paragraf ini:

  • Sebutkan angka konkret dari SLR Anda. “Dari 24 artikel yang lolos penyaringan, hanya 2 yang membahas…” jauh lebih kuat daripada “masih sedikit penelitian yang membahas…”.
  • Sebutkan nama penelitian terdekat, lalu jelaskan bedanya. Menunjukkan Anda tahu persis di mana posisi penelitian Anda berdiri.

Kesalahan yang Membuat Klaim Novelty Runtuh di Sidang

Mengklaim “belum ada yang meneliti” tanpa bukti penelusuran. Klaim absolut ini hampir mustahil dipertahankan. Penguji hanya perlu menyebut satu artikel untuk mematahkannya. Gunakan rumusan yang jujur dan terukur: “belum ditemukan dalam penelusuran pada basis data X untuk periode Y”.

Menyamakan “belum ada di Indonesia” dengan novelty. Perbedaan lokasi baru menjadi novelty kalau Anda bisa menjelaskan kenapa konteks Indonesia menghasilkan dinamika yang berbeda.

Gap ditemukan, tapi rumusan masalah tidak menjawabnya. Ini terjadi ketika gap dirumuskan belakangan sebagai tempelan. Uji sendiri: apakah pertanyaan penelitian Anda benar-benar mengisi celah yang Anda sebutkan?

Mengutip artikel yang tidak pernah dibaca utuh. Berisiko besar saat penguji kebetulan mengenal artikel itu. Untuk artikel yang dijadikan dasar klaim gap, baca lengkap — minimal bagian metode dan keterbatasannya.

Kajian pustaka yang hanya menumpuk ringkasan. Bab 2 yang berisi rangkaian “menurut A… menurut B… menurut C…” tanpa sintesis tidak akan menghasilkan gap apa pun, sebanyak apa pun artikel yang dikutip.


Ingin Menguasai SLR Secara Terstruktur?

Memetakan literatur secara sistematis adalah keterampilan yang bisa dilatih, dan hasilnya berlaku jauh melampaui satu tugas akhir — dari penyusunan proposal hibah sampai penulisan artikel jurnal.

Dea Learning Center menyelenggarakan Pelatihan Penelitian Systematic Literature Review yang membahas SLR dari pencarian literatur hingga penulisan artikel siap submit, sesuai standar PRISMA 2020, dengan praktik langsung menggunakan Mendeley, Publish or Perish, dan VOSviewer. Program berlangsung daring via Zoom dengan kelas konsultasi lanjutan, dan dibimbing Dr. dr. Atien Nur Chamidah, M.Dis.St., praktisi SLR dengan pengalaman pembimbingan mahasiswa S2 dan S3.

Bagi dosen dan peneliti yang tujuan akhirnya bukan tugas akhir melainkan naskah siap terbit, tersedia jalur Pendampingan Privat Penelitian — bimbingan satu lawan satu dengan mentor yang dicarikan sesuai topik dan metode, mendampingi dari penajaman gap sampai proses penerbitan jurnal. Programnya tersedia dalam paket maupun per sesi, mulai dari Rp500.000.


FAQ

Apakah SLR bisa dijadikan skripsi atau tesis, bukan sekadar alat mencari gap? Bisa, dan makin banyak dilakukan. SLR merupakan metode penelitian yang sah dan tidak memerlukan pengumpulan data lapangan. Namun tidak semua program studi menerimanya sebagai bentuk tugas akhir, jadi pastikan dulu ke pembimbing dan pedoman prodi Anda.

Berapa jumlah artikel minimal untuk sebuah SLR? Tidak ada angka baku, dan jumlah bukan ukuran mutu. Yang dinilai adalah ketepatan strategi pencarian dan konsistensi penerapan kriteria. SLR dengan 20 artikel yang tersaring ketat lebih kuat daripada 100 artikel yang dikumpulkan tanpa kriteria jelas.

Apa bedanya SLR dengan meta-analisis? SLR menyintesis temuan secara naratif atau tematik. Meta-analisis melangkah lebih jauh dengan menggabungkan hasil statistik dari beberapa penelitian menjadi satu estimasi efek. Setiap meta-analisis dimulai dari SLR, tetapi tidak setiap SLR berlanjut menjadi meta-analisis.

Apakah wajib memakai diagram PRISMA? Tidak selalu diwajibkan oleh prodi, tetapi sangat dianjurkan. Diagram alur PRISMA membuat proses penyaringan Anda terlihat sekali pandang dan menutup pertanyaan penguji tentang bagaimana artikel dipilih. Banyak jurnal juga mensyaratkannya untuk artikel berbasis review.

Bolehkah memakai AI untuk membantu mencari research gap? Boleh sebagai alat bantu untuk meringkas dan mengelompokkan, tetapi setiap referensi dan klaim wajib diverifikasi langsung ke sumber aslinya. Model bahasa dapat menghasilkan sitasi yang tidak ada wujudnya, dan tanggung jawab atas kesalahan itu tetap ada pada penulis.

Apakah research gap harus selalu berupa hal yang benar-benar belum pernah diteliti? Tidak. Justru sebagian besar gap yang kuat berupa pertentangan temuan, dominasi satu metode, atau populasi yang kurang terwakili — bukan kekosongan total. Kekosongan total pada suatu topik kadang malah menandakan topik itu tidak dianggap penting oleh komunitas ilmiah.


Artikel ini diterbitkan oleh Dea Learning Center — lembaga pelatihan untuk tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan praktisi penelitian di Yogyakarta. Ketentuan metode dan format tugas akhir berbeda di setiap program studi; jadikan pedoman akademik kampus Anda sebagai rujukan utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *