
Dalam beberapa tahun terakhir, konsep deep learning semakin sering dibicarakan dalam dunia pendidikan. Banyak guru mulai menyadari bahwa pembelajaran tidak cukup hanya membuat siswa menghafal materi. Lebih dari itu, siswa perlu diajak berpikir kritis, reflektif, dan mampu menghubungkan konsep antar topik — inilah esensi dari pembelajaran berbasis deep learning.
Namun, pertanyaan yang paling sering muncul adalah: bagaimana cara menerapkannya di kelas secara nyata?
Artikel ini akan memandu Anda langkah demi langkah, mulai dari perencanaan hingga evaluasi pembelajaran berbasis deep learning, agar bisa diterapkan dengan mudah di ruang kelas SMP maupun SMA.
Mengapa Deep Learning Penting untuk Guru di Era Kurikulum Merdeka
Pembelajaran tradisional yang berorientasi pada hasil akhir sering kali hanya menumbuhkan surface learning — siswa paham konsep di permukaan, tapi tidak benar-benar mengerti makna di baliknya.
Sementara itu, deep learning mendorong siswa untuk:
-
Mengaitkan pengetahuan lama dan baru,
-
Menganalisis makna di balik materi,
-
Memecahkan masalah berdasarkan konteks nyata,
-
Serta merefleksikan proses berpikirnya sendiri.
Pendekatan ini sangat sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka, yang menekankan pada penguatan karakter, berpikir kritis, dan kemampuan memecahkan masalah kompleks. Guru bukan lagi pusat pengetahuan, melainkan fasilitator yang menuntun proses berpikir mendalam siswa.
Prinsip Dasar Penerapan Deep Learning dalam Pembelajaran
Sebelum mulai menerapkan deep learning di kelas, guru perlu memahami prinsip dasarnya.
-
Berpusat pada siswa (Student-Centered Learning)
Guru berperan sebagai fasilitator yang menuntun siswa mengeksplorasi pengetahuan, bukan sekadar memberi tahu jawaban. -
Berbasis konteks dan refleksi
Materi pembelajaran harus dikaitkan dengan kehidupan nyata agar siswa mampu menemukan relevansi antara teori dan praktik. -
Mendorong kolaborasi dan diskusi
Deep learning terjadi saat siswa berinteraksi, berdebat, dan berbagi perspektif untuk menemukan makna baru. -
Evaluasi proses, bukan hanya hasil akhir
Penilaian berfokus pada bagaimana siswa memahami konsep dan bagaimana mereka sampai pada kesimpulan, bukan sekadar nilai ujian.
Tahapan Menerapkan Deep Learning dalam Kelas
Setiap guru dapat memulai dari langkah sederhana. Berikut tahapan sistematis yang bisa diterapkan secara bertahap di kelas Anda.
1. Tahap Perencanaan: Merancang RPP Berbasis Deep Learning
Tahap pertama dimulai dari RPP.
Guru perlu merancang RPP yang berorientasi pada kompetensi berpikir tingkat tinggi (HOTS). Tujuannya bukan sekadar siswa tahu apa, tetapi juga mengapa dan bagaimana.
Langkah-langkah kuncinya:
-
Tentukan tujuan pembelajaran yang spesifik, terukur, dan relevan dengan konteks nyata.
-
Gunakan pertanyaan pemantik seperti “Mengapa hal ini penting bagi kehidupan kita?” atau “Bagaimana cara lain untuk memecahkan masalah ini?”.
-
Siapkan aktivitas pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning) atau proyek sederhana (mini project).
Contoh:
Dalam pelajaran IPA, guru bisa memulai dengan pertanyaan, “Bagaimana cara mengurangi sampah plastik di sekolah kita?”. Dari pertanyaan ini, siswa diajak melakukan riset kecil dan membuat solusi kreatif.
2. Tahap Pelaksanaan: Eksplorasi dan Kolaborasi Siswa
Pada tahap pelaksanaan, guru mengajak siswa aktif mengeksplorasi pengetahuan dengan berpikir mendalam.
Guru tidak langsung memberikan jawaban, melainkan memberi stimulus berupa situasi nyata yang mendorong rasa ingin tahu siswa.
Beberapa aktivitas yang bisa digunakan:
-
Diskusi kelompok untuk menganalisis studi kasus.
-
Eksperimen sederhana atau observasi lapangan.
-
Mencari referensi dari berbagai sumber untuk memperkuat argumen.
-
Presentasi ide dan refleksi bersama teman.
Peran guru di sini adalah menjaga arah pembelajaran tetap fokus pada tujuan utama: memahami makna, bukan hanya menyelesaikan tugas.
3. Tahap Refleksi dan Penilaian: Belajar dari Proses
Setelah kegiatan belajar selesai, ajak siswa melakukan refleksi.
Pertanyaan reflektif seperti “Apa hal baru yang kamu pelajari hari ini?” atau “Bagaimana proses berpikir kamu berubah selama kegiatan ini?” akan membantu mereka menyadari cara belajar mereka sendiri.
Untuk penilaian, guru bisa menggunakan:
-
Rubrik penilaian berpikir kritis, yang menilai analisis, kreativitas, dan koneksi antar konsep.
-
Jurnal refleksi siswa, tempat siswa menulis pemikiran dan perasaannya selama belajar.
-
Portofolio tugas, yang menunjukkan perkembangan pemahaman dari waktu ke waktu.
Penilaian semacam ini membantu guru melihat kedalaman pemahaman siswa, bukan hanya angka di lembar nilai.
Baca juga: Contoh Deep Learning untuk SMP dan SMA
Contoh Penerapan Deep Learning di Kelas
Berikut contoh nyata penerapan konsep ini pada pembelajaran IPA SMP.
Topik: Perubahan Iklim dan Dampaknya
Tujuan: Siswa memahami penyebab perubahan iklim dan mengusulkan solusi sederhana di lingkungan sekolah.
Langkahnya:
-
Guru memulai dengan video pendek tentang perubahan iklim.
-
Siswa berdiskusi: faktor apa yang memicu perubahan iklim di sekitar mereka?
-
Setiap kelompok melakukan riset kecil, misalnya observasi penggunaan plastik di kantin sekolah.
-
Siswa merancang kampanye pengurangan plastik dan menyajikan hasilnya.
-
Di akhir, siswa menulis refleksi tentang bagaimana proyek ini mengubah pandangan mereka tentang tanggung jawab lingkungan.
Melalui kegiatan seperti ini, siswa tidak hanya belajar fakta ilmiah, tetapi juga mengalami proses berpikir yang kompleks — ciri khas deep learning.
Tantangan dan Solusi dalam Penerapan Deep Learning
1. Waktu Pembelajaran Terbatas
Gunakan pendekatan integrasi antar mata pelajaran. Misalnya, proyek lingkungan bisa mencakup IPA, Bahasa Indonesia, dan PPKn sekaligus.
2. Siswa Pasif atau Tidak Terbiasa Diskusi
Mulailah dari pertanyaan terbuka dan aktivitas sederhana yang membuat mereka nyaman berbicara.
3. Penilaian Sulit Dilakukan Secara Objektif
Gunakan rubrik penilaian yang jelas dan transparan. Libatkan siswa dalam proses refleksi untuk meningkatkan akurasi dan keadilan.
Mulai dari Langkah Kecil, Dampaknya Besar
Menerapkan deep learning di kelas memang membutuhkan perubahan pola pikir — baik bagi guru maupun siswa. Tapi langkah kecil seperti mengubah cara bertanya, memberi ruang refleksi, dan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata akan membawa dampak besar pada kualitas pembelajaran.
Pembelajaran yang bermakna tidak tercipta dalam semalam. Namun, ketika guru mulai melangkah dengan kesadaran dan strategi yang tepat, hasilnya akan terasa: siswa menjadi lebih kritis, mandiri, dan memahami makna belajar yang sesungguhnya.
Ikuti Pelatihan DEA Learning Center
Ingin tahu cara merancang pembelajaran deep learning yang efektif dari nol?
Ikuti Pelatihan “Strategi Pembelajaran Deep Learning” dari DEA Learning Center.
Pelatihan ini dirancang khusus untuk guru dan dosen yang ingin:
-
Menyusun RPP berbasis deep learning,
-
Mengembangkan kemampuan reflektif siswa,
-
Dan mengoptimalkan hasil belajar dengan pendekatan ilmiah.
Dapatkan e-sertifikat resmi, modul pembelajaran, dan bimbingan langsung dari tim ahli.
👉 Hubungi Admin DEA Sekarang
