
Apa itu model pembelajaran?
Model pembelajaran adalah kerangka utuh yang mengatur seluruh alur satu sesi belajar — dari cara guru membuka, mengorganisasi siswa, sampai menutup dan menilai. Bedanya dengan metode: model punya sintaks, yaitu urutan tahapan baku yang harus dilalui. Metode hanya satu teknik di dalam salah satu tahapan itu.
Contoh yang membuat bedanya jelas: Problem Based Learning adalah model, karena punya lima tahapan tetap dari orientasi masalah sampai evaluasi. Diskusi kelompok bukan model — itu metode, yang bisa dipakai di dalam PBL, PjBL, atau model mana pun.
Urutannya dari yang paling luas ke paling sempit: pendekatan → strategi → model → metode → teknik. Salah menempatkan istilah ini adalah kesalahan paling umum di dokumen perencanaan pembelajaran, dan sering jadi catatan saat supervisi akademik.
Ringkasan cepat: ada 20 model pembelajaran yang lazim dipakai di sekolah Indonesia, dikelompokkan ke dalam empat rumpun: berbasis masalah & proyek, berbasis penyelidikan, berbasis kerja sama, dan berbasis teknologi. Tidak ada satu model terbaik — yang ada adalah model yang cocok dengan tujuan pembelajaran, karakteristik materi, dan kesiapan siswa.
Daftar 20 model pembelajaran dan kapan memakainya
Tabel di bawah adalah ringkasan seluruh model. Penjelasan sintaks dan contoh tiap model ada di bagian setelahnya.
| Model | Inti | Paling cocok untuk | Jenjang |
|---|---|---|---|
| Problem Based Learning (PBL) | Belajar dari masalah nyata tanpa jawaban tunggal | Materi yang butuh penalaran, bukan hafalan | SD tinggi–SMA |
| Project Based Learning (PjBL) | Menghasilkan produk nyata dalam jangka panjang | Materi lintas mapel, kokurikuler | SD–SMK |
| Inquiry Based Learning | Siswa merumuskan pertanyaan lalu mencari jawabannya | IPA, IPS, materi bersifat penemuan | SD–SMA |
| Discovery Learning | Guru menyiapkan data, siswa menemukan konsepnya | Konsep dan rumus yang bisa diturunkan sendiri | SD–SMA |
| Cooperative Learning | Kerja kelompok dengan tanggung jawab individual | Materi yang bisa dipecah jadi bagian | SD–SMA |
| Jigsaw | Tiap siswa jadi ahli satu bagian, lalu saling mengajar | Materi teks panjang dengan banyak subtopik | SD tinggi–SMA |
| STAD | Kelompok heterogen, skor tim dari peningkatan individu | Materi yang butuh latihan berulang | SD–SMP |
| Think Pair Share | Berpikir sendiri → berpasangan → berbagi ke kelas | Sesi singkat, memancing partisipasi | Semua jenjang |
| Numbered Heads Together | Nomor dipanggil acak, semua harus siap menjawab | Mengecek pemahaman merata | SD–SMP |
| Teams Games Tournament | Kompetisi antar tim yang setara kemampuannya | Penguatan materi, review sebelum asesmen | SD–SMP |
| Contextual Teaching and Learning | Materi dikaitkan ke konteks kehidupan siswa | Materi abstrak yang terasa jauh | Semua jenjang |
| Direct Instruction | Modeling → latihan terbimbing → latihan mandiri | Keterampilan prosedural dan materi dasar baru | Semua jenjang |
| Experiential Learning | Alami → refleksi → konsep → terapkan lagi | Praktik, kunjungan lapangan, pengalaman langsung | SD–SMK |
| Case Based Learning | Analisis kasus yang sudah punya konteks lengkap | SMK, materi kejuruan dan sosial | SMP–SMK |
| Design Thinking | Empati → definisi → ide → prototipe → uji | Kokurikuler, proyek berorientasi solusi | SD tinggi–SMA |
| Challenge Based Learning | Berangkat dari tantangan besar di lingkungan siswa | Proyek dengan dampak nyata ke sekolah/kampung | SMP–SMA |
| Role Playing | Siswa memerankan situasi atau tokoh | Sejarah, PPKn, bahasa, keterampilan sosial | SD–SMA |
| Simulasi | Meniru sistem nyata dalam kondisi terkendali | Praktik berisiko atau mahal jika dilakukan sungguhan | SMP–SMK |
| Flipped Classroom | Materi dipelajari di rumah, kelas untuk berlatih | Kelas dengan akses gawai memadai | SMP–SMA |
| Blended Learning | Kombinasi tatap muka dan daring secara terencana | Sekolah dengan LMS aktif | SMP–SMK |
Rumpun 1 — Model berbasis masalah dan proyek
1. Problem Based Learning (PBL)
Siswa dihadapkan pada masalah nyata yang tidak punya satu jawaban benar, lalu menyusun sendiri jalan keluarnya. Guru berperan sebagai fasilitator, bukan sumber jawaban.
Sintaks: orientasi masalah → mengorganisasi siswa untuk belajar → membimbing penyelidikan → mengembangkan dan menyajikan hasil → menganalisis dan mengevaluasi proses.
Contoh: “Kantin sekolah menghasilkan 4 kantong sampah plastik per hari. Rancang cara menguranginya setengah dalam sebulan.” Siswa harus mengukur, menghitung, mewawancarai petugas kantin, lalu mengusulkan solusi yang bisa dijalankan.
Sering gagal karena: masalah yang diberikan sebenarnya sudah punya jawaban tunggal di buku. Kalau masalahnya bisa dijawab dengan mencari satu halaman di buku paket, itu bukan PBL — itu penugasan biasa.
2. Project Based Learning (PjBL)
Berbeda dari PBL, PjBL berorientasi pada produk akhir dan berjalan lebih lama — biasanya 2–6 minggu. Yang dinilai bukan hanya produknya, tapi juga proses perencanaan dan revisinya.
Sintaks: pertanyaan mendasar → menyusun rencana proyek → menyusun jadwal → memonitor kemajuan → menguji hasil → evaluasi pengalaman.
Contoh: kelas 5 membuat buku resep makanan tradisional daerah, lengkap dengan wawancara orang tua, foto proses memasak, dan asal-usul tiap masakan. Produknya dicetak dan diletakkan di perpustakaan sekolah.
Sering gagal karena: jadwal tidak dibuat di awal, sehingga proyek menumpuk di minggu terakhir dan berubah jadi kerja lembur orang tua.
3. Case Based Learning
Mirip PBL, tapi kasusnya sudah lengkap dengan konteks, data, dan tokoh. Siswa tidak mencari masalah — mereka menganalisis situasi yang sudah tergambar dan mengambil keputusan.
Contoh (SMK Akuntansi): sebuah warung kelontong dengan omzet Rp 12 juta per bulan mencatat semuanya di buku tulis dan sering rugi tanpa tahu sebabnya. Siswa menganalisis pencatatannya dan mengusulkan sistem yang lebih baik.
4. Design Thinking
Model yang berangkat dari kebutuhan manusia, bukan dari materi pelajaran. Cocok untuk kegiatan kokurikuler karena mengharuskan siswa keluar mencari data dari orang lain.
Sintaks: empati (wawancara pengguna) → definisikan masalah → ideasi → prototipe → uji coba.
Contoh: siswa mewawancarai petugas kebersihan sekolah tentang keluhan sehari-hari, lalu merancang alat bantu sederhana untuk masalah yang paling sering disebut.
5. Challenge Based Learning
Skala tantangannya lebih besar dari PjBL dan sengaja diarahkan ke dampak nyata di luar kelas. Diawali dari big idea yang luas, dipersempit jadi pertanyaan esensial, lalu jadi tantangan konkret.
Contoh: big idea “air bersih” → pertanyaan esensial “kenapa air di RT kami keruh saat hujan?” → tantangan “buat alat penjernih sederhana dan uji di tiga rumah”.
Rumpun 2 — Model berbasis penyelidikan
6. Inquiry Based Learning
Siswa yang merumuskan pertanyaan penelitiannya sendiri, lalu merancang cara menjawabnya. Tingkat kebebasannya bertingkat: terbimbing (guru memberi pertanyaan dan prosedur), terstruktur (guru memberi pertanyaan, siswa merancang prosedur), dan terbuka (siswa merumuskan keduanya).
Sintaks: orientasi → merumuskan masalah → merumuskan hipotesis → mengumpulkan data → menguji hipotesis → menarik kesimpulan.
Tip: untuk kelas yang belum terbiasa, mulai dari inkuiri terbimbing. Melompat langsung ke inkuiri terbuka biasanya berakhir dengan siswa bingung dan guru mengambil alih.
7. Discovery Learning
Sering tertukar dengan inkuiri. Bedanya: di discovery, guru sudah menyiapkan data atau pengalaman yang mengarah ke satu konsep, dan siswa menemukan konsep itu sendiri. Di inkuiri, siswa juga menentukan apa yang mau dicari.
Contoh: guru memberi siswa lima benda dengan berat dan volume berbeda. Siswa mengukur, membuat tabel, dan menemukan sendiri bahwa massa dibagi volume selalu menghasilkan angka tetap untuk bahan yang sama — yaitu konsep massa jenis.
8. Experiential Learning
Berbasis siklus empat tahap: pengalaman konkret → refleksi → konseptualisasi → penerapan. Kekuatannya ada di tahap refleksi, yang justru paling sering dilewati.
Contoh: setelah kunjungan ke pasar, siswa tidak langsung diberi tugas laporan, tapi diminta menulis tiga hal yang mengejutkan mereka, baru kemudian dihubungkan ke konsep permintaan dan penawaran.
Rumpun 3 — Model berbasis kerja sama
Semua model di rumpun ini punya satu syarat yang membedakannya dari sekadar “kerja kelompok”: ada tanggung jawab individual yang terukur. Kalau nilai kelompok bisa didapat tanpa kontribusi setiap anggota, modelnya belum berjalan.
9. Cooperative Learning (payung)
Kerangka umum dengan lima unsur wajib: saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi tatap muka, keterampilan sosial, dan evaluasi proses kelompok. Model 10–13 di bawah adalah varian spesifiknya.
10. Jigsaw
Materi dipecah jadi beberapa bagian. Tiap anggota kelompok asal mempelajari satu bagian di “kelompok ahli”, lalu kembali dan mengajarkannya ke kelompok asal.
Paling cocok untuk: teks panjang dengan subtopik setara — misalnya empat kerajaan, empat sistem organ, atau empat jenis ekosistem.
Sering gagal karena: bagian materinya tidak setara tingkat kesulitannya, sehingga satu kelompok ahli selesai jauh lebih cepat.
11. STAD (Student Teams Achievement Divisions)
Kelompok dibentuk heterogen. Skor tim dihitung dari peningkatan nilai tiap anggota dibanding nilai dasarnya, bukan dari nilai mutlak. Ini membuat siswa berkemampuan rendah tetap punya kontribusi berarti.
12. Think Pair Share
Model paling ringan dan paling sering berhasil untuk kelas yang pasif. Butuh waktu 5–10 menit dan tidak perlu penataan ulang meja.
Sintaks: guru melempar pertanyaan → siswa berpikir sendiri 1–2 menit → berdiskusi berpasangan 2–3 menit → beberapa pasangan berbagi ke kelas.
13. Numbered Heads Together
Tiap anggota kelompok diberi nomor. Setelah diskusi, guru memanggil satu nomor secara acak untuk menjawab mewakili kelompoknya. Karena tidak ada yang tahu nomor siapa yang dipanggil, semua harus paham.
14. Teams Games Tournament (TGT)
Setelah belajar dalam kelompok heterogen, siswa bertanding di meja turnamen berisi siswa dari kelompok lain dengan kemampuan setara. Skor turnamen dibawa pulang ke kelompok asal.
Rumpun 4 — Model berbasis konteks dan teknologi
15. Contextual Teaching and Learning (CTL)
Menghubungkan materi dengan situasi nyata yang dikenal siswa. Tujuh komponennya: konstruktivisme, menemukan, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi, dan penilaian autentik.
Contoh: konsep perbandingan diajarkan lewat resep masakan yang porsinya harus digandakan untuk acara arisan RT.
16. Direct Instruction
Sering diremehkan, padahal paling efektif untuk keterampilan prosedural dan materi yang benar-benar baru bagi siswa. Kuncinya bukan ceramah, tapi modeling — guru mengerjakan contoh sambil menyuarakan proses berpikirnya.
Sintaks: tujuan dan apersepsi → demonstrasi → latihan terbimbing → umpan balik → latihan mandiri.
17. Role Playing
Siswa memerankan tokoh atau situasi. Nilai belajarnya bukan di peragaan, tapi di diskusi setelahnya — bagian yang paling sering dipotong karena kehabisan waktu.
18. Simulasi
Meniru sistem nyata dalam kondisi aman: simulasi sidang, simulasi pasar, simulasi evakuasi bencana, simulasi transaksi perbankan di SMK.
19. Flipped Classroom
Materi dipelajari mandiri di rumah lewat video atau bacaan; waktu kelas dipakai untuk latihan, diskusi, dan pendampingan. Syarat mutlaknya: akses gawai dan kuota yang merata, ditambah mekanisme pengecekan bahwa materi benar-benar dipelajari.
20. Blended Learning
Kombinasi terencana antara tatap muka dan daring — bukan sekadar mengunggah tugas ke grup WhatsApp. Varian yang paling praktis di sekolah Indonesia adalah station rotation: kelas dibagi jadi beberapa pos, salah satunya pos digital, dan siswa berpindah bergiliran. Model ini juga jadi jalan keluar untuk kelas dengan jumlah perangkat terbatas.
Cara memilih model pembelajaran yang tepat
Pemilihan model bukan soal selera. Empat pertanyaan berikut menyaringnya dengan cepat:
- Tujuan pembelajarannya menuntut level berpikir apa? Kalau targetnya mengingat dan memahami, direct instruction dan model kooperatif sudah cukup. Kalau targetnya menganalisis, mengevaluasi, atau mencipta, pakai PBL, PjBL, atau inkuiri.
- Materinya prosedural atau konseptual? Materi prosedural (cara menghitung, cara mengoperasikan alat) butuh modeling. Materi konseptual butuh penemuan.
- Berapa waktu yang benar-benar tersedia? PjBL yang dipaksa selesai dalam dua jam pelajaran akan berubah jadi tugas prakarya. Kalau waktunya satu pertemuan, pilih model bersintaks pendek seperti Think Pair Share atau discovery.
- Bagaimana kesiapan siswa dan sarananya? Hasil asesmen diagnostik awal semester harusnya jadi dasar di sini, bukan tebakan.
Menentukan model di atas kertas jauh lebih mudah daripada menjalankan sintaksnya sampai tuntas di kelas yang ramai. Kalau sintaks model sering terpotong di tengah, lihat program pelatihan tenaga pendidik di bawah.
Menghubungkan model pembelajaran dengan pembelajaran mendalam
Sejak Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 yang terbit 23 Juli 2025, arah kebijakan pembelajaran nasional bergerak ke pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Perlu ditegaskan sejak awal: pembelajaran mendalam bukan model pembelajaran. Ia adalah pendekatan — payung yang berada di atas model.
Artinya, tidak ada “model pembelajaran deep learning” sebagai model tersendiri. Yang ada adalah model-model di atas yang dijalankan dengan tiga prinsip pembelajaran mendalam:
- Berkesadaran (mindful) — siswa sadar sedang belajar apa dan untuk apa, serta mampu meregulasi dirinya sendiri.
- Bermakna (meaningful) — pengetahuan bisa diterapkan ke situasi nyata, bukan berhenti di lembar kerja.
- Menggembirakan (joyful) — suasana belajar positif, menantang, dan memotivasi. Menggembirakan bukan berarti mudah.
Pengalaman belajarnya dirancang melalui tiga tahap: memahami → mengaplikasi → merefleksi. Model yang dipilih menentukan bagaimana ketiga tahap itu diisi.
| Prinsip | Model yang paling mendukung | Yang harus terlihat di kelas |
|---|---|---|
| Berkesadaran | Inquiry, Experiential, Flipped Classroom | Siswa bisa menjelaskan apa yang sedang ia pelajari dan mengapa |
| Bermakna | PBL, PjBL, CTL, Case Based, Design Thinking | Ada penerapan ke konteks di luar buku pelajaran |
| Menggembirakan | TGT, Role Playing, Simulasi, Jigsaw | Siswa terlibat aktif, tantangannya pas — tidak terlalu mudah atau mustahil |
Pemilihan model juga perlu diarahkan ke 8 Dimensi Profil Lulusan yang ditetapkan Permendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan: keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi. Dimensi kolaborasi paling terlayani model kooperatif; penalaran kritis oleh PBL dan inkuiri; kreativitas oleh PjBL dan design thinking.
Catatan penting soal istilah. Banyak dokumen di internet menyebut “model pembelajaran deep learning” seolah-olah itu model ke-21. Secara regulasi, pembelajaran mendalam berstatus pendekatan, bukan model. Menuliskannya sebagai model di dokumen perencanaan sering jadi temuan saat supervisi.
Kesalahan yang paling sering muncul di dokumen perencanaan
- Menulis metode di kolom model. “Diskusi”, “tanya jawab”, dan “penugasan” adalah metode. Kolom model harus diisi model bersintaks.
- Menulis lebih dari tiga model untuk satu pertemuan. Satu pertemuan realistisnya menjalankan satu model utama. Sisanya metode pendukung.
- Sintaks di dokumen tidak sama dengan yang dijalankan. Kalau dokumen menulis PBL tapi kegiatan intinya guru menjelaskan lalu siswa mengerjakan LKPD, yang berjalan sebenarnya direct instruction.
- Memilih model sebelum menetapkan tujuan pembelajaran. Urutannya selalu tujuan dulu, model belakangan.
Pertanyaan yang sering diajukan
Ada berapa model pembelajaran?
Tidak ada angka resmi yang mengikat. Artikel ini memuat 20 model yang paling lazim dipakai di sekolah Indonesia. Dalam literatur pendidikan, jumlahnya bisa jauh lebih banyak karena banyak varian dari rumpun yang sama — model kooperatif sendiri punya belasan varian.
Apa perbedaan model, metode, dan pendekatan pembelajaran?
Pendekatan adalah cara pandang terhadap proses belajar (misalnya pembelajaran mendalam, saintifik). Model adalah kerangka utuh satu sesi yang punya sintaks tetap (misalnya PBL). Metode adalah teknik di dalam salah satu tahapan model (misalnya diskusi, demonstrasi, tanya jawab).
Model pembelajaran apa yang paling cocok untuk SD?
Untuk kelas rendah, model dengan sintaks pendek dan banyak aktivitas fisik bekerja lebih baik: discovery learning, Think Pair Share, role playing, dan cooperative learning sederhana. PjBL bisa dipakai di kelas tinggi dengan durasi proyek yang dipersingkat menjadi 1–2 minggu.
Apakah satu pertemuan boleh memakai dua model?
Boleh, tapi jarang perlu. Satu model utama dengan beberapa metode pendukung biasanya lebih tuntas daripada dua model yang keduanya tidak selesai sintaksnya.
Apakah pembelajaran mendalam menggantikan model-model ini?
Tidak. Pembelajaran mendalam adalah pendekatan yang menaungi, bukan mengganti. Model yang sama tetap dipakai, hanya dijalankan dengan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan serta diarahkan ke 8 Dimensi Profil Lulusan.
Belajar langsung bersama pendamping
Program DEA Learning Center
Pelatihan Tenaga Pendidik
Untuk guru semua jenjang, tentor, fasilitator pembelajaran, praktisi pendidikan, dan mahasiswa pendidikan. Tiga format, tinggal pilih sesuai waktu yang Anda punya.
| Format | Topik yang paling terkait artikel ini |
|---|---|
| Webinar 3 JP · 2 jam 15 menit In service learning |
Strategi Pengelolaan Pembelajaran yang Aktif dan Bermakna |
| Kelas Intensif 22 JP · 3 sesi + 5 hari praktik 12 JP kelas + 10 JP praktik mandiri |
Deep Learning: Dari Konsep ke Praktik Mengajar |
| Bootcamp 44 JP · 6 sesi + 10 hari praktik 24 JP kelas + 20 JP praktik mandiri |
Praktik Mengajar Interaktif untuk Pembelajaran yang Bermakna · Deep Learning: Dari Konsep ke Praktik Kelas |
Biaya per peserta — makin banyak peserta, makin murah per orang:
| Format | 5 peserta | 10 | 15 | 20 | 25 |
|---|---|---|---|---|---|
| Webinar | 850.000 | 700.000 | 550.000 | 325.000 | 300.000 |
| Kelas Intensif | 2.500.000 | 2.250.000 | 1.750.000 | 1.500.000 | 1.250.000 |
| Bootcamp | 4.000.000 | 3.500.000 | 3.000.000 | 2.500.000 | 2.000.000 |
Berlaku untuk pelatihan daring. Pelatihan luring ada tambahan biaya operasional dan logistik sesuai kota tujuan.
Semua format sudah termasuk:
- Akses softcopy materi seumur hidup
- Pendampingan profesional oleh mentor ahli
- Lebih dari 100 topik yang bisa dikustomisasi sesuai kebutuhan
- Softcopy e-sertifikat
- Akses recording kelas kapan saja, gratis
Untuk sekolah dan lembaga: perhatikan tabel biayanya — harga per peserta turun tajam kalau pesertanya banyak. Webinar untuk 25 guru jatuh di Rp300.000 per orang, sepertiga dari harga kelompok kecil. Kalau yang perlu disamakan pemahamannya satu sekolah, ini jalur yang paling masuk akal. Ada juga program terpisah untuk kepala sekolah dan tenaga kependidikan — lihat di sini — atau konsultasikan kebutuhan sekolah Anda ke 0821-3735-9495.
Langkah berikutnya
Setelah menentukan model, langkah selanjutnya adalah menuangkannya ke dokumen perencanaan. Dua artikel ini melanjutkan pembahasan di sini:
- Komponen RPP pembelajaran mendalam dan cara menyusunnya
- Contoh modul ajar pembelajaran mendalam SD yang bisa langsung dipakai
- Cara menilai pembelajaran mendalam
Ditinjau oleh: Dwi Esti Andriani, Ed.D.
Founder DEA Learning Center. Ed.D. Educational Leadership and Management, University of Western Australia. Dosen dan mantan Kepala Departemen S1 Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri Yogyakarta (2019–2023).
