Struktur modul ajar pembelajaran mendalam SD

Modul ajar pembelajaran mendalam SD memuat empat bagian: identifikasi, desain pembelajaran, pengalaman belajar (memahami – mengaplikasi – merefleksi), dan asesmen. Yang membedakannya dari modul ajar sebelumnya bukan panjangnya, melainkan kegiatan intinya, yang kini disusun sebagai tiga tahap pengalaman belajar dan bukan lagi rangkaian aktivitas lepas.

Halaman ini berisi contoh utuh untuk kelas 1 sampai 6 yang bisa langsung disalin dan diganti konteksnya. Kalau yang Anda cari adalah cara menyusunnya langkah demi langkah, baca panduan menyusun modul ajar pembelajaran mendalam SD.

Bagian Isi Panjang wajar
Identifikasi Identitas, kesiapan siswa (hasil asesmen awal), karakteristik materi, dimensi profil lulusan 1/3 halaman
Desain pembelajaran Capaian, tujuan, topik kontekstual, lintas disiplin, model pembelajaran 1/2 halaman
Pengalaman belajar Kegiatan awal, inti (memahami–mengaplikasi–merefleksi), penutup 1–1,5 halaman
Asesmen Awal, formatif, sumatif, beserta rubrik ringkas 1/2 halaman

Contoh 1 — Kelas 1, Bahasa Indonesia

Materi: mengenal bunyi dan huruf lewat nama benda di sekitar
Alokasi: 1 pertemuan × 2 JP
Model: Discovery Learning sederhana

Identifikasi. Dari 24 siswa: 9 sudah mengenal seluruh huruf, 11 mengenal sebagian, 4 belum. Materi bersifat faktual dan butuh pengulangan menyenangkan. Dimensi yang disasar: komunikasi, kemandirian.

Tujuan pembelajaran. (1) Menyebutkan bunyi awal dari 5 benda di kelas. (2) Mengelompokkan benda berdasarkan bunyi awal yang sama.

Topik kontekstual. Benda-benda yang ada di dalam tas dan kelas siswa sendiri.

Kegiatan awal (10 menit). Guru menyebut “bu-ku” dengan menepuk tangan tiap suku kata. Siswa menirukan dengan nama benda miliknya.

MEMAHAMI (20 menit). Setiap siswa mengeluarkan tiga benda dari tasnya. Guru meminta menyebutkan nama bendanya pelan-pelan sambil mendengarkan bunyi pertamanya. Siswa yang belum mengenal huruf duduk di kelompok depan bersama guru.

MENGAPLIKASI (25 menit). Di lantai ditempel 5 kartu huruf besar. Siswa meletakkan bendanya di bawah kartu huruf yang sesuai bunyi awalnya. Kelas memeriksa bersama; benda yang salah tempat dibahas, bukan langsung dipindahkan guru.

MEREFLEKSI (10 menit). Setiap siswa menyebutkan satu benda baru di rumah yang bunyi awalnya sama dengan namanya sendiri. Guru mencatat siapa yang masih ragu.

Asesmen. Awal: menyebut huruf acak (sudah dilakukan). Formatif: ketepatan meletakkan benda, dicatat dengan ceklis 3 level. Sumatif: menyebut bunyi awal dari 5 gambar benda.

Contoh 2 — Kelas 2, Matematika

Materi: pengukuran panjang dengan satuan tidak baku
Alokasi: 1 pertemuan × 2 JP
Model: Experiential Learning

Tujuan pembelajaran. (1) Mengukur panjang benda menggunakan jengkal dan langkah. (2) Menjelaskan mengapa hasil pengukuran teman bisa berbeda meski bendanya sama.

MEMAHAMI. Siswa mengukur panjang meja dengan jengkal masing-masing dan menuliskan hasilnya di papan. Guru tidak menjelaskan apa pun, hanya menuliskan semua hasil yang berbeda-beda.

MENGAPLIKASI. Berpasangan, siswa mengukur tiga benda lain (papan tulis, pintu, karpet) dan mencatat di tabel. Lalu guru bertanya: “Kalau Ibu mau memesan karpet baru lewat telepon, ukuran siapa yang harus Ibu sebutkan?” Siswa berdiskusi dan menyimpulkan sendiri perlunya satuan yang sama.

MEREFLEKSI. Siswa menggambar satu benda di rumah yang ingin mereka ukur besok, dan menuliskan alat ukur apa yang akan dipakai.

Catatan. Momen kunci pembelajaran ini ada di pertanyaan “ukuran siapa yang harus disebutkan”. Jangan dilewati dengan langsung memberi tahu jawabannya.

Contoh 3 — Kelas 3, Pendidikan Pancasila

Materi: aturan di rumah dan di sekolah
Alokasi: 2 pertemuan × 2 JP
Model: Role Playing + Think Pair Share

Tujuan pembelajaran. (1) Mengidentifikasi aturan yang berlaku di kelasnya. (2) Menjelaskan akibat jika satu aturan tidak dijalankan. (3) Menyusun satu kesepakatan kelas baru bersama teman.

MEMAHAMI. Siswa berpasangan mendaftar aturan yang mereka tahu di kelas, lalu berbagi ke kelas. Guru menuliskan semuanya tanpa menyaring.

MENGAPLIKASI. Kelompok berempat memerankan satu situasi: “bagaimana kalau tidak ada aturan antre cuci tangan?” Setelah peragaan, kelas membahas apa yang terjadi dan siapa yang paling dirugikan. Kelompok lalu menyusun satu usulan kesepakatan kelas.

MEREFLEKSI. Kelas memilih dua kesepakatan untuk benar-benar dijalankan selama dua minggu, ditulis di kertas besar dan ditandatangani semua siswa. Di akhir minggu kedua, kelas mengevaluasi apakah berjalan.

Dimensi yang disasar. Kewargaan, kolaborasi, komunikasi.

Contoh 4 — Kelas 4, IPAS

Materi: perubahan lingkungan di sekitar sekolah
Alokasi: 2 pertemuan × 2 JP
Model: Inquiry Based Learning terbimbing

Identifikasi. 27 siswa; 19 sudah dapat menyebutkan contoh perubahan lingkungan, 8 masih menyamakan “perubahan” dengan “kerusakan”. Materi konseptual. Dimensi: penalaran kritis, kewargaan, kolaborasi.

Tujuan pembelajaran. (1) Membedakan perubahan lingkungan yang menguntungkan dan merugikan. (2) Mengumpulkan bukti perubahan lingkungan di sekitar sekolah. (3) Mengusulkan satu tindakan yang bisa dilakukan siswa.

MEMAHAMI (pertemuan 1). Guru menunjukkan dua foto lokasi yang sama di dekat sekolah dengan jarak waktu beberapa tahun (minta dari warga atau arsip sekolah). Siswa berpasangan menuliskan apa saja yang berubah dan menebak penyebabnya. Guru mencatat semua dugaan sebagai hipotesis, tanpa membenarkan atau menyalahkan.

MENGAPLIKASI (pertemuan 2). Kelompok berempat berkeliling area sekolah dengan lembar pengamatan: tempat yang dulunya rindang, saluran air, tumpukan sampah, tanaman yang mati. Mereka memotret atau menggambar, lalu mencocokkan temuan dengan hipotesis di pertemuan sebelumnya — mana yang terbukti, mana yang keliru.

MEREFLEKSI. Setiap kelompok menuliskan: satu dugaan kami yang ternyata salah, satu bukti yang paling mengejutkan, dan satu tindakan yang bisa kami lakukan minggu ini. Usulan yang paling mungkin dijalankan dibawa ke kepala sekolah.

Asesmen. Formatif: lembar pengamatan kelompok (rubrik: kelengkapan data, ketepatan menghubungkan bukti dengan dugaan). Sumatif: poster satu halaman berisi temuan dan usulan.

Contoh 5 — Kelas 5, Matematika

Materi: operasi pecahan dalam konteks resep masakan
Alokasi: 2 pertemuan × 2 JP
Model: Contextual Teaching and Learning

Tujuan pembelajaran. (1) Menjumlahkan dan mengurangkan pecahan berpenyebut berbeda. (2) Menggunakan operasi pecahan untuk menggandakan resep.

MEMAHAMI. Siswa membawa satu resep dari rumah (boleh ditulis tangan hasil bertanya ke orang tua). Guru meminta menandai semua takaran yang berbentuk pecahan. Kelas mendaftar berapa banyak penyebut berbeda yang muncul.

MENGAPLIKASI. Tantangan: “Resep ini untuk 4 orang. Buat versi untuk 10 orang.” Siswa menghitung ulang seluruh takaran. Kelompok saling memeriksa hasil hitungan teman dan menandai bagian yang berbeda.

MEREFLEKSI. Siswa menuliskan: langkah mana yang paling sulit dan mengapa; cara apa yang mereka temukan untuk mempercepat menyamakan penyebut.

Kemitraan. Orang tua dilibatkan lewat permintaan resep. Ini juga membuat konteksnya benar-benar milik siswa, bukan contoh dari buku.

Contoh 6 — Kelas 6, Bahasa Indonesia

Materi: teks persuasi — kampanye untuk lingkungan sekolah
Alokasi: 3 pertemuan × 2 JP
Model: Project Based Learning

Tujuan pembelajaran. (1) Mengidentifikasi ciri teks persuasi. (2) Menyusun teks persuasi berdasarkan data nyata. (3) Menyampaikan kampanye ke audiens sungguhan.

MEMAHAMI (pertemuan 1). Siswa membandingkan dua poster: satu berisi ajakan tanpa alasan, satu berisi ajakan dengan data. Mereka menyimpulkan sendiri apa yang membuat satu poster lebih meyakinkan.

MENGAPLIKASI (pertemuan 2–3). Kelompok memilih satu masalah nyata di sekolah, mengumpulkan datanya (hitung, foto, wawancara), lalu menyusun poster dan naskah kampanye 2 menit. Kampanye disampaikan di depan kelas lain atau saat upacara.

MEREFLEKSI. Setelah kampanye, kelompok mencatat reaksi audiens dan menuliskan satu hal yang akan mereka ubah kalau mengulang. Guru menilai revisinya, bukan hanya hasil akhirnya.

Catatan. Audiens sungguhan adalah yang membuat proyek ini bermakna. Kalau kampanye hanya dipresentasikan ke guru, tahap mengaplikasi kehilangan intinya.

Yang membuat contoh ini “mendalam” dan bukan sekadar aktivitas

Tiga penanda ini bisa dipakai untuk memeriksa modul ajar buatan sendiri:

  1. Siswa menemukan, bukan diberi tahu. Di contoh kelas 2, guru tidak menjelaskan perlunya satuan baku — siswa menyimpulkannya dari data yang berbeda-beda.
  2. Ada penerapan ke luar lembar kerja. Kelas 4 membawa usulan ke kepala sekolah; kelas 6 berkampanye ke audiens sungguhan.
  3. Refleksi punya waktu sendiri. Bukan ditempel sebagai kalimat penutup, tapi punya alokasi menit dan menghasilkan tulisan yang dibaca guru.

Kalau ketiganya tidak ada, yang tersusun kemungkinan besar masih modul ajar biasa dengan istilah baru.

Kesalahan umum saat menyalin contoh modul ajar

  • Konteks tidak diganti. Contoh “perubahan lingkungan sekitar sekolah” tidak berguna kalau fotonya tetap foto dari internet, bukan dari lingkungan sekolah sendiri.
  • Bagian kesiapan siswa disalin apa adanya. Angka sebaran kemampuan pada contoh di atas adalah ilustrasi. Ganti dengan hasil asesmen awal kelas Anda.
  • Semua dimensi profil lulusan dicentang. Pilih satu sampai tiga yang benar-benar terlihat di aktivitasnya.
  • Rubrik asesmen tidak ikut disesuaikan. Kalau aktivitasnya diubah, kriteria penilaiannya harus ikut berubah.

Menyalin contoh membantu untuk memulai, tapi yang menentukan adalah kemampuan menyusun sendiri saat materinya berbeda. Kalau ingin bisa menyusun dari nol tanpa mencari contoh lagi, ada kelas praktik menyusun modul ajar di bawah.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa bedanya modul ajar deep learning dengan modul ajar Kurikulum Merdeka?

Perbedaan utamanya ada di kegiatan inti. Modul ajar Kurikulum Merdeka menyusunnya lewat pemahaman bermakna dan pertanyaan pemantik; modul ajar pembelajaran mendalam menyusunnya lewat tiga tahap memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Sasaran karakternya juga berubah dari Profil Pelajar Pancasila (6 dimensi) menjadi Profil Lulusan (8 dimensi) sesuai Permendikdasmen No. 10 Tahun 2025.

Apakah semua mata pelajaran SD harus memakai format ini?

Kerangka pembelajaran mendalam berlaku sebagai pendekatan lintas mata pelajaran. Penerapannya bertahap sejak tahun ajaran 2025/2026, dimulai dari kelas 5 untuk jenjang SD. Untuk ketentuan teknis di daerah masing-masing, konfirmasi ke dinas pendidikan setempat.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyusun satu modul ajar?

Bervariasi, tetapi bagian yang paling memakan waktu bukan penulisannya — melainkan mengumpulkan konteks lokal (foto lingkungan, data sekolah, narasumber). Menyiapkan konteks di awal semester untuk beberapa topik sekaligus jauh lebih hemat daripada mencarinya per pertemuan.

Apakah modul ajar boleh dipakai untuk beberapa pertemuan sekaligus?

Boleh, dan seringkali justru lebih baik. Tahap mengaplikasi dan merefleksi butuh ruang; memaksakan ketiganya selesai dalam satu pertemuan biasanya berakhir dengan refleksi yang dipotong.

Belajar langsung bersama pendamping

Program DEA Learning Center

Pelatihan Tenaga Pendidik

Untuk guru semua jenjang, tentor, fasilitator pembelajaran, praktisi pendidikan, dan mahasiswa pendidikan. Tiga format, tinggal pilih sesuai waktu yang Anda punya.

Format Topik yang paling terkait artikel ini
Webinar
3 JP · 2 jam 15 menit
In service learning
Optimalisasi Modul Ajar dalam Implementasi Deep Learning · Kreativitas Guru dalam Pembelajaran PAUD
Kelas Intensif
22 JP · 3 sesi + 5 hari praktik
12 JP kelas + 10 JP praktik mandiri
Praktik Menyusun Modul Ajar yang Praktis dengan AI · Membuat Bahan Ajar Digital yang Menarik dan Siap Pakai
Bootcamp
44 JP · 6 sesi + 10 hari praktik
24 JP kelas + 20 JP praktik mandiri
Mengembangkan Modul Ajar Kontekstual Berbasis AI · Pengelolaan Pembelajaran PAUD dan Kreativitas Berbasis Loose Parts

Biaya per peserta — makin banyak peserta, makin murah per orang:

Format 5 peserta 10 15 20 25
Webinar 850.000 700.000 550.000 325.000 300.000
Kelas Intensif 2.500.000 2.250.000 1.750.000 1.500.000 1.250.000
Bootcamp 4.000.000 3.500.000 3.000.000 2.500.000 2.000.000

Berlaku untuk pelatihan daring. Pelatihan luring ada tambahan biaya operasional dan logistik sesuai kota tujuan.

Semua format sudah termasuk:

  • Akses softcopy materi seumur hidup
  • Pendampingan profesional oleh mentor ahli
  • Lebih dari 100 topik yang bisa dikustomisasi sesuai kebutuhan
  • Softcopy e-sertifikat
  • Akses recording kelas kapan saja, gratis

Lihat Program & Daftar
Konsultasi Sekarang

Untuk sekolah dan lembaga: perhatikan tabel biayanya — harga per peserta turun tajam kalau pesertanya banyak. Webinar untuk 25 guru jatuh di Rp300.000 per orang, sepertiga dari harga kelompok kecil. Kalau yang perlu disamakan pemahamannya satu sekolah, ini jalur yang paling masuk akal. Ada juga program terpisah untuk kepala sekolah dan tenaga kependidikan — lihat di sini — atau konsultasikan kebutuhan sekolah Anda ke 0821-3735-9495.

Contoh untuk jenjang lain

Ditinjau oleh: Dwi Esti Andriani, Ed.D.

Founder DEA Learning Center. Ed.D. Educational Leadership and Management, University of Western Australia. Dosen dan mantan Kepala Departemen S1 Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri Yogyakarta (2019–2023).

1 Comment

  1. saya ingin belajar mendalam tentang deep laerning

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *