
Mengadopsi pendekatan deep learning (pembelajaran mendalam) dalam Kurikulum Merdeka membutuhkan perangkat ajar yang terstruktur dan berpusat pada nalar kritis siswa. Untuk mencapai hal tersebut, terdapat 7 komponen RPP deep learning atau Modul Ajar yang wajib ada di dalam kerangka Anda. Ketujuh komponen esensial ini meliputi: 1) Tujuan Pembelajaran Berbasis Kompetensi, 2) Asesmen Awal (Diagnostik), 3) Pemahaman Bermakna, 4) Pertanyaan Pemantik, 5) Skenario Kegiatan Berdiferensiasi, 6) Asesmen Formatif Berkelanjutan, dan 7) Lembar Refleksi. Berbeda dengan RPP konvensional yang hanya berfokus pada urutan materi, anatomi RPP deep learning dirancang khusus untuk menjembatani siswa agar tidak sekadar menghafal, melainkan mampu menganalisis, mengevaluasi, dan menerapkan pengetahuan mereka di dunia nyata.
Pergeseran paradigma dari surface learning (pembelajaran dangkal/hafalan) menuju deep learning adalah roh utama dari Kurikulum Merdeka. Namun, di lapangan, masih banyak pendidik yang kebingungan membedah anatomi perangkat ajar ini. Seringkali, dokumen yang diberi judul “Modul Ajar Kurikulum Merdeka” isinya masih berupa instruksi satu arah yang kaku seperti Kurikulum 2013.
Agar Anda tidak salah langkah, mari kita bedah satu per satu anatomi dan komponen RPP deep learning ini secara mendalam, lengkap dengan contoh penerapannya di dalam kelas.
1. Tujuan Pembelajaran Berbasis Kompetensi
Dalam deep learning, tujuan pembelajaran tidak lagi ditulis dengan format “Siswa dapat menyebutkan…”. Kata “menyebutkan” hanya menstimulasi level kognitif terendah (C1 – Mengingat).
-
Penerapan dalam RPP: Gunakan Kata Kerja Operasional (KKO) tingkat tinggi seperti menganalisis, merancang, memecahkan masalah, atau mengevaluasi.
-
Contoh: Alih-alih “Siswa dapat menyebutkan ciri-ciri makhluk hidup”, ubah menjadi “Siswa mampu menganalisis mengapa tumbuhan di tempat gelap tumbuh lebih tinggi namun berwarna pucat dibandingkan tumbuhan di tempat terang.”
2. Asesmen Awal (Diagnostik)
Deep learning tidak bisa terjadi jika guru tidak mengetahui titik start atau kemampuan awal masing-masing siswanya. Asesmen awal wajib dilakukan sebelum materi inti dimulai.
-
Penerapan dalam RPP: Komponen ini memuat instrumen sederhana untuk memetakan gaya belajar (kognitif/non-kognitif) dan kesiapan belajar (readiness).
-
Contoh: Memberikan kuis singkat berisi 3 pertanyaan mendasar, atau sekadar menanyakan, “Siapa di sini yang pernah melihat proses daur ulang sampah secara langsung?” untuk memetakan siapa yang sudah punya pengalaman nyata.
3. Pemahaman Bermakna (Meaningful Understanding)
Inilah jantung dari deep learning. Pemahaman bermakna adalah jawaban dari pertanyaan abadi siswa: “Bu Guru, untuk apa sih kita capek-capek belajar materi ini?”
-
Penerapan dalam RPP: Tuliskan satu atau dua kalimat yang menjelaskan manfaat filosofis atau praktis dari materi yang diajarkan untuk kehidupan siswa kelak.
-
Contoh (Mata Pelajaran Matematika – Peluang): “Dengan memahami konsep peluang, peserta didik dapat membuat keputusan yang lebih rasional saat menghadapi ketidakpastian, seperti memprediksi cuaca sebelum bepergian atau menghitung risiko kerugian saat berwirausaha.”
4. Pertanyaan Pemantik (Essential Questions)
Jika pemahaman bermakna adalah tujuannya, maka pertanyaan pemantik adalah kailnya. Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban pasti “Ya” atau “Tidak”, melainkan memancing perdebatan, rasa penasaran, dan inkuiri.
-
Penerapan dalam RPP: Letakkan pertanyaan ini di bagian pendahuluan (apersepsi) sebelum masuk ke materi inti.
-
Contoh (Mata Pelajaran Sejarah): “Menurut kalian, apakah penjajahan di masa lalu membawa dampak positif bagi pembangunan infrastruktur kita saat ini, atau justru murni sebuah kerugian? Mengapa?”
5. Skenario Kegiatan Berdiferensiasi
Karena asesmen awal (poin 2) menunjukkan bahwa siswa memiliki kemampuan yang berbeda, maka langkah pembelajarannya pun harus berdiferensiasi. Ini adalah ciri khas RPP deep learning yang sangat memanusiakan siswa.
-
Penerapan dalam RPP: Guru membagi skenario ke dalam tiga aspek: Diferensiasi Konten (materi), Diferensiasi Proses (cara belajar), atau Diferensiasi Produk (hasil karya).
-
Contoh: Untuk siswa visual, guru menyediakan infografis. Untuk siswa auditori, guru menyediakan podcast atau video. Saat pengumpulan tugas, siswa dibebaskan memilih: membuat esai tertulis, rekaman suara, atau poster digital.
6. Asesmen Formatif yang Berkelanjutan
Deep learning mementingkan proses, bukan sekadar hasil akhir saat Ujian Tengah Semester (Sumatif). Asesmen formatif adalah penilaian yang dilakukan selama proses belajar mengajar berlangsung untuk memberikan umpan balik langsung.
-
Penerapan dalam RPP: Komponen ini bisa berupa rubrik observasi saat siswa berdiskusi kelompok, lembar peer-assessment (menilai teman sejawat), atau kuis interaktif menggunakan aplikasi. Tujuannya adalah memperbaiki cara mengajar guru pada pertemuan berikutnya, bukan sekadar memberi nilai angka di rapor.
7. Lembar Refleksi (Guru dan Peserta Didik)
Komponen terakhir yang sering terlupakan adalah refleksi. RPP deep learning wajib ditutup dengan evaluasi diri.
-
Penerapan dalam RPP: Sediakan lembar centang atau pertanyaan terbuka di akhir modul.
-
Contoh untuk Siswa: “Bagian mana dari pelajaran hari ini yang paling mengejutkanmu? Apa yang masih membuatmu bingung?”
-
Contoh untuk Guru: “Apakah instruksi saya terlalu cepat? Apakah ada kelompok yang mendominasi diskusi hari ini?”
Kesulitan Merangkai RPP Deep Learning secara Mandiri?
Menyusun ketujuh komponen RPP deep learning di atas memang menuntut perubahan mindset dan waktu yang tidak sedikit. Seringkali, guru sudah paham teorinya, namun kebingungan saat harus menuangkannya ke dalam dokumen KOSP (Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan) atau saat menyusun strategi asesmennya di kelas.
Daripada menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk trial and error, pastikan sekolah Anda mendapatkan pendampingan teknis langsung dari ahlinya!
Dea Learning Center menyediakan program bimbingan teknis intensif untuk sekolah Anda:
🎯 Pelatihan Implementasi Kurikulum Merdeka: Praktik Penyusunan Strategi Pembelajaran dan Asesmen
Melalui program ini, guru-guru akan dilatih secara hands-on (praktik langsung) untuk meramu anatomi RPP yang memfasilitasi nalar kritis, selaras dengan karakteristik KOSP sekolah, dan pastinya efisien secara administrasi.
👉 Mari transformasikan kelas Anda sekarang juga. Klik di sini untuk mendaftar dan konsultasi program bimbingan teknis bersama kami!
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan Terkait RPP Kurikulum Merdeka)
1. Apakah ketujuh komponen ini harus ada dalam format RPP 1 Lembar? Jika menggunakan format RPP yang sangat ringkas, beberapa komponen (seperti pemahaman bermakna dan pertanyaan pemantik) bisa digabungkan ke dalam deskripsi langkah pendahuluan. Namun, jika Anda menyusun Modul Ajar penuh, ketujuhnya wajib dijabarkan secara terpisah dan detail.
2. Apakah asesmen awal harus dilakukan di setiap kali tatap muka? Tidak. Asesmen diagnostik awal cukup dilakukan di awal semester (untuk non-kognitif) atau di awal bab/materi baru (untuk kognitif) agar guru tahu titik awal pemahaman siswa mengenai topik tersebut.
3. Apa bedanya Diferensiasi Produk dan Diferensiasi Proses? Diferensiasi proses berkaitan dengan cara siswa memahami materi (misalnya: membaca buku sendiri vs dijelaskan oleh tutor sebaya). Sedangkan diferensiasi produk berkaitan dengan bukti yang dihasilkan siswa di akhir pelajaran (misalnya: mengumpulkan tugas berupa video vs makalah tertulis).
📌 Daftarkan diri Anda sekarang di DEA Learning Center dan wujudkan tata kelola sekolah yang lebih profesional, transparan, dan berkelanjutan.
