
Apa itu RPP pembelajaran mendalam?
RPP pembelajaran mendalam adalah dokumen perencanaan satu atau beberapa pertemuan yang dirancang agar siswa tidak berhenti di menghafal, melainkan memahami konsep secara utuh, menerapkannya di situasi nyata, lalu merefleksikannya. Istilah resminya tetap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP); yang berubah adalah kerangka isinya, mengikuti pendekatan pembelajaran mendalam.
Di lapangan, dokumen ini juga sering disebut RPM (Rencana Pembelajaran Mendalam) atau “modul ajar deep learning”. Ketiganya merujuk ke benda yang sama. Istilah yang dipakai dalam regulasi adalah RPP.
Jawaban singkat untuk yang buru-buru. RPP pembelajaran mendalam memuat empat kelompok komponen: identifikasi (kesiapan siswa, karakteristik materi, dimensi profil lulusan), desain pembelajaran (capaian, tujuan, topik, kerangka), pengalaman belajar (memahami – mengaplikasi – merefleksi), dan asesmen (awal, formatif, sumatif). Tidak ada ketentuan jumlah halaman — dokumen ringkas yang benar-benar dipakai lebih baik daripada dokumen tebal yang hanya diarsipkan.
Dasar hukum: empat peraturan yang perlu diketahui
Kebingungan soal format RPP sekarang berakar pada satu hal — aturannya memang baru berubah, dan berubah lewat beberapa peraturan sekaligus, bukan satu.
| Peraturan | Mengatur | Yang perlu diambil untuk RPP |
|---|---|---|
| Permendikdasmen No. 10 Tahun 2025 | Standar Kompetensi Lulusan | 8 Dimensi Profil Lulusan — inilah yang dicantumkan di bagian identifikasi |
| Permendikdasmen No. 12 Tahun 2025 | Standar Isi | Capaian pembelajaran per fase |
| Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 | Arah kebijakan pembelajaran mendalam (terbit 23 Juli 2025) | Prinsip berkesadaran, bermakna, menggembirakan |
| Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 | Standar Proses — berlaku 5 Januari 2026 | Perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian proses pembelajaran |
Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 menggantikan Permendikbudristek No. 16 Tahun 2022. Ini alasan kenapa contoh RPP yang beredar dari tahun 2023–2024 sudah tidak lagi sepenuhnya sesuai: acuannya sudah dicabut.
Satu hal yang perlu diluruskan: pembelajaran mendalam bukan kurikulum baru. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyebutnya sebagai rangkaian terpadu dari beberapa peraturan dengan pendekatan integratif. Kurikulum Merdeka tidak dihapus — pembelajaran mendalam adalah cara menjalankannya.
Komponen RPP pembelajaran mendalam
Empat kelompok komponen di bawah adalah kerangka yang dipakai sebagian besar satuan pendidikan. Formatnya fleksibel; yang tidak boleh hilang adalah isinya.
Kelompok 1 — Identifikasi
Bagian yang paling sering dikerjakan asal-asalan, padahal inilah yang membuat RPP kontekstual dan bukan salinan.
- Identitas — satuan pendidikan, mata pelajaran, fase/kelas, alokasi waktu, penyusun.
- Kesiapan peserta didik — hasil asesmen awal, bukan asumsi. Contoh isian yang benar: “Dari 28 siswa, 6 belum lancar membaca teks 2 paragraf; 9 sudah bisa menyimpulkan isi bacaan.”
- Karakteristik materi — apakah materinya prosedural, konseptual, atau faktual. Ini yang menentukan model pembelajaran.
- Dimensi Profil Lulusan yang disasar — pilih 1–3 dari delapan dimensi, jangan semuanya.
Kedelapan Dimensi Profil Lulusan menurut Permendikdasmen No. 10 Tahun 2025: keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
Kelompok 2 — Desain pembelajaran
- Capaian pembelajaran (CP) — disalin dari dokumen CP fase yang berlaku.
- Tujuan pembelajaran — diturunkan dari CP, terukur, dan menyebut level berpikir yang jelas.
- Topik kontekstual — materi diikat ke konteks yang dikenal siswa. Materi yang sama bisa berbeda topiknya antara sekolah pesisir dan sekolah pegunungan.
- Lintas disiplin — kaitan dengan mata pelajaran lain, kalau ada.
- Kerangka pembelajaran — praktik pedagogis (model yang dipakai), kemitraan (orang tua, komunitas, narasumber), lingkungan belajar, dan pemanfaatan teknologi digital.
Kelompok 3 — Pengalaman belajar
Inilah perbedaan paling nyata dengan RPP lama. Kegiatan inti tidak lagi disusun sebagai “eksplorasi–elaborasi–konfirmasi” atau sekadar urutan aktivitas, melainkan tiga tahap pengalaman belajar:
| Tahap | Yang terjadi | Contoh aktivitas |
|---|---|---|
| Memahami | Siswa membangun kesadaran akan tujuan dan mengonstruksi pengetahuan dari berbagai sumber | Mengamati fenomena, menggali pertanyaan, membandingkan dua sumber bacaan |
| Mengaplikasi | Siswa menerapkan pengetahuan secara kontekstual — memecahkan masalah, mengambil keputusan, mencipta | Menyelesaikan kasus nyata, membuat produk, merancang solusi |
| Merefleksi | Siswa memaknai hasil dan mengatur proses belajarnya sendiri | Jurnal belajar, umpan balik antarteman, menyusun target berikutnya |
Ketiganya tetap dibungkus kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Yang berubah adalah isi kegiatan intinya.
Kelompok 4 — Asesmen
- Asesmen awal (diagnostik) — dilakukan sebelum pembelajaran untuk memetakan kesiapan. Hasilnya harus benar-benar dipakai di kolom “kesiapan peserta didik”, bukan diarsipkan.
- Asesmen formatif — selama proses, fungsinya memberi umpan balik, bukan mengumpulkan nilai.
- Asesmen sumatif — di akhir, mengukur ketercapaian tujuan.
Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 menegaskan penilaian proses harus mengukur ketercapaian secara menyeluruh dan tidak hanya berbasis tes.
Kerangka pembelajaran: empat hal yang sering dikosongkan
Bagian “kerangka pembelajaran” di kelompok desain adalah yang paling sering diisi seadanya, padahal justru di sinilah pembelajaran mendalam dibedakan dari pembelajaran biasa. Empat unsurnya:
Praktik pedagogis
Model pembelajaran yang dipilih beserta alasannya. Bukan sekadar menulis “Problem Based Learning”, tapi menyebutkan mengapa model itu yang cocok untuk materi dan kesiapan siswa yang sudah dipetakan di bagian identifikasi. Kalau materinya prosedural dan siswa belum pernah menyentuhnya, direct instruction justru lebih tepat daripada inkuiri.
Kemitraan pembelajaran
Siapa di luar guru yang terlibat: orang tua, komunitas, dunia usaha, atau warga sekitar. Ini unsur baru yang paling sering dikosongkan karena dianggap merepotkan. Padahal bentuk paling sederhananya cukup ringan — meminta siswa mewawancarai satu orang di rumah, atau mengundang satu petugas sekolah menjelaskan pekerjaannya selama sepuluh menit.
Lingkungan pembelajaran
Di mana pembelajaran berlangsung dan bagaimana ruangnya diatur. Termasuk lingkungan fisik (kelas, halaman, luar sekolah), lingkungan digital, dan lingkungan sosial-budaya. Menyebut “di kelas” saja tidak salah, tapi menyebut “kelas dengan meja disusun berkelompok empat, lalu berpindah ke halaman belakang” jauh lebih berguna untuk guru yang membacanya besok pagi.
Pemanfaatan teknologi digital
Cukup satu baris jujur. Kalau sekolah hanya punya satu proyektor dan sinyal terbatas, tulis apa adanya beserta cara menyiasatinya — misalnya video diunduh sebelumnya, atau dipakai secara bergiliran per pos. RPP yang menuliskan penggunaan tablet padahal sekolahnya tidak punya tablet hanya akan jadi dokumen fiksi.
Enam langkah menyusun RPP pembelajaran mendalam
- Lakukan asesmen awal, catat sebarannya. Bisa sesederhana lima pertanyaan lisan atau satu tugas singkat. Yang penting hasilnya berupa angka dan kelompok, bukan kesan.
- Tentukan tujuan pembelajaran dari capaian pembelajaran fase. Turunkan menjadi dua sampai tiga tujuan yang terukur. Lebih dari itu untuk satu-dua pertemuan biasanya tidak tuntas.
- Pilih 1–3 Dimensi Profil Lulusan yang benar-benar akan terlihat. Kalau tidak ada aktivitas berkelompok, jangan mencantumkan kolaborasi.
- Cari konteksnya, baru pilih modelnya. Urutan ini penting. Konteks lokal yang kuat sering menentukan model mana yang paling masuk akal, bukan sebaliknya.
- Isi tiga tahap pengalaman belajar, alokasikan waktu untuk refleksi lebih dulu. Cara paling ampuh menjaga refleksi tidak terpotong adalah memesan menitnya sejak awal, bukan menyisakannya di akhir.
- Susun asesmen yang mengukur tujuan, bukan aktivitas. Kalau tujuannya “menganalisis hubungan”, asesmennya tidak boleh sekadar meminta siswa menyebutkan kembali.
Contoh RPP pembelajaran mendalam yang bisa langsung disalin
Contoh berikut sengaja dibuat utuh, bukan potongan, supaya bisa langsung dipakai sebagai kerangka.
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
A. Identifikasi
Satuan Pendidikan: SD Negeri [nama]
Mata Pelajaran: IPAS · Fase C / Kelas 5
Materi: Siklus air dan ketersediaan air bersih
Alokasi Waktu: 2 pertemuan × 2 JP
Kesiapan peserta didik (hasil asesmen awal, 26 siswa): 18 siswa sudah dapat menyebutkan tahapan siklus air; 8 siswa masih tertukar antara evaporasi dan kondensasi. 4 siswa membutuhkan pendampingan membaca diagram.
Karakteristik materi: konseptual dengan komponen prosedural (pengamatan dan pencatatan data). Cocok untuk penemuan, bukan ceramah.
Dimensi Profil Lulusan yang disasar: penalaran kritis, kolaborasi, kewargaan.
B. Desain Pembelajaran
Capaian pembelajaran: peserta didik mendeskripsikan siklus air dan kaitannya dengan ketersediaan air di lingkungan sekitar.
Tujuan pembelajaran:
1. Menjelaskan tahapan siklus air menggunakan diagram buatan sendiri.
2. Menganalisis hubungan antara kondisi lingkungan sekitar sekolah dan ketersediaan air bersih.
3. Merancang satu tindakan nyata untuk menghemat air di rumah atau sekolah.
Topik kontekstual: sumber air yang dipakai warga di sekitar sekolah.
Lintas disiplin: Matematika (membaca dan menyajikan data), Bahasa Indonesia (menyusun laporan).
Kerangka pembelajaran: model Inquiry Based Learning terbimbing · kemitraan dengan petugas kebersihan sekolah dan satu orang tua siswa · pemanfaatan video pendek siklus air.
C. Pengalaman Belajar
Pertemuan 1 — Kegiatan awal (10 menit)
Guru menunjukkan dua botol air: air keran sekolah dan air hujan yang ditampung. Siswa diminta menebak mana yang berasal dari mana dan mengapa. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dengan bahasa siswa.
Kegiatan inti — tahap MEMAHAMI (45 menit)
Siswa mengamati video siklus air, lalu berpasangan menyusun diagram siklus air versi mereka sendiri di kertas. Guru berkeliling dan bertanya “air ini kemudian ke mana?” tanpa memberi jawaban. Empat siswa yang butuh pendampingan bekerja di meja depan bersama guru.
Kegiatan penutup (15 menit)
Dua pasangan menempel diagramnya. Kelas membandingkan dan menandai bagian yang berbeda. Guru tidak mengoreksi, hanya mencatat perbedaan untuk pertemuan berikutnya.
Pertemuan 2 — Kegiatan inti, tahap MENGAPLIKASI (50 menit)
Kelompok berempat menelusuri: dari mana air di sekolah berasal, berapa kira-kira pemakaian per hari, dan di mana ada kebocoran atau pemborosan. Mereka mewawancarai petugas kebersihan, mengukur waktu keran mengalir, dan mencatat temuan di tabel. Tiap kelompok menyusun satu usulan tindakan yang bisa dijalankan minggu itu juga.
Tahap MEREFLEKSI (20 menit)
Setiap siswa menulis di jurnal belajar: (1) satu hal yang tadinya saya kira benar ternyata keliru; (2) satu hal yang akan saya lakukan di rumah mulai besok; (3) satu hal yang masih membingungkan. Guru membaca jurnal dan memakai poin (3) sebagai bahan pertemuan berikutnya.
D. Asesmen
Awal: kuis lisan 5 pertanyaan tentang siklus air (sudah dilakukan, hasil di bagian A).
Formatif: diagram buatan siswa (pertemuan 1) dan tabel temuan kelompok (pertemuan 2), dinilai dengan rubrik 3 level: belum, berkembang, mahir.
Sumatif: laporan singkat satu halaman berisi temuan dan usulan tindakan, disertai diagram siklus air yang sudah diperbaiki.
Contoh di atas berjalan dalam dua pertemuan dan muat dalam dua halaman. Panjangnya wajar untuk dokumen yang benar-benar dibuka guru saat mengajar.
Perbedaan dengan RPP dan modul ajar sebelumnya
| Aspek | Modul ajar Kurikulum Merdeka (2022–2025) | RPP pembelajaran mendalam (2026) |
|---|---|---|
| Acuan | Permendikbudristek No. 16 Tahun 2022 | Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 |
| Sasaran karakter | Profil Pelajar Pancasila (6 dimensi) | Profil Lulusan (8 dimensi) |
| Struktur kegiatan inti | Pemahaman bermakna, pertanyaan pemantik, kegiatan berdiferensiasi | Memahami – mengaplikasi – merefleksi |
| Prinsip yang ditekankan | Berdiferensiasi, berpusat pada murid | Berkesadaran, bermakna, menggembirakan |
| Titik berat asesmen | Diagnostik, formatif, sumatif | Sama, dengan penegasan penilaian proses tidak hanya berbasis tes |
Perlu dicatat, banyak hal yang tidak berubah: asesmen awal, diferensiasi, dan orientasi pada murid tetap relevan. Yang berubah adalah rangka dan istilah, bukan filosofinya.
Lima kesalahan yang paling sering ditemukan saat supervisi
- Kolom “kesiapan peserta didik” diisi kalimat umum. “Siswa memiliki kemampuan beragam” bukan hasil asesmen. Isi dengan angka dan sebaran nyata.
- Tahap merefleksi dipotong karena kehabisan waktu. Tanpa refleksi, yang berjalan bukan pembelajaran mendalam. Kalau waktu mepet, potong tahap memahami — bukan refleksi.
- Delapan dimensi profil lulusan dicentang semua. Satu pertemuan realistisnya menyasar satu sampai tiga dimensi.
- Model pembelajaran ditulis, tapi sintaksnya tidak dijalankan. Dokumen menulis PBL, kegiatan intinya guru menjelaskan lalu siswa mengerjakan LKPD.
- Menyalin RPP dari internet tanpa mengganti konteks. Bagian yang paling ketahuan: topik kontekstual yang tidak ada hubungannya dengan lingkungan sekolah.
Lima kesalahan di atas hampir selalu muncul karena format dipelajari sendiri dari contoh yang beredar, tanpa ada yang mengoreksi. Kalau ingin menyusun RPP sambil didampingi dan langsung dikoreksi, lihat pilihan formatnya di bawah.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah RPP deep learning sama dengan RPM?
Ya, keduanya merujuk dokumen yang sama. RPM adalah singkatan Rencana Pembelajaran Mendalam yang populer di kalangan guru. Istilah yang dipakai dalam Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 adalah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Apakah modul ajar masih berlaku di tahun ajaran 2026/2027?
Istilah modul ajar masih banyak dipakai, dan isinya sebagian besar tetap relevan. Yang perlu disesuaikan adalah kerangka kegiatan inti (menjadi memahami–mengaplikasi–merefleksi) dan sasaran karakternya (menjadi 8 Dimensi Profil Lulusan). Konfirmasi ketentuan spesifik ke dinas pendidikan setempat, karena teknis penerapannya bertahap.
Berapa halaman idealnya RPP pembelajaran mendalam?
Tidak ada ketentuan jumlah halaman dalam regulasi. Untuk satu sampai dua pertemuan, dua sampai tiga halaman biasanya sudah memuat semua komponen tanpa jadi dokumen yang tidak pernah dibuka lagi.
Apakah RPP harus dibuat untuk setiap pertemuan?
Tidak harus. Satu RPP dapat mencakup beberapa pertemuan selama alur memahami–mengaplikasi–merefleksi-nya utuh. Memaksakan satu RPP per pertemuan justru sering memotong tahap refleksi.
Kapan pembelajaran mendalam mulai diterapkan?
Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 terbit 23 Juli 2025 dan penerapannya bertahap mulai tahun ajaran 2025/2026, diawali kelas 5 SD, kelas 7 SMP, dan kelas 10 SMA. Standar Proses yang mengatur perencanaannya, Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026, berlaku sejak 5 Januari 2026.
Belajar langsung bersama pendamping
Program DEA Learning Center
Pelatihan Tenaga Pendidik
Untuk guru semua jenjang, tentor, fasilitator pembelajaran, praktisi pendidikan, dan mahasiswa pendidikan. Tiga format, tinggal pilih sesuai waktu yang Anda punya.
| Format | Topik yang paling terkait artikel ini |
|---|---|
| Webinar 3 JP · 2 jam 15 menit In service learning |
Optimalisasi Modul Ajar dalam Implementasi Deep Learning |
| Kelas Intensif 22 JP · 3 sesi + 5 hari praktik 12 JP kelas + 10 JP praktik mandiri |
Praktik Menyusun Modul Ajar yang Praktis dengan AI · Deep Learning: Dari Konsep ke Praktik Mengajar |
| Bootcamp 44 JP · 6 sesi + 10 hari praktik 24 JP kelas + 20 JP praktik mandiri |
Mengembangkan Modul Ajar Kontekstual Berbasis AI |
Biaya per peserta — makin banyak peserta, makin murah per orang:
| Format | 5 peserta | 10 | 15 | 20 | 25 |
|---|---|---|---|---|---|
| Webinar | 850.000 | 700.000 | 550.000 | 325.000 | 300.000 |
| Kelas Intensif | 2.500.000 | 2.250.000 | 1.750.000 | 1.500.000 | 1.250.000 |
| Bootcamp | 4.000.000 | 3.500.000 | 3.000.000 | 2.500.000 | 2.000.000 |
Berlaku untuk pelatihan daring. Pelatihan luring ada tambahan biaya operasional dan logistik sesuai kota tujuan.
Semua format sudah termasuk:
- Akses softcopy materi seumur hidup
- Pendampingan profesional oleh mentor ahli
- Lebih dari 100 topik yang bisa dikustomisasi sesuai kebutuhan
- Softcopy e-sertifikat
- Akses recording kelas kapan saja, gratis
Untuk sekolah dan lembaga: perhatikan tabel biayanya — harga per peserta turun tajam kalau pesertanya banyak. Webinar untuk 25 guru jatuh di Rp300.000 per orang, sepertiga dari harga kelompok kecil. Kalau yang perlu disamakan pemahamannya satu sekolah, ini jalur yang paling masuk akal. Ada juga program terpisah untuk kepala sekolah dan tenaga kependidikan — lihat di sini — atau konsultasikan kebutuhan sekolah Anda ke 0821-3735-9495.
Langkah berikutnya
- Memilih model pembelajaran yang tepat untuk RPP Anda
- Contoh lengkap untuk jenjang SD
- RPP, modul ajar, dan RPM: mana yang harus dibuat?
Ditinjau oleh: Dwi Esti Andriani, Ed.D.
Founder DEA Learning Center. Ed.D. Educational Leadership and Management, University of Western Australia. Dosen dan mantan Kepala Departemen S1 Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri Yogyakarta (2019–2023).

sangat bermanfaat