Model Pembelajaran
Model Pembelajaran

Guru modern di era Kurikulum Merdeka dituntut tidak hanya mengajar, tetapi juga menuntun siswa agar mampu berpikir kritis dan menemukan makna dari setiap materi. Salah satu pendekatan yang paling relevan untuk mencapai tujuan itu adalah deep learning — pembelajaran mendalam yang berfokus pada pemahaman, refleksi, dan koneksi antar konsep.

Namun, pertanyaan yang sering muncul di kalangan pendidik adalah:

“Model pembelajaran seperti apa yang paling cocok untuk menerapkan konsep deep learning di kelas?”

Artikel ini akan membahas lima model pembelajaran yang paling efektif untuk mendukung pendekatan deep learning, lengkap dengan contoh penerapan nyata yang bisa langsung Anda terapkan di kelas SMP maupun SMA.


Mengapa Pemilihan Model Pembelajaran Itu Penting?

Model pembelajaran berfungsi sebagai kerangka kerja bagi guru dalam merancang kegiatan belajar. Model yang tepat akan membantu:

  • Menumbuhkan keterlibatan aktif siswa,

  • Memunculkan proses berpikir tingkat tinggi (HOTS),

  • Dan memungkinkan refleksi serta transfer pengetahuan.

Tidak semua model pembelajaran bisa mendukung deep learning. Karena itu, guru perlu memahami karakteristik model yang mendorong analisis, sintesis, dan refleksi, bukan sekadar hafalan.


1. Project Based Learning (PjBL)

Karakteristik Utama:

Model ini menempatkan siswa sebagai peneliti kecil yang memecahkan masalah nyata melalui proyek.
Deep learning terbentuk ketika siswa harus berpikir lintas disiplin dan menghubungkan teori dengan praktik.

Langkah Penerapan:

  1. Tentukan masalah kontekstual (misalnya: pengelolaan sampah di sekolah).

  2. Siswa merancang solusi dalam bentuk proyek.

  3. Guru berperan sebagai fasilitator dan pembimbing.

  4. Hasil proyek dipresentasikan dan dievaluasi bersama.

Contoh Penerapan:

Di pelajaran IPA, siswa diminta membuat prototype alat sederhana untuk mendaur ulang limbah organik. Proyek ini menuntut riset, kolaborasi, dan refleksi — inti dari deep learning.

Kelebihan: meningkatkan kreativitas, tanggung jawab, dan pemahaman lintas konsep.
Keterkaitan dengan Deep Learning: siswa belajar how to think, bukan hanya what to know.


2. Problem Based Learning (PBL)

Karakteristik Utama:

Berfokus pada pemecahan masalah kompleks melalui proses berpikir ilmiah.
PBL mendorong siswa untuk bertanya, mencari data, dan membangun kesimpulan secara mandiri.

Langkah Penerapan:

  1. Guru memberikan situasi atau masalah terbuka tanpa jawaban tunggal.

  2. Siswa menganalisis masalah dan mengidentifikasi kebutuhan belajar.

  3. Siswa melakukan riset, diskusi, dan mengembangkan solusi.

  4. Proses berakhir dengan refleksi atas solusi dan proses berpikir.

Contoh Penerapan:

Dalam pelajaran Ekonomi, guru memberi kasus tentang inflasi dan harga kebutuhan pokok.
Siswa diminta menjelaskan faktor penyebab dan dampak sosialnya, lalu mengusulkan kebijakan sederhana yang relevan.

Kelebihan: menumbuhkan kemampuan analisis dan sintesis.
Keterkaitan dengan Deep Learning: siswa mengalami pembelajaran yang menantang intelektual dan kontekstual.


3. Inquiry Based Learning

Karakteristik Utama:

Model ini mengajak siswa menemukan konsep melalui pertanyaan, penyelidikan, dan refleksi mandiri.
Berbeda dengan metode konvensional, inquiry learning tidak memberikan jawaban langsung.

Langkah Penerapan:

  1. Guru memantik rasa ingin tahu dengan pertanyaan terbuka.

  2. Siswa merancang langkah penyelidikan (observasi, eksperimen, wawancara).

  3. Data dianalisis bersama guru.

  4. Siswa menyimpulkan hasil belajar dan menulis refleksi pribadi.

Contoh Penerapan:

Dalam pelajaran IPS, guru bertanya: “Mengapa daerah pesisir memiliki kebiasaan sosial yang berbeda dari daerah pegunungan?”
Siswa mencari data, wawancara penduduk, dan menyusun laporan reflektif.

Kelebihan: melatih berpikir ilmiah dan reflektif.
Keterkaitan dengan Deep Learning: menumbuhkan rasa ingin tahu dan kemandirian intelektual.


4. Cooperative Learning

Karakteristik Utama:

Model ini menekankan kolaborasi antar siswa untuk mencapai tujuan bersama.
Setiap siswa berkontribusi, berdiskusi, dan merefleksikan proses belajar kelompok.

Langkah Penerapan:

  1. Bentuk kelompok kecil (4–5 siswa).

  2. Beri tugas analisis atau studi kasus yang memerlukan diskusi mendalam.

  3. Gunakan metode Think–Pair–Share atau Jigsaw agar semua siswa aktif.

  4. Akhiri dengan refleksi individu dan kelompok.

Contoh Penerapan:

Dalam pelajaran Bahasa Indonesia, siswa bekerja dalam kelompok untuk menganalisis teks argumentatif.
Mereka membedah struktur, isi, dan nilai logisnya, kemudian menulis refleksi pribadi.

Kelebihan: membangun komunikasi dan empati akademik.
Keterkaitan dengan Deep Learning: kolaborasi membantu siswa memahami makna secara sosial dan mendalam.


5. Discovery Learning

Karakteristik Utama:

Menekankan pada proses menemukan pengetahuan sendiri melalui eksplorasi dan eksperimen.
Guru tidak memberikan informasi langsung, melainkan memandu siswa melalui langkah-langkah penemuan.

Langkah Penerapan:

  1. Guru memberi fenomena atau kasus yang menimbulkan rasa ingin tahu.

  2. Siswa mengamati, mengajukan hipotesis, dan melakukan pengujian.

  3. Siswa menarik kesimpulan dari hasil observasi.

  4. Guru membantu mengaitkan hasil dengan teori yang relevan.

Contoh Penerapan:

Dalam pelajaran Fisika, guru memperlihatkan eksperimen sederhana tentang gaya gravitasi menggunakan bola dan papan miring.
Siswa diminta menjelaskan hubungan antara sudut kemiringan dan kecepatan jatuh benda.

Kelebihan: meningkatkan pemahaman konseptual dan kemandirian belajar.
Keterkaitan dengan Deep Learning: siswa belajar dengan cara berpikir dan menemukan makna, bukan sekadar menerima informasi.


Tips Memilih Model Pembelajaran Deep Learning yang Tepat

Tidak ada model tunggal yang paling unggul.
Guru bisa mengombinasikan beberapa model sesuai dengan:

  • Tujuan pembelajaran,

  • Karakteristik siswa,

  • Dan konteks materi.

Misalnya:

  • PjBL untuk proyek lintas mata pelajaran,

  • PBL untuk analisis kasus,

  • Inquiry untuk eksplorasi awal konsep,

  • Cooperative untuk diskusi reflektif,

  • Discovery untuk praktik eksperimen.

Kuncinya: selalu arahkan proses belajar agar siswa berpikir mendalam, reflektif, dan kontekstual.


Kesimpulan

Model pembelajaran yang mendukung deep learning selalu berorientasi pada proses berpikir dan pemaknaan, bukan sekadar pencapaian hasil kognitif.

Dengan menerapkan model seperti Project Based Learning, Problem Based Learning, Inquiry, Cooperative, dan Discovery Learning, guru tidak hanya menciptakan suasana kelas yang aktif, tetapi juga menumbuhkan generasi pembelajar yang kritis, reflektif, dan adaptif terhadap perubahan zaman.


Ikuti Pelatihan “Strategi Pembelajaran Deep Learning” dari DEA Learning Center

Sudah tahu teori deep learning, tapi masih bingung menggabungkannya dengan model pembelajaran di kelas?

Di Pelatihan Strategi Pembelajaran Deep Learning dari DEA Learning Center, Anda akan belajar langsung cara:

  • Menyusun RPP berbasis deep learning,

  • Memilih model pembelajaran yang sesuai,

  • Dan mengevaluasi proses berpikir siswa dengan rubrik reflektif.

Lebih dari 500 guru dan dosen sudah menerapkan hasil pelatihan ini di kelas mereka. Kini giliran Anda.

Daftar sekarang 👉 Hubungi Admin Dea Learning Center

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *