Modul Ajar IPAS SD per Fase + Cara Modifikasi Konteks Lokal
Modul Ajar IPAS SD per Fase + Cara Modifikasi Konteks Lokal

Modul ajar IPAS SD dalam Kurikulum Merdeka dibagi ke dalam tiga fase: Fase A (Kelas 1–2), Fase B (Kelas 3–4), dan Fase C (Kelas 5–6). Masing-masing fase memiliki Capaian Pembelajaran dan topik yang berbeda. Guru tidak wajib menggunakan modul dari Kemendikbud apa adanya — justru memodifikasinya sesuai konteks lokal adalah bagian dari semangat Kurikulum Merdeka itu sendiri.


Apa itu IPAS dan Mengapa Dibagi per Fase?

IPAS — Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial — adalah mata pelajaran baru di jenjang SD yang hadir dalam Kurikulum Merdeka sebagai penyatuan dari IPA dan IPS yang sebelumnya diajarkan terpisah. Penggabungan ini bertujuan membantu siswa memahami hubungan antara fenomena alam dan kehidupan sosial secara holistik, bukan sebagai dua disiplin yang terputus.

Kurikulum Merdeka membagi jenjang SD ke dalam tiga fase berdasarkan tahap perkembangan kognitif dan sosial anak:

Fase Kelas Rentang Usia Fokus Pembelajaran
Fase A 1 dan 2 6–8 tahun Mengenal diri, lingkungan terdekat, dan fenomena sehari-hari
Fase B 3 dan 4 8–10 tahun Memahami hubungan sebab-akibat, mulai berpikir ilmiah sederhana
Fase C 5 dan 6 10–12 tahun Menganalisis sistem, memahami keterkaitan alam-manusia-masyarakat

Pembagian fase ini penting karena satu fase mencakup dua kelas sekaligus. Artinya, Capaian Pembelajaran (CP) dirancang untuk dicapai dalam dua tahun, bukan satu tahun. Guru di kelas 3 dan kelas 4 mengacu pada CP yang sama (Fase B), namun dengan kedalaman dan kompleksitas yang disesuaikan.


Modul Ajar IPAS Fase A — Kelas 1 dan 2

Gambaran Umum Fase A

Di Fase A, pembelajaran IPAS berpusat pada pengalaman langsung siswa dengan lingkungan yang paling dekat — diri sendiri, keluarga, rumah, dan sekolah. Metode yang paling efektif adalah observasi, eksplorasi, dan bercerita. Siswa belum diharapkan menganalisis secara abstrak; yang penting adalah menumbuhkan rasa ingin tahu dan keberanian bertanya.

Capaian Pembelajaran IPAS Fase A mencakup dua elemen utama:

  • Pemahaman IPAS: mengenal anggota tubuh dan fungsinya, makhluk hidup di sekitar, benda dan sifatnya, serta cuaca dan musim
  • Keterampilan Proses: mengamati, mempertanyakan, dan mengomunikasikan pengamatan secara lisan maupun gambar

Topik-Topik Utama IPAS Fase A

  • Tubuhku dan Pancaindraku
  • Tumbuhan dan Hewan di Sekitarku
  • Benda di Sekitarku (sifat dan kegunaannya)
  • Cuaca Hari Ini
  • Keluargaku dan Lingkungan Rumahku
  • Tetangga dan Kehidupan di Sekitar Sekolah

Contoh Struktur Modul Ajar IPAS Fase A

Topik: Tumbuhan di Sekitarku

Informasi Umum

  • Kelas/Fase: Kelas 1 / Fase A
  • Alokasi Waktu: 2 × 35 menit (1 pertemuan)
  • Model: Discovery Learning
  • Profil Pelajar Pancasila: Bernalar Kritis, Mandiri

Tujuan Pembelajaran Melalui pengamatan langsung di lingkungan sekolah, peserta didik mampu menyebutkan minimal 3 bagian tumbuhan (akar, batang, daun) dan menjelaskan satu fungsi masing-masing dengan kata-kata sendiri.

Pertanyaan Pemantik

  • “Kalau tanaman tidak disiram, apa yang terjadi?”
  • “Bagian mana dari tanaman yang kamu suka makan?”
  • “Mengapa daun bisa berwarna hijau?”

Alur Kegiatan

  • Pendahuluan (10 menit): Guru membawa satu tanaman pot ke kelas. Siswa mengamati dan mendeskripsikan apa yang mereka lihat.
  • Inti (50 menit): Siswa keluar ke halaman sekolah (atau kebun sekolah), mengamati 2–3 tanaman berbeda, menggambar dan memberi label bagian-bagiannya.
  • Penutup (10 menit): Siswa menunjukkan gambarnya dan menceritakan temuan mereka.

Asesmen Formatif Guru mengamati apakah siswa bisa menyebutkan 3 bagian tumbuhan dengan benar saat presentasi gambar.


Modul Ajar IPAS Fase B — Kelas 3 dan 4

Gambaran Umum Fase B

Di Fase B, siswa mulai mampu memahami hubungan sebab-akibat dan melakukan penyelidikan sederhana. Mereka juga mulai mengenal lingkungan yang lebih luas — tidak hanya rumah dan sekolah, tapi juga daerah tempat tinggal, kebudayaan setempat, dan sistem alam yang lebih kompleks.

CP IPAS di Fase B disusun agar siswa mampu membangun pemahaman konseptual yang kokoh, mulai dari mengenal makhluk hidup, benda dan sifatnya, energi dan perubahannya, hingga mengenal lingkungan sosial.

Topik-Topik Utama IPAS Fase B

Kelas 3 (pengenalan):

  • Pertumbuhan dan Perkembangan Makhluk Hidup
  • Benda di Sekitar Kita (wujud dan perubahan)
  • Cuaca dan Iklim
  • Kegiatan Manusia dan Lingkungan
  • Keberagaman Makhluk Hidup di Lingkungan Sekitar

Kelas 4 (pendalaman):

  • Tumbuhan sebagai Sumber Kehidupan
  • Hewan dan Manfaatnya
  • Bagaimana Gaya Bekerja?
  • Sumber Daya Alam dan Pemanfaatannya
  • Cerita tentang Daerahku (geografi dan sejarah lokal)
  • Indonesiaku Kaya Budaya

Contoh Struktur Modul Ajar IPAS Fase B

Topik: Sumber Daya Alam di Daerahku (Kelas 4)

Informasi Umum

  • Kelas/Fase: Kelas 4 / Fase B
  • Alokasi Waktu: 3 × 35 menit (dibagi 2 pertemuan)
  • Model: Problem-Based Learning (PBL)
  • Profil Pelajar Pancasila: Bernalar Kritis, Bergotong Royong, Berkebinekaan Global

Pemahaman Bermakna Sumber daya alam yang ada di sekitar kita digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia sehari-hari. Cara kita memanfaatkannya menentukan apakah sumber daya itu akan tetap tersedia untuk anak cucu kita.

Pertanyaan Pemantik

  • “Makanan apa yang kamu makan hari ini, dan dari mana asalnya?”
  • “Apakah pohon-pohon di sekitar sekolah kita termasuk sumber daya alam?”
  • “Apa yang akan terjadi kalau hutan di daerah kita habis ditebang?”

Alur Kegiatan

  • Pertemuan 1 — Eksplorasi: Siswa mengidentifikasi 5 sumber daya alam di daerahnya melalui diskusi kelompok dan gambar/foto. Guru memfasilitasi diskusi tentang cara pemanfaatan dan risiko kerusakan.
  • Pertemuan 2 — Presentasi dan Refleksi: Setiap kelompok mempresentasikan “peta sumber daya alam daerah kami” yang telah dibuat. Kelas mendiskusikan satu langkah nyata menjaga sumber daya tersebut.

Asesmen Rubrik penilaian presentasi kelompok (akurasi informasi, kemampuan menjawab pertanyaan, kerja sama tim)


Modul Ajar IPAS Fase C — Kelas 5 dan 6

Gambaran Umum Fase C

Di Fase C, siswa sudah mampu berpikir lebih sistemik — memahami keterkaitan antar elemen dalam sistem alam maupun sosial. Modul ajar IPAS Fase C dirancang untuk memenuhi kebutuhan siswa abad 21 yang membutuhkan kemampuan yang kuat, kolaboratif, dan kreatif, dengan pendekatan berbasis proyek (Project-Based Learning) dan inkuiri (Inquiry-Based Learning).

Topik-Topik Utama IPAS Fase C

Kelas 5:

  • Sistem Organ Manusia (pernapasan, pencernaan, pertumbuhan)
  • Indonesiaku Kaya Raya (keanekaragaman hayati, SDA)
  • Daerahku Kebanggaanku (budaya, ekonomi, dan potensi daerah)
  • Gaya dan Gerak
  • Ekosistem dan Rantai Makanan

Kelas 6:

  • Magnet dan Kelistrikan
  • Tata Surya dan Bumi
  • Indonesia di Mata Dunia (hubungan antarnegara, warisan budaya)
  • Masa Depan Bumi (perubahan iklim, keberlanjutan lingkungan)
  • Generasi Masa Depan (karier, inovasi, kontribusi)

Contoh Struktur Modul Ajar IPAS Fase C

Topik: Ekosistem dan Rantai Makanan (Kelas 5)

Informasi Umum

  • Kelas/Fase: Kelas 5 / Fase C
  • Alokasi Waktu: 4 × 35 menit (2 pertemuan)
  • Model: Project-Based Learning
  • Profil Pelajar Pancasila: Bernalar Kritis, Kreatif, Mandiri

Pemahaman Bermakna Semua makhluk hidup di bumi saling bergantung dalam jaringan yang kompleks. Ketika satu bagian dari jaringan ini terganggu — oleh perburuan liar, polusi, atau penebangan hutan — dampaknya dirasakan oleh seluruh ekosistem, termasuk manusia.

Pertanyaan Pemantik

  • “Jika semua katak di sawah menghilang, apa yang akan terjadi dengan padi?”
  • “Apakah manusia termasuk bagian dari rantai makanan?”
  • “Ekosistem apa yang paling banyak ada di daerah kita, dan apakah kondisinya baik?”

Alur Kegiatan (Proyek 2 Pertemuan)

  • Pertemuan 1: Siswa memilih satu ekosistem lokal (sawah, pantai, hutan, sungai, kebun), meneliti komponen dan rantai makanannya, serta mengidentifikasi ancaman yang ada.
  • Pertemuan 2: Siswa mempresentasikan temuan dalam format infografis atau peta ekosistem buatan tangan, disertai satu rekomendasi konkret untuk menjaga ekosistem tersebut.

Mengapa Modul Ajar Perlu Dimodifikasi Sesuai Konteks Lokal?

Modul ajar yang disediakan Kemendikbud dirancang sebagai referensi nasional — bukan keharusan yang wajib digunakan apa adanya. Kurikulum Merdeka secara eksplisit memberikan kebebasan kepada guru untuk membuat sendiri, menggunakan, atau memodifikasi modul yang tersedia sesuai konteks sekolah masing-masing.

Ada tiga alasan kuat mengapa modifikasi lokal penting dilakukan:

1. Relevansi meningkatkan pemahaman Siswa belajar lebih cepat dan lebih dalam ketika contoh yang digunakan adalah hal yang mereka lihat dan rasakan sehari-hari. Siswa di Makassar lebih mudah memahami ekosistem pesisir dengan contoh terumbu karang Spermonde daripada dengan contoh hutan hujan tropis yang jauh dari pengalaman mereka.

2. Identitas lokal perlu dirawat dalam kurikulum Topik-topik IPAS seperti keanekaragaman budaya, sumber daya alam, dan sejarah daerah secara langsung memberi ruang untuk memasukkan kearifan lokal, bahasa daerah, dan cerita sejarah setempat ke dalam pembelajaran.

3. Keterbatasan sarana berbeda-beda Modul nasional sering mengasumsikan ketersediaan alat, bahan, atau fasilitas yang tidak selalu ada di semua sekolah. Modifikasi memungkinkan guru menyesuaikan aktivitas dengan sumber daya yang benar-benar tersedia di sekolahnya.


Cara Memodifikasi Modul Ajar IPAS SD — Panduan Praktis

Berikut adalah lima titik modifikasi yang paling berdampak, dari yang termudah hingga yang paling mendalam.


Modifikasi 1 — Ganti Contoh dan Konteks dengan yang Lokal

Ini adalah modifikasi paling mudah dan paling cepat dilakukan. Temukan semua referensi geografis, nama tempat, nama hewan/tumbuhan, atau contoh fenomena dalam modul — lalu ganti dengan yang ada di daerah Anda.

Panduan identifikasi: Cari kalimat yang menggunakan frasa seperti “misalnya”, “contohnya”, “seperti”, atau nama tempat/makhluk hidup yang spesifik. Itulah titik yang perlu diganti.

Elemen Contoh Nasional (Modul Asli) Modifikasi Lokal
Ekosistem Hutan hujan tropis Kalimantan Mangrove di pesisir pantai setempat
Sumber daya alam Tambang batu bara Perkebunan kelapa sawit / sawah / kebun kopi
Hewan Orang utan Burung maleo (Sulawesi) / jalak Bali / komodo
Budaya Batik Jawa Tenun ikat NTT / songket Palembang / ulos Batak
Tokoh sejarah Umum nasional Pahlawan atau tokoh daerah setempat

Modifikasi 2 — Sesuaikan Aktivitas dengan Sumber Daya Sekolah

Modul nasional kadang merancang aktivitas yang membutuhkan peralatan laboratorium, proyektor, atau bahan habis pakai tertentu. Jika sekolah tidak memilikinya, aktivitas perlu didesain ulang — bukan dihapus.

Prinsip substitusi:

  • Percobaan dengan alat laboratorium → percobaan dengan bahan dapur atau alam sekitar
  • Video/multimedia → kunjungan langsung ke lingkungan sekolah
  • Lembar kerja cetak warna → sketsa di buku tulis atau karton daur ulang
  • Internet untuk riset → wawancara dengan narasumber lokal (petani, nelayan, tetua adat)

Contoh: Aktivitas “meneliti ekosistem dengan video dokumenter alam” bisa dimodifikasi menjadi “observasi langsung di kebun atau sawah sekitar sekolah selama 30 menit” — yang justru lebih kaya pengalaman.


Modifikasi 3 — Integrasikan Kearifan Lokal sebagai Sumber Pengetahuan

Ini adalah modifikasi yang paling bernilai secara pedagogis, namun paling jarang dilakukan. Kearifan lokal — pengetahuan turun-temurun yang hidup dalam masyarakat — sering kali mengandung pemahaman mendalam tentang ekologi, cuaca, pertanian, atau hubungan sosial yang relevan dengan topik IPAS.

Cara mengintegrasikan:

  1. Identifikasi topik IPAS yang berkaitan dengan pengetahuan lokal di daerah Anda
  2. Undang narasumber lokal (petani, nelayan, tokoh adat, pengrajin) sebagai “guru tamu” satu sesi
  3. Jadikan praktik lokal sebagai titik masuk sebelum masuk ke konsep ilmiah

Contoh konkret per topik:

  • Topik cuaca dan iklim → kalender musim tanam petani lokal vs data BMKG
  • Topik ekosistem → sistem Subak di Bali sebagai model pengelolaan air berbasis komunitas
  • Topik sumber daya alam → sistem sasi (larangan panen) di Maluku sebagai praktik konservasi tradisional
  • Topik budaya dan masyarakat → tradisi gotong royong atau musyawarah adat setempat

Modifikasi 4 — Sesuaikan Pertanyaan Pemantik dengan Realitas Siswa

Pertanyaan pemantik yang baik adalah yang bisa dijawab dari pengalaman langsung siswa. Pertanyaan pemantik dalam modul nasional kadang terlalu abstrak atau merujuk pada kondisi yang tidak dialami siswa daerah tertentu.

Cara menguji pertanyaan pemantik: Bayangkan seorang siswa di kelas Anda membaca pertanyaan itu. Apakah dia punya pengalaman atau pengetahuan untuk mulai menjawab? Jika tidak, pertanyaan itu perlu disesuaikan.

Pertanyaan Pemantik Asli Versi yang Disesuaikan (contoh: sekolah di pesisir)
“Mengapa hutan perlu dijaga?” “Mengapa nelayan di sini mulai susah dapat ikan?”
“Bagaimana cara manusia memanfaatkan sungai?” “Apa saja yang diambil warga dari laut di sekitar kita?”
“Apa akibat pembuangan sampah sembarangan?” “Pernah lihat sampah plastik di pantai dekat rumah? Dari mana kira-kira asalnya?”

Modifikasi 5 — Sesuaikan Asesmen dengan Produk yang Bermakna Lokal

Asesmen tidak harus berupa soal tertulis. Untuk IPAS, asesmen berbasis produk sering lebih otentik dan lebih kaya informasi. Produk asesmen bisa disesuaikan dengan konteks lokal dan kapasitas siswa.

Contoh produk asesmen lokal:

  • Fase A: Gambar “pohon favoritku di halaman sekolah” dengan label bagian-bagiannya
  • Fase B: Peta sederhana “sumber daya alam di desa/kelurahan kami” buatan tangan
  • Fase C: Infografis atau poster “Ekosistem [nama ekosistem lokal]: kondisi dan ancamannya”
  • Fase C: Wawancara singkat dengan tokoh lokal tentang perubahan alam yang mereka rasakan dalam 20 tahun terakhir

Contoh Sebelum dan Sesudah Modifikasi Lokal

Contoh 1: Topik Siklus Air (Kelas 4 / Fase B)

Sebelum modifikasi (modul generik):

Kegiatan Inti: Siswa menonton video tentang siklus air di Amazon. Kemudian mengisi lembar kerja tentang tahapan evaporasi, kondensasi, dan presipitasi berdasarkan video.

Sesudah modifikasi (sekolah di daerah persawahan, Jawa Tengah):

Kegiatan Inti: Guru mengajak siswa mengamati sawah di sekitar sekolah. Siswa mendiskusikan: “Air dari mana yang mengairi sawah ini? Ke mana perginya setelah diserap tanaman?” Siswa mewawancarai satu petani tentang bagaimana mereka mengatur aliran air saat musim kemarau. Hasil wawancara dibandingkan dengan diagram siklus air dari buku.


Contoh 2: Topik Keanekaragaman Budaya (Kelas 4 / Fase B)

Sebelum modifikasi:

Siswa membuat kliping gambar pakaian adat dari berbagai provinsi di Indonesia dari majalah atau internet.

Sesudah modifikasi (sekolah di Sulawesi Selatan):

Siswa diminta membawa satu benda dari rumah yang mencerminkan budaya keluarganya (kain, perhiasan, alat masak, instrumen musik). Benda-benda ini dipamerkan di kelas sebagai “Museum Mini Budaya Kita”. Setiap siswa menceritakan asal-usul benda tersebut dan mengapa itu bermakna bagi keluarganya. Guru menghubungkan cerita-cerita itu dengan peta persebaran budaya Sulawesi Selatan.


Contoh 3: Topik Perubahan Iklim (Kelas 6 / Fase C)

Sebelum modifikasi:

Siswa membaca artikel tentang mencairnya es di Kutub Utara dan dampaknya terhadap beruang kutub.

Sesudah modifikasi (sekolah di daerah pesisir, Maluku):

Guru mengawali dengan pertanyaan: “Apakah ada nelayan atau orang tua kalian yang mengatakan bahwa laut atau cuaca sekarang berbeda dari 10–20 tahun lalu?” Siswa mendiskusikan pengamatan tersebut. Kemudian membandingkan dengan data curah hujan dan suhu rata-rata BMKG untuk wilayah mereka. Siswa mengidentifikasi dua dampak nyata perubahan iklim yang sudah dirasakan masyarakat pesisir setempat.


Kesalahan Umum dalam Modifikasi Modul Ajar

1. Mengganti terlalu banyak sehingga kehilangan benang merah CP Modifikasi yang baik mempertahankan Tujuan Pembelajaran dan Capaian Pembelajaran yang sudah ditetapkan. Yang diganti adalah cara mencapainya, bukan apa yang ingin dicapai.

2. Memasukkan konten lokal hanya sebagai dekorasi Menyebut nama daerah atau tokoh lokal di bagian pembuka, lalu kembali ke contoh generik di bagian inti — ini bukan modifikasi bermakna. Konteks lokal harus hadir di aktivitas inti dan asesmen, bukan hanya di kalimat pembuka.

3. Tidak memverifikasi keakuratan informasi lokal Informasi tentang ekosistem, sejarah, atau budaya lokal yang dimasukkan harus akurat. Jika belum yakin, konsultasikan dengan narasumber atau referensi terpercaya di daerah setempat.

4. Mengabaikan perbedaan konteks antar siswa dalam satu kelas Di satu kelas yang sama, bisa ada siswa dari berbagai latar belakang budaya berbeda. Modifikasi lokal perlu sensitif terhadap keragaman ini — jangan sampai satu budaya mendominasi seluruh pembelajaran.


Butuh Pendampingan Menyusun Modul Ajar yang Kontekstual?

Memodifikasi modul ajar bukan sekadar mengganti nama tempat — ini adalah keterampilan pedagogis yang perlu dilatih. Dea Learning Center menyelenggarakan pelatihan untuk guru tentang penyusunan dan modifikasi modul ajar Kurikulum Merdeka, termasuk cara mengintegrasikan konteks lokal secara bermakna ke dalam pembelajaran IPAS.

Program tersedia dalam format Webinar, Kelas Intensif, dan Bootcamp — bisa diikuti secara mandiri maupun sebagai program pengembangan kolektif untuk seluruh guru di sekolah Anda.

Cek jadwal program dan daftarkan diri di dealearningcenter.id atau hubungi langsung via WhatsApp untuk konsultasi kebutuhan pelatihan sekolah.


FAQ

Apakah IPAS ada di semua jenjang SD? Ya. IPAS diajarkan mulai Kelas 1 hingga Kelas 6 SD dalam Kurikulum Merdeka, mencakup Fase A (Kelas 1–2), Fase B (Kelas 3–4), dan Fase C (Kelas 5–6). Di SMP, IPAS terpisah kembali menjadi IPA dan IPS.

Apakah boleh tidak menggunakan modul dari Kemendikbud sama sekali? Boleh. Guru memiliki tiga opsi yang sah: membuat modul sendiri, menggunakan modul Kemendikbud, atau memodifikasi modul yang sudah ada. Semua opsi legal dan justru didorong oleh semangat Kurikulum Merdeka, selama tetap mengacu pada Capaian Pembelajaran yang berlaku.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memodifikasi satu modul ajar? Untuk modifikasi ringan (mengganti contoh dan konteks), cukup 30–60 menit per modul. Untuk modifikasi mendalam yang melibatkan integrasi kearifan lokal dan perubahan aktivitas, bisa membutuhkan 2–4 jam, termasuk waktu mencari dan memverifikasi informasi lokal.

Di mana bisa mendapatkan modul ajar IPAS SD yang sudah jadi sebagai referensi? Modul referensi resmi tersedia di Platform Merdeka Mengajar (PMM) yang bisa diakses di guru.kemendikbud.go.id. Selain itu, berbagai komunitas guru seperti IGI (Ikatan Guru Indonesia) dan forum-forum guru di media sosial juga banyak berbagi modul ajar yang sudah dimodifikasi oleh sesama guru.

Apakah modul ajar yang sudah dimodifikasi perlu divalidasi kepala sekolah? Secara regulasi Kurikulum Merdeka, tidak ada kewajiban validasi formal. Namun sebagai praktik yang baik, mengkomunikasikan modifikasi yang signifikan kepada kepala sekolah atau koordinator kurikulum dianjurkan, terutama jika melibatkan perubahan substansi materi atau metode asesmen.


Artikel ini diterbitkan oleh Dea Learning Center — lembaga pelatihan profesional untuk guru, peneliti, dan tenaga kependidikan. Kami hadir untuk membantu guru Indonesia merancang pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan berdampak nyata bagi siswa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *