
Rencana Pembelajaran Mendalam (RPM) adalah format khusus perencanaan pembelajaran yang dirancang untuk mewadahi pendekatan deep learning — bukan pengganti Modul Ajar, melainkan alternatif format yang lebih menekankan siklus memahami-mengaplikasi-merefleksi. Guru bisa memilih menggunakan RPM ketika pembelajaran bersifat eksploratif, lintas disiplin, berbasis proyek, atau bermuatan nilai dan karakter yang kuat.
Kenapa Istilah RPM Muncul di Tengah Modul Ajar yang Sudah Ada?
Banyak guru bertanya-tanya: bukankah Kurikulum Merdeka sudah menggantikan RPP dengan Modul Ajar? Kenapa sekarang muncul istilah baru bernama RPM?
Jawabannya: RPM bukan istilah pengganti, melainkan format perencanaan khusus yang lahir seiring diperkenalkannya pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) sebagai strategi pembelajaran nasional. RPM hadir sebagai alternatif format Modul Ajar yang secara eksplisit menuntun guru merancang pengalaman belajar berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) — tiga prinsip inti Pembelajaran Mendalam.
Jadi posisinya begini:
- RPP → dokumen perencanaan lama (era Kurikulum 2013)
- Modul Ajar → dokumen perencanaan Kurikulum Merdeka, menggantikan RPP, lebih komprehensif
- RPM → format khusus dari perencanaan pembelajaran, dirancang untuk mengoperasionalkan pendekatan Deep Learning — bisa dianggap sebagai “varian” atau “turunan” dari semangat Modul Ajar dengan struktur yang lebih spesifik mengarahkan siklus belajar mendalam
Definisi RPM dan Posisinya dalam Kurikulum Merdeka
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mendalam adalah dokumen perencanaan yang bertujuan mencapai pemahaman konsep dan penguasaan kompetensi secara mendalam, kritis, dan bermakna bagi peserta didik — tidak hanya berfokus pada pengetahuan faktual (menghafal), tetapi juga pemahaman kontekstual (mengapa dan bagaimana) serta kemampuan aplikasi ilmu dalam berbagai situasi.
RPM banyak digunakan pada pembelajaran tematik, lintas disiplin, atau proyek berbasis nilai — konteks di mana siklus memahami-mengaplikasi-merefleksi perlu ditonjolkan secara eksplisit dalam dokumen perencanaan.
Perbedaan RPM dan Modul Ajar {#perbedaan}
| Aspek | Modul Ajar (Umum) | RPM (Rencana Pembelajaran Mendalam) |
|---|---|---|
| Fokus utama | Paket lengkap bahan ajar siap eksekusi (materi, LKPD, asesmen) | Kerangka pengalaman belajar berbasis 3 prinsip Deep Learning |
| Struktur inti | Informasi Umum → Komponen Inti → Lampiran | Identifikasi → Desain Pembelajaran → Pengalaman Belajar → Asesmen |
| Penekanan siklus belajar | Tidak selalu eksplisit | Selalu eksplisit: memahami → mengaplikasikan → merefleksi |
| Kerangka pembelajaran | Model pembelajaran (PBL, PjBL, dll) disebutkan singkat | Kerangka lebih detail: praktik pedagogis, kemitraan pembelajaran, lingkungan belajar, pemanfaatan digital |
| Konteks penggunaan ideal | Pembelajaran reguler mata pelajaran | Pembelajaran tematik, lintas disiplin, proyek bermuatan nilai/karakter |
| Sifat dokumen | Wajib ada sebagai perangkat ajar | Opsional — format khusus untuk konteks Deep Learning tertentu |
Intinya: Modul Ajar adalah payung umum perangkat pembelajaran Kurikulum Merdeka. RPM adalah format yang lebih spesifik ketika guru ingin secara sengaja merancang pembelajaran dengan penekanan kuat pada prinsip Deep Learning — terutama untuk topik yang butuh eksplorasi mendalam, bukan sekadar penyampaian materi.
4 Komponen Utama RPM
1. Identifikasi
- Mengidentifikasi kesiapan peserta didik (hasil asesmen diagnostik)
- Memahami karakteristik materi pelajaran
- Menentukan Dimensi Profil Lulusan yang menjadi sasaran
2. Desain Pembelajaran
- Menentukan Capaian Pembelajaran (CP) yang dituju
- Menentukan topik pembelajaran yang kontekstual dan relevan
- Mengintegrasikan lintas disiplin ilmu (jika relevan)
- Menentukan Tujuan Pembelajaran (memuat kompetensi + konten esensial)
- Menentukan kerangka pembelajaran, mencakup empat elemen:
- Praktik pedagogis — model pembelajaran yang digunakan (PjBL, inkuiri, kontekstual, dll.)
- Kemitraan pembelajaran — kolaborasi lintas guru, murid, orang tua, komunitas, dunia usaha
- Lingkungan pembelajaran — kondisi fisik/psikologis yang mendukung eksplorasi
- Pemanfaatan digital — teknologi yang mendukung pengalaman belajar
3. Pengalaman Belajar
Dirancang mengikuti prinsip berkesadaran, bermakna, dan/atau menggembirakan, dengan tiga tahap siklus:
- Memahami — siswa mengonstruksi pengetahuan dari berbagai sumber
- Mengaplikasikan — siswa menerapkan pemahaman dalam konteks nyata
- Merefleksikan — siswa memaknai proses dan hasil belajarnya
4. Asesmen
Dilakukan di tiga fase, dengan tiga jenis pendekatan:
- Assessment as learning — penilaian diri dan penilaian sejawat
- Assessment for learning — asesmen formatif dengan umpan balik
- Assessment of learning — asesmen sumatif atas capaian, mempertimbangkan karakteristik siswa
Contoh Struktur RPM Lengkap
Topik: Siklus Air dan Kearifan Lokal Pengelolaan Air (Tematik, Kelas 5)
1. Identifikasi
- Kesiapan murid: sudah memahami wujud benda dari kelas sebelumnya
- Karakteristik materi: konseptual + kontekstual, terkait langsung lingkungan sekitar
- Dimensi Profil Lulusan: Bernalar Kritis, Peduli Lingkungan
2. Desain Pembelajaran
- Topik: “Ke Mana Perginya Air Setelah Hujan?”
- Integrasi lintas disiplin: IPA (siklus air) + IPS (pengelolaan air oleh masyarakat)
- Kerangka: Praktik pedagogis (Inkuiri) — Kemitraan (wawancara petani/pengelola air lokal) — Lingkungan (observasi lapangan) — Digital (video edukasi + peta interaktif)
3. Pengalaman Belajar
- Memahami: diskusi kelompok tentang siklus air dari video dan pengamatan langsung
- Mengaplikasikan: wawancara narasumber lokal tentang cara masyarakat mengelola air
- Merefleksikan: jurnal reflektif — “Apa yang aku pelajari tentang air di daerahku?”
4. Asesmen
- As learning: siswa menilai pemahamannya sendiri melalui checklist reflektif
- For learning: umpan balik guru terhadap draf laporan wawancara
- Of learning: presentasi hasil observasi dan wawancara sebagai produk akhir
Kapan Menggunakan RPM, Kapan Menggunakan Modul Ajar? {#kapan-pakai}
| Situasi | Rekomendasi |
|---|---|
| Pembelajaran reguler satu mata pelajaran, materi cenderung prosedural | Modul Ajar standar sudah cukup |
| Pembelajaran tematik lintas mata pelajaran | RPM lebih tepat |
| Proyek jangka menengah/panjang dengan muatan karakter kuat | RPM |
| Materi yang butuh eksplorasi mendalam dan reflektif (bukan sekadar hafalan) | RPM |
| Sekolah/dinas belum mewajibkan format RPM secara khusus | Modul Ajar tetap sah digunakan, cukup pastikan prinsip Deep Learning tercermin dalam kegiatan intinya |
Penting dipahami: tidak ada kewajiban mutlak memilih salah satu. Yang terpenting adalah substansi pembelajaran — apakah benar-benar mendorong siswa memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan, bukan sekadar format dokumen yang dipakai.
Cara Menyusun RPM dari Nol
- Mulai dari Identifikasi — jangan langsung menulis kegiatan. Pahami dulu kesiapan siswa dan karakter materi.
- Tentukan Dimensi Profil Lulusan yang paling relevan — ini akan mewarnai seluruh desain RPM.
- Rancang kerangka pembelajaran secara utuh — jangan hanya menulis model pembelajaran, tapi pikirkan juga kemitraan, lingkungan, dan pemanfaatan digital.
- Susun pengalaman belajar dalam 3 tahap eksplisit — pastikan ketiganya benar-benar termuat, bukan hanya kegiatan awal-inti-penutup generik.
- Rancang asesmen tiga jenis — jangan hanya mengandalkan tes tertulis di akhir; sisipkan penilaian diri dan umpan balik proses.
- Gunakan AI sebagai draf awal — ChatGPT, Gemini, atau Claude bisa membantu menyusun draf RPM lebih cepat; tinggal sesuaikan dengan konteks kelas Anda.
Ingin Lebih Mahir Merancang RPM dan Modul Ajar Deep Learning?
Memahami perbedaan RPM dan Modul Ajar secara teori adalah langkah awal. Yang lebih menantang adalah menerjemahkannya menjadi dokumen yang benar-benar operasional di kelas — dengan kerangka pembelajaran yang matang dan asesmen yang autentik.
Dea Learning Center menyelenggarakan Kelas Intensif Penyusunan Perangkat Ajar Deep Learning yang membantu guru menyusun RPM dan Modul Ajar secara langsung dengan pendampingan mentor berpengalaman. Cek jadwal terbaru di Kelas Intensif Dea Learning Center atau konsultasikan kebutuhan pelatihan sekolah Anda melalui WhatsApp.
FAQ
Apakah RPM wajib digunakan menggantikan Modul Ajar? Tidak. RPM adalah format alternatif untuk konteks pembelajaran mendalam tertentu — bukan kewajiban mutlak yang menggantikan Modul Ajar secara keseluruhan.
Apakah RPM hanya untuk jenjang tertentu? Tidak. RPM tersedia sebagai referensi untuk jenjang SD, SMP, dan SMA/SMK — masing-masing dengan penyesuaian konteks dan kompleksitas sesuai usia siswa.
Apakah menyusun RPM lebih sulit daripada Modul Ajar biasa? Pada awalnya terasa lebih detail karena ada 4 elemen kerangka pembelajaran yang harus dipikirkan sekaligus. Namun setelah terbiasa, RPM justru membantu guru berpikir lebih sistematis tentang bagaimana pembelajaran benar-benar berdampak, bukan sekadar menyampaikan materi.
Di mana bisa mendapatkan contoh RPM resmi untuk referensi? Beberapa referensi RPM per jenjang tersedia di Platform Merdeka Mengajar (PMM) dan berbagai portal pendidikan yang merujuk pada dokumen resmi Kemendikdasmen — namun tetap perlu disesuaikan dengan konteks sekolah dan karakteristik siswa masing-masing.
Artikel ini diterbitkan oleh Dea Learning Center — lembaga pelatihan profesional untuk tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan praktisi penelitian. Kami mendampingi guru Indonesia merancang pembelajaran yang benar-benar mendalam dan bermakna, bukan sekadar administratif.
