
Cara submit artikel ke jurnal Scopus Q1 dan Q2 dimulai dari memilih jurnal yang tepat berdasarkan kesesuaian topik, lalu menyiapkan naskah sesuai author guidelines, dan mengirimkannya melalui sistem submission online jurnal tersebut. Sebelum mengirim, ada checklist penting yang perlu dilewati agar naskah tidak langsung desk reject.
Apa itu Jurnal Scopus Q1 dan Q2?
Scopus mengklasifikasikan jurnal ke dalam empat kuartil (Q1–Q4) berdasarkan Scimago Journal Rank (SJR) — sebuah indikator yang mengukur pengaruh ilmiah jurnal berdasarkan jumlah sitasi dan prestise jurnal pemberi sitasi.
| Kuartil | Posisi Persentil | Keterangan |
|---|---|---|
| Q1 | 75% – 99% | 25% jurnal teratas di bidangnya — paling bergengsi, seleksi sangat ketat |
| Q2 | 50% – 74% | Berkualitas tinggi, tetap diakui secara global, lebih realistis dituju |
| Q3 | 25% – 49% | Jurnal menengah, kompetisi lebih moderat |
| Q4 | 0% – 24% | Peringkat paling bawah, namun tetap terindeks Scopus |
Mengapa Q1 dan Q2 sangat diburu? Dalam sistem kenaikan jabatan dosen di Indonesia, publikasi di jurnal internasional bereputasi (Q1–Q2) bernilai 40 poin KUM — jauh lebih tinggi dari SINTA 1 yang hanya 25 poin.
Untuk memverifikasi kuartil sebuah jurnal, gunakan dua platform resmi:
- Scimago Journal Rank → scimagojr.com
- Scopus Sources → scopus.com (menu Sources)
Kenapa Banyak Artikel Langsung Ditolak (Desk Reject)?
Desk reject adalah penolakan di tahap awal editorial — sebelum naskah masuk proses peer review. Ini bukan kegagalan ilmiah, tapi kegagalan administratif dan strategis yang sebenarnya bisa dicegah.
Berdasarkan analisis terhadap 120 artikel yang ditolak dari jurnal Q1 dan Q2, 65% ditolak di tahap desk review dengan alasan kualitas bahasa yang tidak memenuhi standar, dan penulis non-native cenderung mengalami rejection rate 30% lebih tinggi dibanding penulis native.
Penyebab desk reject paling umum:
- Mismatch aims and scope — topik tidak sesuai fokus jurnal yang dituju
- Format tidak mengikuti author guidelines — salah sitasi, melebihi batas kata, struktur keliru
- Kualitas bahasa di bawah standar — kalimat ambigu, tata bahasa buruk, terjemahan otomatis terasa
- Novelty tidak jelas — kontribusi ilmiah tidak diartikulasikan dengan tegas di abstrak dan introduksi
- Referensi usang — mayoritas sitasi berasal dari sumber yang lebih dari 5–10 tahun lalu
Langkah-Langkah Cara Submit Artikel ke Jurnal Scopus Q1 dan Q2
Langkah 1 — Tentukan Jurnal yang Tepat
Jangan pilih jurnal berdasarkan prestise semata. Pilih jurnal yang topiknya paling cocok dengan naskah Anda.
Caranya:
- Buka scimagojr.com, filter bidang keilmuan dan kuartil yang dituju
- Baca Aims and Scope jurnal secara menyeluruh
- Cek 10 artikel terbaru yang diterbitkan — apakah pendekatan dan topiknya serupa?
- Cek acceptance rate jika tersedia (beberapa jurnal Q1 memiliki acceptance rate di bawah 10%)
- Periksa apakah jurnal tersebut Open Access (ada APC) atau subscription-based
Tips: Untuk pertama kali submit ke Q1/Q2, targetkan jurnal yang acceptance rate-nya di atas 15–20%. Jurnal bereputasi dengan slot terbatas bisa menerima ribuan naskah per tahun namun hanya menerbitkan ratusan.
Langkah 2 — Siapkan Naskah Sesuai Template dan Author Guidelines
Setiap jurnal memiliki author guidelines yang wajib dibaca sampai habis. Hal yang perlu diperhatikan:
- Format sitasi — APA, Chicago, Vancouver, Harvard, atau gaya jurnal sendiri
- Batas jumlah kata — biasanya 6.000–10.000 kata untuk artikel riset
- Struktur naskah — sebagian besar jurnal Q1/Q2 menggunakan format IMRAD (Introduction, Method, Results, and Discussion)
- Ketentuan gambar dan tabel — resolusi, format file, dan penomoran
- Data Availability Statement — semakin banyak jurnal top mewajibkan ini
- Cover letter — dokumen terpisah yang menjelaskan kontribusi utama naskah
Langkah 3 — Pastikan Novelty Terdefinisi dengan Jelas
Ini yang paling sering absen dari naskah peneliti Indonesia. Novelty bukan sekadar “belum ada yang meneliti di Indonesia” — itu terlalu sempit untuk standar jurnal internasional.
Novelty yang diterima jurnal Q1/Q2 biasanya berupa:
- Metode baru atau modifikasi metode yang signifikan
- Temuan yang mengisi research gap yang teridentifikasi dari literatur global
- Perspektif teoritis baru yang memperluas atau menantang teori yang ada
- Data skala besar atau longitudinal yang belum pernah dianalisis
Nyatakan novelty secara eksplisit di bagian Introduction, idealnya pada paragraf terakhir sebelum masuk ke metodologi.
Langkah 4 — Proofreading Bahasa Inggris Akademik
Gunakan bahasa akademik yang jelas dan hindari terjemahan otomatis. Untuk penulis non-native, lakukan salah satu dari berikut:
- Minta koreksi dari kolega yang native speaker atau terbiasa menulis di jurnal internasional
- Gunakan layanan proofreading profesional (Editage, Enago, Scribendi)
- Manfaatkan tools seperti Grammarly, Paperpal, atau DeepL Write — namun tetap perlu diperiksa ulang secara manual
Langkah 5 — Submit Melalui Sistem Online Jurnal
Hampir semua jurnal Scopus Q1/Q2 menggunakan platform submission terpusat seperti:
- Editorial Manager (Springer, Elsevier)
- ScholarOne Manuscripts (Wiley, Taylor & Francis)
- Open Journal Systems (OJS) — banyak dipakai jurnal Open Access
Saat submission, siapkan:
- File naskah utama (biasanya tanpa nama penulis untuk proses double-blind review)
- File terpisah berisi nama dan afiliasi penulis
- Abstrak yang sudah diformatkan sesuai ketentuan
- Cover letter
- Saran reviewer (beberapa jurnal meminta ini)
- Pernyataan conflict of interest dan ethical approval jika ada data manusia/hewan
Checklist Sebelum Submit — Wajib Diisi Satu per Satu
Gunakan checklist ini sebelum menekan tombol Submit. Centang hanya jika benar-benar sudah dipenuhi.
✅ Kesesuaian Jurnal
- [ ] Topik naskah sesuai dengan Aims and Scope jurnal yang dituju
- [ ] Sudah membaca minimal 5–10 artikel terbaru di jurnal tersebut
- [ ] Kuartil jurnal sudah diverifikasi di scimagojr.com atau scopus.com
- [ ] Jurnal tidak masuk daftar jurnal predator (cek di Beall’s List)
- [ ] Status terindeks Scopus masih aktif (tidak di-delist)
✅ Kualitas Naskah
- [ ] Novelty dinyatakan secara eksplisit di bagian Introduction
- [ ] Research gap diidentifikasi dari literatur global, bukan hanya lokal
- [ ] Metodologi dijelaskan cukup rinci untuk bisa direplikasi
- [ ] Data dan statistik disajikan secara lengkap, akurat, dan dapat diverifikasi
- [ ] Tidak ada tanda-tanda fabrikasi, falsifikasi, atau plagiarisme
✅ Format dan Teknis
- [ ] Mengikuti template resmi jurnal (author guidelines dibaca sampai habis)
- [ ] Format sitasi sesuai ketentuan jurnal
- [ ] Jumlah kata sesuai batas yang ditentukan
- [ ] Gambar dan tabel memiliki resolusi dan format yang sesuai
- [ ] Naskah utama sudah di-anonymize (tanpa nama penulis) jika jurnal menggunakan blind review
✅ Bahasa dan Gaya Penulisan
- [ ] Tidak ada kalimat hasil terjemahan otomatis yang terasa kaku
- [ ] Tata bahasa Inggris sudah diperiksa (proofreading)
- [ ] Judul mencerminkan kontribusi utama, bukan generik
- [ ] Abstrak memuat: latar belakang, tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan
- [ ] Keywords dipilih berdasarkan istilah yang umum digunakan di jurnal tersebut
✅ Referensi
- [ ] Mayoritas referensi berasal dari 5 tahun terakhir
- [ ] Ada sitasi dari artikel yang diterbitkan di jurnal yang dituju (menunjukkan relevansi)
- [ ] Referensi berasal dari jurnal bereputasi (Scopus, Web of Science)
- [ ] Format daftar referensi konsisten dan sesuai ketentuan jurnal
✅ Dokumen Pendukung
- [ ] Cover letter ditulis dengan jelas: apa kontribusi artikel, mengapa cocok untuk jurnal ini
- [ ] Pernyataan originality (naskah belum pernah dikirim ke jurnal lain secara bersamaan)
- [ ] Ethical clearance sudah disiapkan jika penelitian melibatkan responden manusia
- [ ] Data Availability Statement disiapkan jika jurnal mewajibkan
- [ ] Pernyataan conflict of interest sudah dibuat
✅ Cek Plagiarisme
- [ ] Similarity index di bawah ambang batas jurnal (umumnya ≤20%, banyak jurnal Q1 minta ≤15%)
- [ ] Tidak ada self-plagiarism dari artikel Anda sendiri yang sudah diterbitkan
- [ ] Semua kutipan langsung sudah diberi tanda kutip dan sitasi yang tepat
Tips Meningkatkan Peluang Accepted di Q1 dan Q2
1. Baca artikel yang pernah diterbitkan di jurnal tersebut Gaya argumen, kedalaman analisis, dan cara menyajikan data di jurnal tertentu punya pola. Menyesuaikan dengan pola itu adalah sinyal bahwa Anda paham audiens jurnal tersebut.
2. Tulis cover letter yang kuat Cover letter bukan formalitas. Jelaskan dalam 3–4 paragraf: apa pertanyaan riset Anda, apa novelty-nya, mengapa artikel ini cocok untuk jurnal ini, dan sebutkan bahwa naskah tidak sedang dalam proses review di jurnal lain.
3. Ikuti semua instruksi submission dengan teliti Reviewer dan editor adalah orang sibuk. Naskah yang tidak mengikuti format akan lebih mudah di-reject bahkan sebelum dibaca isinya.
4. Manfaatkan jaringan kolegial Banyak artikel Q1/Q2 dari Indonesia lahir dari kolaborasi dengan peneliti dari negara lain. Afiliasi penulis yang beragam (lintas negara) kadang memberi sinyal positif pada editorial internasional.
5. Jika ditolak, pelajari suratnya sebelum submit ulang Surat penolakan berisi informasi berharga. Jika masalahnya adalah scope mismatch, submit ke jurnal lain tanpa revisi besar. Jika ada komentar substantif, perbaiki dulu sebelum mengirim ulang.
Setelah Submit: Apa yang Terjadi?
Setelah submission, umumnya ada beberapa tahap:
- Acknowledgement — sistem mengirim konfirmasi otomatis (biasanya dalam 1–3 hari)
- Desk review oleh editor — editor menilai kelayakan awal; ini tahap paling rawan desk reject (1–4 minggu)
- Peer review — jika lolos desk review, naskah dikirim ke 2–3 reviewer ahli (3–6 bulan, tergantung jurnal)
- Keputusan editorial — accept, minor revision, major revision, atau reject with option to resubmit
- Revisi dan resubmission — jika diminta revisi, ikuti semua komentar reviewer secara sistematis
- Final acceptance dan proofreading — naskah masuk antrean publikasi
- Online First / In Press — artikel muncul online sebelum masuk volume resmi
Waktu dari submit hingga published di jurnal Q1/Q2 rata-rata 6–18 bulan. Persiapkan ekspektasi yang realistis.
FAQ
Apakah bisa submit artikel ke jurnal Scopus Q1 secara gratis? Bisa. Tidak semua jurnal Q1/Q2 membebankan APC (Article Processing Charge). Jurnal subscription-based seperti banyak terbitan Elsevier dan Springer tidak memungut biaya dari penulis. Namun jika ingin Open Access, biasanya ada APC yang bervariasi tergantung jurnal dan penerbit.
Berapa lama proses review di jurnal Scopus Q1? Proses peer review di jurnal Q1 umumnya membutuhkan waktu 3–6 bulan, bahkan bisa lebih lama untuk bidang tertentu. Dari submission hingga publikasi bisa memakan 12–18 bulan.
Apakah artikel dalam Bahasa Indonesia bisa submit ke jurnal Scopus Q1/Q2? Hampir semua jurnal Scopus Q1/Q2 menggunakan bahasa Inggris. Naskah perlu ditulis atau diterjemahkan ke Bahasa Inggris akademik standar sebelum disubmit.
Bagaimana cara mengecek apakah jurnal terindeks Scopus dan kuartilnya? Gunakan scimagojr.com untuk cek kuartil berdasarkan SJR, atau akses langsung menu Sources di scopus.com. Persentil 75–99% berarti Q1; persentil 50–74% berarti Q2.
Bolehkah submit ke dua jurnal sekaligus? Tidak. Simultaneous submission (mengirim ke lebih dari satu jurnal pada waktu yang sama) adalah pelanggaran etika publikasi ilmiah yang serius dan bisa mengakibatkan pencekalan permanen dari jurnal.
Artikel ini diterbitkan oleh Dea Learning Center — lembaga pelatihan profesional untuk guru, peneliti, dan tenaga kependidikan. Dea Learning Center menyelenggarakan pelatihan penulisan karya ilmiah, publikasi jurnal internasional, dan pengembangan kompetensi akademik bersama 20+ mentor ahli dari berbagai institusi terkemuka.
Butuh pendampingan untuk mempersiapkan artikel siap submit ke jurnal Scopus? Hubungi kami atau kunjungi program Bimbingan Privat kami.
