pengembangan SDM madrasah
pengembangan SDM madrasah

Pengembangan SDM di yayasan pesantren dan madrasah adalah upaya penguatan kompetensi dua rumpun tenaga sekaligus — guru mata pelajaran umum dan ustaz/pengajar diniyah — dalam ekosistem yang secara administratif dan kultural berbeda dari sekolah umum. Berada di bawah naungan Kementerian Agama, bukan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, membuat yayasan pesantren dan madrasah menghadapi tantangan pengembangan SDM yang jarang dibahas tuntas oleh penyedia pelatihan pada umumnya.

Artikel ini adalah bagian dari panduan lengkap manajemen yayasan pendidikan, dengan fokus pada satu segmen yang perlu pendekatan khusus: yayasan yang menaungi madrasah dan pesantren.

Perbedaan struktural yang menentukan pendekatan

Naungan Kementerian Agama, bukan Kemendikdasmen. Madrasah (RA, MI, MTs, MA) dan pesantren berada di bawah pembinaan Kementerian Agama, dengan regulasi, jalur pendanaan, dan skema tunjangan guru yang berbeda dari sekolah umum di bawah Kemendikdasmen. Kebijakan yang berlaku untuk sekolah umum tidak otomatis berlaku sama persis untuk madrasah.

EMIS, bukan Dapodik. Data pokok pendidikan untuk madrasah dan lembaga pendidikan keagamaan Islam dikelola lewat Education Management Information System (EMIS) milik Kementerian Agama — sistem yang terpisah dari Dapodik yang dipakai sekolah di bawah Kemendikdasmen. Sejak Januari 2025, EMIS 4.0 juga menggantikan SIMPATIKA yang sebelumnya menjadi sistem pengelolaan data guru dan tenaga kependidikan madrasah. Bagi yayasan yang menaungi baik sekolah umum maupun madrasah sekaligus, ini berarti dua sistem data yang harus dikelola operator secara terpisah, dengan mekanisme yang tidak selalu sinkron satu sama lain.

Dua rumpun tenaga pengajar. Madrasah dan pesantren mengelola guru mata pelajaran umum (matematika, sains, bahasa) sekaligus ustaz atau pengajar diniyah (fikih, akidah, bahasa Arab, tahfiz). Kedua rumpun ini punya jalur pengembangan profesional yang berbeda — guru mapel umum lebih dekat dengan kerangka pengembangan guru pada umumnya, sementara ustaz/pengajar diniyah sering kali datang dari jalur pendidikan pesantren tradisional dengan latar belakang formal yang bervariasi.

Tantangan khas yang jarang dibahas

Guru non-linear dan kualifikasi yang beragam. Tidak sedikit pengajar diniyah di pesantren memiliki keahlian keagamaan yang mendalam dari jalur pendidikan pesantren, tapi belum memiliki kualifikasi formal sesuai standar yang diakui untuk keperluan administratif seperti sertifikasi. Ini bukan soal kompetensi mengajar, melainkan soal kesesuaian dokumen dengan sistem administrasi yang berlaku.

Honor yang terbatas, terutama untuk pengajar diniyah. Struktur pendanaan pesantren dan madrasah swasta, khususnya yang berbasis komunitas atau wakaf, sering kali lebih terbatas dibanding sekolah umum yang sepenuhnya mengandalkan SPP. Ini memengaruhi kemampuan yayasan mengalokasikan anggaran pengembangan SDM, dan juga memengaruhi daya tarik lembaga dalam merekrut serta mempertahankan pengajar berkualitas.

Beban ganda pengasuhan. Di lingkungan pesantren dengan sistem asrama, banyak ustaz dan pengajar juga merangkap peran sebagai pengasuh atau pembina santri di luar jam belajar formal — sebuah beban kerja yang tidak selalu tercermin dalam struktur kompetensi standar yang diukur oleh instrumen pengembangan guru pada umumnya.

Kesenjangan literasi digital antar generasi pengajar. Sebagian pengajar senior di pesantren, terutama yang berlatar belakang pendidikan pesantren tradisional, memiliki keterbatasan pada aspek literasi digital dibanding guru mapel umum yang lebih terpapar sistem administrasi berbasis aplikasi seperti EMIS.

Lima area kompetensi prioritas

Berdasarkan tantangan di atas, berikut area yang paling relevan menjadi prioritas pengembangan SDM di yayasan pesantren dan madrasah — disusun sebagai kerangka, bukan urutan wajib, karena tiap lembaga punya kondisi berbeda.

Area Relevan untuk Fokus pengembangan
Metode pembelajaran kontekstual Guru mapel umum Mengintegrasikan pendekatan pembelajaran modern dengan nilai dan ritme kehidupan pesantren
Literasi digital dasar Pengajar diniyah senior Pengoperasian sistem administrasi (EMIS), dasar penggunaan perangkat untuk mendukung pengajaran
Manajemen kelas dan asrama Pengajar dengan peran ganda pengasuhan Keterampilan mengelola waktu dan energi antara peran mengajar dan mengasuh
Administrasi dan tata kelola lembaga Tenaga kependidikan dan pengurus Tata kelola keuangan, pelaporan yayasan, kepatuhan terhadap regulasi Kemenag
Penyusunan portofolio dan kualifikasi formal Pengajar diniyah tanpa latar belakang pendidikan formal linear Pendampingan menyusun dokumen yang diakui untuk keperluan administratif, tanpa mengabaikan keahlian substantif yang sudah dimiliki

Menyelaraskan pengembangan SDM dengan nilai lembaga

Perbedaan paling mendasar antara mengembangkan SDM di sekolah umum dan di pesantren/madrasah bukan pada materi teknisnya, melainkan pada bagaimana materi itu dibingkai. Pelatihan manajemen kelas yang dirancang generik untuk sekolah umum akan terasa asing bila tidak menyentuh konteks kehidupan berasrama. Pelatihan kepemimpinan yang tidak mengaitkan diri dengan nilai kepemimpinan yang melayani (dalam konteks pesantren, sering dikaitkan dengan keteladanan kiai atau pengasuh) akan sulit diterima sepenuh hati oleh pengajarnya.

Ini sejalan dengan pendekatan yang sudah dibahas DEA Learning Center pada konteks Sekolah Islam Terpadu di artikel batas kewenangan yayasan dan kepala sekolah — bahwa program pengembangan kompetensi paling efektif ketika studi kasus dan pendekatannya disesuaikan dengan nilai lembaga, bukan materi generik yang seragam untuk semua jenis institusi.

Membiayai tanpa membebani wali santri

Karena keterbatasan pendanaan adalah tantangan struktural di banyak pesantren dan madrasah swasta, strategi pembiayaan pengembangan SDM perlu lebih kreatif dibanding sekadar menaikkan SPP atau iuran wali santri. Beberapa pendekatan yang bisa dipertimbangkan:

  • Menggabungkan peserta lintas unit dalam satu yayasan — bila yayasan menaungi beberapa madrasah atau unit pesantren, menyatukan peserta pelatihan dalam satu program menurunkan biaya per peserta secara signifikan, sebagaimana dibahas di artikel anggaran pelatihan SDM yayasan.
  • Memanfaatkan jaringan alumni dan donatur — banyak pesantren memiliki basis alumni yang kuat secara emosional terhadap almamaternya, yang berpotensi menjadi sumber pendanaan khusus untuk pengembangan kompetensi pengajar.
  • Kerja sama dengan lembaga filantropi Islam — sejumlah lembaga zakat dan wakaf memiliki program pemberdayaan pendidikan yang bisa disinergikan dengan kebutuhan pengembangan SDM pesantren.
  • Memprioritaskan format daring untuk kompetensi wajib lintas pengajar — mengurangi biaya transport dan akomodasi yang signifikan pada pelatihan luring, terutama untuk pesantren di lokasi yang jauh dari pusat kota.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah pengajar diniyah tanpa gelar sarjana bisa mengikuti program pengembangan kompetensi formal?
Bisa, dan justru inilah salah satu kebutuhan paling penting. Program yang dirancang baik akan memisahkan antara pengakuan atas keahlian substantif yang sudah dimiliki pengajar (keilmuan agama) dengan kompetensi tambahan yang dibutuhkan untuk konteks administratif atau pedagogis modern — bukan menuntut pengajar mengulang jalur pendidikan formal dari awal.

Apakah materi pelatihan untuk guru madrasah berbeda dengan guru sekolah umum?
Kerangka kompetensi dasarnya sering serupa (misalnya penyusunan modul ajar atau manajemen kelas), tapi pendekatan penyampaian dan studi kasusnya perlu disesuaikan agar relevan dengan konteks nilai keislaman dan kehidupan pesantren, bukan disampaikan sebagai materi generik yang sama persis dengan sekolah umum.

Bagaimana menyeimbangkan pengembangan kompetensi guru mapel umum dan pengajar diniyah dalam satu program?
Sebagian kompetensi bisa dilatihkan bersama (misalnya manajemen kelas, literasi digital dasar), sementara kompetensi yang sangat spesifik pada masing-masing rumpun — pedagogi mata pelajaran umum di satu sisi, metodologi pengajaran kitab atau tahfiz di sisi lain — perlu jalur terpisah.

Apakah yayasan yang menaungi sekolah umum dan madrasah sekaligus perlu dua sistem pengembangan SDM yang berbeda?
Tidak sepenuhnya perlu terpisah. Kerangka umum seperti roadmap tahunan dan analisis kebutuhan pelatihan bisa dipakai bersama, tapi detail topik dan pendekatannya perlu disesuaikan mengingat perbedaan sistem administrasi (EMIS versus Dapodik) dan konteks nilai masing-masing unit.

Dari mana yayasan pesantren sebaiknya memulai bila belum pernah menjalankan program pengembangan SDM yang terstruktur?
Mulai dari pemetaan sederhana: berapa banyak pengajar diniyah yang belum memiliki kualifikasi formal yang diakui, dan berapa banyak pengajar yang kesulitan dengan sistem administrasi digital. Dua data ini biasanya sudah cukup untuk menentukan prioritas program pertama.

Mitra yang memahami konteks lembaga berbasis nilai

Pengembangan SDM di pesantren dan madrasah membutuhkan mitra pelatihan yang bersedia menyesuaikan pendekatan dengan nilai lembaga, bukan menawarkan materi generik yang sama untuk semua jenis institusi pendidikan. DEA Learning Center memiliki pengalaman menjalankan program yang disesuaikan dengan visi keislaman lembaga, termasuk pendekatan kepemimpinan melayani yang relevan bagi lembaga berbasis nilai Islam seperti Sekolah Islam Terpadu.

Program dapat dirancang untuk menjangkau guru mata pelajaran umum maupun tenaga kependidikan, dengan format yang fleksibel — daring maupun luring — serta skema biaya berjenjang yang lebih efisien bila peserta digabung lintas unit dalam satu yayasan.

Selengkapnya di halaman Pelatihan SDM untuk Yayasan Pendidikan, atau konsultasikan kebutuhan spesifik pesantren atau madrasah di bawah yayasan Anda melalui WhatsApp 0821-3735-9495.


Sumber:

  • Kementerian Agama Republik Indonesia — peluncuran EMIS 4.0 sebagai pengganti SIMPATIKA untuk pengelolaan data guru dan tenaga kependidikan madrasah, Januari 2025
  • Data Pokok Pendidikan (Dapodik) — sistem data pendidikan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, sebagai pembanding sistem EMIS Kementerian Agama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *