
Penilaian pembelajaran mendalam adalah asesmen yang menilai sejauh mana murid memahami, mengaplikasikan, dan merefleksikan apa yang dipelajari — bukan sekadar seberapa banyak yang diingat. Bentuknya tetap formatif dan sumatif seperti sebelumnya, tetapi penekanannya bergeser ke asesmen autentik dan holistik: tugas yang menyerupai situasi nyata, dan penilaian yang melihat sikap, pengetahuan, serta keterampilan sekaligus.
Halaman ini berisi format daftar nilai, rubrik yang bisa disalin, dan contoh kalimat deskripsi rapor. Tapi sebelum itu, ada satu salah kaprah yang perlu diluruskan lebih dulu, karena kalau terlewat, seluruh dokumen penilaian Anda bisa mengacu ke peraturan yang keliru.
Peraturan yang keliru dikutip hampir di mana-mana
Sejak Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses berlaku pada 5 Januari 2026, banyak panduan penilaian yang menulis “format penilaian sesuai Permendikdasmen 1/2026”. Itu tidak tepat.
Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 memang mengatur tiga hal: perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan penilaian proses pembelajaran. Tetapi “penilaian proses pembelajaran” di peraturan itu bukan nilai murid. Yang dinilai adalah pembelajarannya — dan pelakunya ada empat: pendidik yang bersangkutan, sesama pendidik, kepala satuan pendidikan, dan murid. Itu mekanisme refleksi dan supervisi, bukan daftar nilai.
Untuk nilai murid, peraturan itu secara tegas menyerahkannya ke tempat lain: asesmen pembelajaran mengacu pada standar penilaian pendidikan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Standar penilaian yang dimaksud sampai saat ini masih Permendikbudristek No. 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan, yang berstatus berlaku di JDIH Kemendikdasmen.
| Dokumen Anda | Mengacu ke | Yang diatur |
|---|---|---|
| Daftar nilai murid, rubrik, rapor | Permendikbudristek No. 21 Tahun 2022 | Mekanisme penilaian hasil belajar: perumusan tujuan, pelaksanaan, pengolahan, pelaporan |
| Rencana asesmen di dalam RPP | Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 | Perencanaan pembelajaran memuat tujuan, langkah, dan asesmen |
| Instrumen supervisi, refleksi guru, penilaian antar-guru | Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 | Penilaian proses pembelajaran oleh pendidik, sesama pendidik, kepala sekolah, dan murid |
| Rumusan capaian yang dinilai | Permendikdasmen No. 12 Tahun 2025 (Standar Isi) dan No. 10 Tahun 2025 (SKL) | Capaian pembelajaran per fase dan 8 Dimensi Profil Lulusan |
Konsekuensinya praktis: kalau di dokumen penilaian Anda tertulis “berdasarkan Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026” untuk daftar nilai murid, itu rujukan yang salah kamar dan bisa jadi catatan saat verifikasi dokumen.
Yang benar-benar berubah, dan yang tidak
Banyak guru menyangka pembelajaran mendalam membawa sistem penilaian baru. Tidak. Yang berubah adalah penekanannya.
| Aspek | Tetap | Bergeser |
|---|---|---|
| Bentuk asesmen | Formatif dan sumatif | — |
| Sifat tugas | — | Lebih autentik: menyerupai persoalan nyata, menilai proses dan produk |
| Cakupan | — | Lebih holistik: sikap, pengetahuan, keterampilan dilihat sebagai satu kesatuan |
| Rujukan capaian | Capaian pembelajaran per fase | Ditambah 8 Dimensi Profil Lulusan sebagai alur penilaian sumatif |
| Posisi asesmen | — | Menyatu dengan pengalaman belajar, bukan kegiatan terpisah di akhir |
Delapan Dimensi Profil Lulusan menurut Permendikdasmen No. 10 Tahun 2025: keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
Menempatkan asesmen pada tiga pengalaman belajar
Kerangka pembelajaran mendalam memakai tiga pengalaman belajar: memahami, mengaplikasi, merefleksi. Asesmen paling mudah disusun kalau mengikuti urutan itu.
| Pengalaman belajar | Jenis asesmen | Bentuk yang cocok | Masuk ke daftar nilai? |
|---|---|---|---|
| Memahami | Formatif (for learning) | Pertanyaan pemantik, tiket keluar, peta konsep, kuis singkat | Tidak — dipakai untuk umpan balik |
| Mengaplikasi | Formatif & sumatif | Unjuk kerja, produk, studi kasus, proyek | Ya, bila dirancang sebagai sumatif |
| Merefleksi | Formatif (as learning) | Jurnal reflektif, penilaian diri, penilaian antar-teman | Tidak — dicatat sebagai bukti perkembangan |
Kesalahan yang sering terjadi: semua aktivitas dimasukkan ke daftar nilai. Akibatnya guru punya 15 kolom nilai per bab dan tidak satu pun yang betul-betul menggambarkan capaian. Asesmen formatif tidak untuk dinilai angka; fungsinya memberi tahu Anda apa yang perlu diulang.
Kerangka daftar nilai yang bisa disalin
Salin struktur ini ke spreadsheet Anda. Satu baris satu murid, satu blok satu tujuan pembelajaran.
Bagian A — Identitas
- Mata pelajaran / Fase / Kelas / Semester
- Tahun ajaran
- Nama guru
- Capaian pembelajaran yang dituju (salin dari Standar Isi)
Bagian B — Kolom identitas murid
- No. urut
- Nama murid
- NISN
Bagian C — Asesmen formatif (tidak diangkakan)
- TP 1 — status: Belum / Sedang berkembang / Berkembang sesuai harapan / Melampaui
- TP 2 — status
- TP 3 — status
- Catatan tindak lanjut (diisi hanya untuk murid yang perlu penguatan)
Bagian D — Asesmen sumatif (diangkakan)
- Sumatif lingkup materi 1 — bentuk: [tes / unjuk kerja / produk / proyek] — nilai
- Sumatif lingkup materi 2 — bentuk — nilai
- Sumatif akhir semester — bentuk — nilai
- Nilai akhir (sebutkan cara pengolahannya: rata-rata, rata-rata berbobot, atau modus)
Bagian E — Bahan deskripsi rapor
- Capaian tertinggi murid (satu TP)
- Capaian yang masih perlu dikembangkan (satu TP)
- Dimensi Profil Lulusan yang paling menonjol
Bagian E inilah yang biasanya tidak disiapkan, lalu pada minggu terakhir semester guru harus membongkar lagi seluruh berkas untuk menulis deskripsi rapor. Mengisi dua kolom ini setiap selesai sumatif menghemat berhari-hari di akhir semester.
Dua jenis rubrik dan kapan memakainya
Rubrik holistik — untuk menilai cepat
Dipakai saat Anda perlu satu keputusan utuh atas sebuah karya. Cocok untuk tugas harian dan kelas besar.
| Level | Deskriptor yang bisa diamati |
|---|---|
| Melampaui | Menyelesaikan seluruh tugas, menjelaskan alasan tiap langkah, dan mengaitkannya dengan situasi lain di luar contoh yang diberikan |
| Berkembang sesuai harapan | Menyelesaikan seluruh tugas dengan langkah yang benar dan dapat menjelaskan alasannya saat ditanya |
| Sedang berkembang | Menyelesaikan sebagian tugas; langkah benar tetapi penjelasannya masih mengulang contoh |
| Belum berkembang | Belum menyelesaikan tugas tanpa bantuan langkah demi langkah |
Rubrik analitik — untuk memberi umpan balik
Dipakai saat murid perlu tahu persis bagian mana yang harus diperbaiki. Cocok untuk proyek dan unjuk kerja.
| Kriteria | Belum | Sedang berkembang | Sesuai harapan | Melampaui |
|---|---|---|---|---|
| Ketepatan isi | Lebih dari separuh informasi keliru | Sebagian informasi keliru | Seluruh informasi tepat | Tepat dan disertai sumber |
| Penalaran | Menyebut kesimpulan tanpa alasan | Memberi satu alasan | Memberi alasan dengan bukti | Menimbang lebih dari satu kemungkinan sebelum menyimpulkan |
| Penyajian | Sulit diikuti | Runtut tetapi bertele-tele | Runtut dan ringkas | Runtut, ringkas, dan disesuaikan dengan pendengarnya |
| Kemandirian | Bergantung penuh pada bantuan | Perlu diarahkan beberapa kali | Bekerja sendiri setelah instruksi awal | Mencari sendiri cara saat menemui hambatan |
Aturan yang membedakan rubrik berguna dari rubrik formalitas: deskriptor harus bisa diamati. Kata “baik”, “cukup”, “kurang” bukan deskriptor — itu label. Dua guru yang menilai karya yang sama dengan rubrik berlabel akan memberi hasil berbeda; dengan deskriptor yang bisa diamati, hasilnya mendekati sama.
Menulis deskripsi rapor tanpa mengarang
Deskripsi rapor yang baik menyebut apa yang murid bisa lakukan, bukan sifatnya. Polanya tiga bagian: capaian terkuat, bukti, lalu satu hal yang perlu dikembangkan.
Contoh: “Ananda mampu menyusun rantai makanan pada ekosistem di sekitar sekolah dan menjelaskan akibat hilangnya salah satu komponen, ditunjukkan melalui proyek pengamatan kebun sekolah. Perlu penguatan dalam menuliskan hasil pengamatan secara runtut.”
Hindari: “Ananda anak yang rajin dan baik.” Kalimat itu tidak memberi tahu orang tua apa pun tentang belajar anaknya, dan tidak bisa ditelusuri ke bukti mana pun di daftar nilai Anda.
Enam kesalahan yang paling sering ditemukan saat verifikasi
- Mengangkakan asesmen formatif. Formatif untuk umpan balik; begitu diangkakan, murid berhenti jujur menunjukkan apa yang belum ia pahami.
- Tujuan pembelajaran di daftar nilai berbeda dengan di RPP. Ini temuan paling cepat terdeteksi.
- Rubrik memakai label, bukan deskriptor. “Baik sekali / baik / cukup” tanpa penjelasan perilaku yang diamati.
- Cara pengolahan nilai akhir tidak ditulis. Rata-rata, rata-rata berbobot, dan modus menghasilkan angka berbeda; cara yang dipakai harus dinyatakan.
- Mengutip Permendikdasmen 1/2026 untuk penilaian hasil belajar murid. Seperti dijelaskan di atas, rujukannya Permendikbudristek 21/2022.
- Semua murid mendapat kalimat deskripsi rapor yang sama. Tanda bahwa Bagian E tidak diisi sepanjang semester.
Kalau sekolah Anda sedang menyiapkan penilaian akhir semester dan ingin formatnya ditinjau langsung oleh pendamping, lihat pelatihan asesmen di bagian bawah halaman ini.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa itu penilaian pembelajaran mendalam?
Penilaian pembelajaran mendalam adalah asesmen yang mengukur pemahaman, penerapan, dan refleksi murid, bukan hanya ingatan. Bentuknya tetap formatif dan sumatif, dengan penekanan pada tugas autentik yang menyerupai situasi nyata dan penilaian holistik atas sikap, pengetahuan, serta keterampilan.
Peraturan mana yang mengatur penilaian hasil belajar murid?
Permendikbudristek No. 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan, yang berstatus masih berlaku. Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 mengatur penilaian proses pembelajaran — yaitu penilaian atas perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran oleh pendidik — bukan nilai murid.
Apakah asesmen formatif dimasukkan ke rapor?
Tidak diangkakan. Asesmen formatif dipakai untuk memberi umpan balik dan menentukan tindak lanjut pembelajaran. Yang diolah menjadi nilai rapor adalah asesmen sumatif.
Apa bedanya asesmen autentik dan asesmen biasa?
Asesmen autentik menempatkan murid pada persoalan yang menyerupai kehidupan nyata dan menilai proses sekaligus produknya, misalnya proyek, unjuk kerja, atau studi kasus. Asesmen biasa umumnya menguji ingatan atas materi melalui tes tertulis.
Bagaimana cara mengolah nilai akhir semester?
Permendikbudristek 21/2022 tidak mewajibkan satu rumus tunggal. Satuan pendidikan menetapkan caranya sendiri — rata-rata, rata-rata berbobot, atau modus — dan cara itu harus dinyatakan dalam dokumen penilaian agar hasilnya dapat ditelusuri.
Apakah KKM masih dipakai?
Dalam kerangka kurikulum yang berlaku sekarang, satuan pendidikan menetapkan kriteria ketercapaian tujuan pembelajaran, bukan angka KKM tunggal untuk seluruh mata pelajaran. Kriteria itu dirumuskan per tujuan pembelajaran dan dapat berbentuk deskripsi, rubrik, atau interval nilai.
Belajar langsung bersama pendamping
DEA Learning Center membuka pelatihan penyusunan asesmen, bisa diikuti perorangan maupun dipesan satu sekolah menjelang penilaian akhir semester.
| Format | Struktur | JP | Topik yang relevan |
|---|---|---|---|
| Webinar | 2 jam 15 menit, in service learning | 3 JP | Strategi Adaptasi Kurikulum untuk Pembelajaran Bermakna |
| Kelas Intensif | 3 sesi × 4 JP kelas + 10 JP praktik mandiri, maks. 5 hari | 22 JP | Menyusun Asesmen Pembelajaran yang Sederhana dan Tepat |
| Bootcamp | 6 sesi × 4 JP kelas + 20 JP praktik mandiri, maks. 10 hari | 44 JP | Deep Learning: Dari Konsep ke Praktik Kelas |
Biaya per peserta (pelatihan daring)
| Format | 5 peserta | 10 | 15 | 20 | 25 |
|---|---|---|---|---|---|
| Webinar | 850.000 | 700.000 | 550.000 | 325.000 | 300.000 |
| Kelas Intensif | 2.500.000 | 2.250.000 | 1.750.000 | 1.500.000 | 1.250.000 |
| Bootcamp | 4.000.000 | 3.500.000 | 3.000.000 | 2.500.000 | 2.000.000 |
Pelatihan luring dikenakan tambahan biaya operasional dan logistik sesuai kota tujuan. Semua format mencakup akses softcopy materi seumur hidup, pendampingan oleh mentor ahli, lebih dari 100 topik yang dapat dikustomisasi, e-sertifikat, dan akses rekaman kelas.
Lihat Program & Daftar · Konsultasi Sekarang
Untuk pemesanan tingkat sekolah atau yayasan, lihat juga program untuk sekolah dan lembaga.
Bacaan terkait
- Evaluasi dan penilaian pembelajaran mendalam — konsep dan prinsipnya
- RPP pembelajaran mendalam: komponen, format, dan contoh
- Contoh instrumen supervisi akademik dan refleksi pembelajaran
- Asesmen diagnostik non-kognitif awal semester
Ditinjau oleh Dwi Esti Andriani, Ed.D.
Educational Leadership & Management, University of Western Australia. Dosen dan mantan Kepala Departemen S1 Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri Yogyakarta.
Rujukan: Permendikbudristek No. 21 Tahun 2022 tentang Standar Penilaian Pendidikan · Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses · Permendikdasmen No. 10 Tahun 2025 tentang Standar Kompetensi Lulusan · Permendikdasmen No. 12 Tahun 2025 tentang Standar Isi · Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025.
