
Tahun Ajaran 2026/2027 bukan tahun ajaran biasa. Inilah titik berakhirnya masa transisi Kurikulum Merdeka — termasuk bagi sekolah di wilayah 3T yang sebelumnya masih diberi kelonggaran. Artinya, mulai Juli 2026, menyusun Modul Ajar dan ATP yang sesuai Capaian Pembelajaran (CP) terbaru bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban bagi seluruh satuan pendidikan di Indonesia, tanpa kecuali.
Masalahnya, banyak guru masih menyusun ATP dan Modul Ajar dengan cara lama: menyalin contoh dari internet, mengganti nama sekolah, lalu mencetaknya untuk arsip administrasi. Padahal, regulasi terbaru — terutama Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 yang merevisi Permendikbudristek Nomor 12 Tahun 2024 — membawa sejumlah penyesuaian penting pada cara CP diturunkan menjadi ATP, dan bagaimana Modul Ajar seharusnya mencerminkan prinsip pembelajaran mendalam (deep learning).
Artikel ini disusun oleh tim akademik Dea Learning Center sebagai panduan kerja, bukan sekadar teori. Anda akan mendapatkan alur logis dari CP hingga Modul Ajar, langkah penyusunan ATP yang runtut, contoh penurunan tujuan pembelajaran, hingga kerangka Modul Ajar yang siap dimodifikasi sesuai kelas Anda.
Mengapa TA 2026/2027 Jadi Titik Krusial untuk ATP dan Modul Ajar
Selama dua tahun terakhir, Kurikulum Merdeka berstatus sebagai kurikulum nasional dengan masa transisi — sekolah di luar wilayah 3T diberi waktu hingga TA 2025/2026, sementara sekolah di wilayah 3T diberi kelonggaran hingga TA 2026/2027. Mulai tahun ajaran ini, masa transisi tersebut resmi berakhir. Tidak ada lagi sekolah yang bisa bertahan dengan kurikulum lama sambil menunggu “nanti-nanti saja”.
Ada tiga perubahan konkret yang langsung memengaruhi cara Anda menyusun ATP dan Modul Ajar:
- CP yang diperbarui. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menerbitkan pembaruan CP melalui Keputusan Kepala BSKAP — salah satunya berlaku untuk kelas-kelas awal (IV, VII, dan X) dan satu lagi untuk kelas yang sudah berjalan. Jika ATP Anda masih merujuk pada dokumen CP versi lama, kemungkinan besar sudah tidak sinkron dengan ketentuan terbaru.
- Pembelajaran mendalam menjadi prinsip wajib, bukan sekadar tren. Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 secara eksplisit menjadikan pembelajaran mendalam sebagai pendekatan yang harus tercermin dalam kegiatan inti Modul Ajar — bukan lagi opsi tambahan untuk guru yang “ingin tampil beda”.
- Struktur kokurikuler berubah. Jika sebelumnya kokurikuler identik dengan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), kini bentuknya lebih fleksibel: bisa berupa pembelajaran kolaboratif lintas mata pelajaran, Gerakan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, atau bentuk lain yang ditetapkan satuan pendidikan. Ini berimplikasi pada bagaimana Anda memetakan alokasi waktu di Prota dan Promes.
Jika sekolah Anda belum melewati semua checklist administratif menjelang tahun ajaran baru, kami sudah membahasnya secara lengkap di artikel Persiapan Tahun Ajaran Baru 2026/2027: Checklist Wajib Guru. Artikel kali ini berfokus lebih dalam khusus pada dua dokumen yang paling sering membuat guru kebingungan: ATP dan Modul Ajar.
Belum yakin sekolah Anda sudah siap penuh menghadapi Kurikulum Nasional 2026? Baca dulu pemetaan lengkapnya di artikel Siap Kurikulum Nasional 2026? Guru Wajib Pelatihan!
Alur Logis: dari CP, TP, ATP, hingga Modul Ajar
Sebelum masuk ke langkah praktis, penting untuk meluruskan satu kesalahpahaman yang sering terjadi di lapangan: ATP bukan dokumen yang berdiri sendiri, dan Modul Ajar bukan dokumen yang disusun dari nol tanpa rujukan. Keempatnya membentuk satu alur yang harus berurutan dan konsisten.
| Dokumen | Fungsi | Disusun oleh | Cakupan Waktu |
|---|---|---|---|
| CP (Capaian Pembelajaran) | Kompetensi akhir yang harus dikuasai siswa di akhir satu fase | Pemerintah (BSKAP) | 1 fase (2–3 tahun) |
| TP (Tujuan Pembelajaran) | Penurunan CP menjadi kompetensi yang lebih spesifik dan terukur | Guru/satuan pendidikan | Per unit/lingkup materi |
| ATP (Alur Tujuan Pembelajaran) | Rangkaian TP yang disusun secara kronologis dari awal hingga akhir fase | Guru/satuan pendidikan | 1 fase, dipecah per tahun/semester |
| Modul Ajar | Rencana operasional pembelajaran harian/mingguan yang mengacu pada ATP | Guru | Per pertemuan/unit |
Logikanya sederhana: CP menjawab “siswa harus bisa apa di akhir fase”, TP memecahnya menjadi potongan yang bisa diajarkan, ATP menyusun potongan itu menjadi urutan belajar yang masuk akal, dan Modul Ajar mengubahnya menjadi aktivitas nyata di kelas. Kesalahan yang paling sering terjadi adalah guru langsung melompat ke Modul Ajar tanpa menyusun ATP terlebih dahulu — akibatnya, urutan materi antarpertemuan terasa acak dan sulit dipertanggungjawabkan saat supervisi.
Langkah-Langkah Menyusun ATP untuk TA 2026/2027
ATP yang baik tidak harus rumit, tetapi harus runtut secara logika berpikir siswa — dari yang sederhana ke yang kompleks, dari konkret ke abstrak. Berikut langkah praktis yang bisa langsung Anda terapkan.
1. Unduh dan Baca Ulang CP Resmi Sesuai Fase yang Diampu
Jangan gunakan dokumen CP hasil simpanan tahun lalu. Pastikan Anda mengunduh versi terbaru melalui akun belajar.id di Platform Merdeka Mengajar (PMM) — menu Kurikulum Merdeka > Capaian Pembelajaran, atau melalui laman resmi guru.kemdikbud.go.id. Periksa apakah kelas yang Anda ampu termasuk kelas awal (yang menggunakan CP edisi revisi terbaru) atau kelas berjalan (yang masih mengacu pada keputusan sebelumnya). Kekeliruan paling umum di titik ini adalah guru menyusun ATP dari dokumen CP yang sudah tidak berlaku — fatal, karena seluruh dokumen turunannya otomatis tidak sinkron.
2. Pecah CP Menjadi Tujuan Pembelajaran (TP) yang Terukur
Satu kalimat CP biasanya memuat beberapa kompetensi sekaligus. Tugas Anda adalah memecahnya menjadi TP yang masing-masing hanya memuat satu kompetensi inti, menggunakan kata kerja operasional yang bisa diamati dan diukur — misalnya “mengidentifikasi”, “menganalisis”, “membandingkan”, atau “memproduksi”, bukan kata kerja yang ambigu seperti “memahami” tanpa indikator lanjutan.
Contoh penurunan (Matematika, Fase D, elemen Bilangan):
| Komponen | Isi |
|---|---|
| CP (ringkas) | Peserta didik mampu menggeneralisasi sifat operasi bilangan (bulat, pecahan, desimal), memberikan estimasi dalam penyelesaian masalah literasi finansial, serta menentukan pola pada barisan bilangan. |
| TP 1 | Mengidentifikasi sifat-sifat operasi pada bilangan bulat |
| TP 2 | Mengoperasikan bilangan pecahan dan desimal dalam konteks transaksi sehari-hari |
| TP 3 | Memperkirakan hasil estimasi dalam masalah literasi finansial sederhana |
| TP 4 | Menentukan pola dan suku berikutnya pada barisan bilangan |
3. Urutkan TP Menjadi ATP Berdasarkan Logika Belajar, Bukan Urutan Buku Teks
Inilah inti dari ATP: bukan sekadar daftar TP, melainkan urutan TP yang disusun berdasarkan kesiapan kognitif siswa. Tanyakan pada diri sendiri untuk setiap pasangan TP: “Apakah TP ini butuh pemahaman dari TP sebelumnya untuk bisa dikuasai?” Jika ya, urutannya sudah benar. Jika tidak ada keterkaitan logis, urutan tersebut masih bisa dipertukarkan dan perlu dipertimbangkan ulang berdasarkan tingkat kesulitan.
Pada contoh di atas, urutan TP1 → TP2 → TP3 → TP4 masuk akal karena: pemahaman sifat bilangan bulat (TP1) menjadi fondasi sebelum siswa mengoperasikan pecahan dan desimal (TP2), kemampuan mengoperasikan itu baru bisa diterapkan dalam estimasi kontekstual (TP3), dan barisan bilangan (TP4) memerlukan kestabilan pemahaman operasi dasar yang sudah dibangun di tahap sebelumnya.
4. Sebar ATP ke Prota dan Promes
Setelah ATP final, distribusikan ke Program Tahunan (Prota) dan Program Semester (Promes) dengan memperhitungkan minggu efektif riil — bukan asumsi 18-19 minggu generik, tetapi hasil perhitungan dari kalender pendidikan dinas setempat yang sudah dikurangi hari libur nasional, PTS, PAS, dan kegiatan sekolah lain. Sisihkan juga slot untuk kegiatan kokurikuler (kolaboratif lintas mapel atau G7KAIH) yang kini lebih fleksibel bentuknya.
5. Lakukan Uji Silang dengan Guru Sejawat Satu Fase
ATP yang disusun sendirian rawan bias terhadap gaya mengajar pribadi. Sebelum difinalisasi, diskusikan dengan rekan guru satu mata pelajaran atau satu fase — terutama untuk memastikan tidak ada kompetensi yang tumpang tindih atau justru terlewat antarjenjang kelas dalam fase yang sama.
Cara Menyusun Modul Ajar yang Selaras dengan Pembelajaran Mendalam
Setelah ATP rampung, Modul Ajar adalah tahap eksekusi. Modul Ajar yang baik untuk TA 2026/2027 tidak cukup hanya memuat “apa yang diajarkan” — ia juga harus menunjukkan bagaimana tiga prinsip pembelajaran mendalam diwujudkan: berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful).
Komponen Wajib dalam Modul Ajar
Tidak ada format Modul Ajar yang dibakukan secara nasional — guru bebas mengembangkan formatnya sendiri. Namun, agar selaras dengan semangat pembelajaran mendalam, pastikan komponen berikut selalu ada:
- Informasi Umum — identitas modul, kelas/fase, alokasi waktu, dan model pembelajaran yang dipilih (Discovery Learning, Problem-Based Learning, Project-Based Learning, dan sejenisnya).
- Tujuan Pembelajaran — diambil langsung dari ATP yang sudah Anda susun, bukan dirumuskan ulang secara terpisah.
- Pemahaman Bermakna — satu hingga dua kalimat yang menjelaskan relevansi materi dengan kehidupan nyata siswa. Bagian ini sering dilewatkan, padahal inilah yang membedakan modul yang sekadar administratif dengan modul yang benar-benar dirancang untuk bermakna.
- Pertanyaan Pemantik — pertanyaan terbuka di awal pembelajaran yang memancing rasa ingin tahu, bukan pertanyaan tertutup yang langsung bisa dijawab ya/tidak.
- Kegiatan Pembelajaran — dipecah menjadi tiga tahapan pengalaman belajar mendalam: Memahami (siswa membangun pemahaman awal dari eksplorasi), Mengaplikasi (siswa menghubungkan pemahaman dengan masalah nyata atau proyek), dan Merefleksi (siswa meninjau ulang proses dan hasil belajarnya sendiri).
- Asesmen — minimal mencakup asesmen formatif di sepanjang proses, bukan hanya tes tertulis di akhir.
- KKTP (Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran) — indikator konkret yang menunjukkan bahwa siswa benar-benar sudah mencapai tujuan pembelajaran, bukan sekadar “mengikuti” pelajaran.
Contoh Kerangka Modul Ajar Singkat
Berikut kerangka ringkas yang bisa Anda jadikan acuan dan modifikasi sesuai mata pelajaran serta jenjang yang diampu:
Informasi Umum
- Mata Pelajaran/Fase: Bahasa Indonesia / Fase D (Kelas 7)
- Alokasi Waktu: 2 × 40 menit
- Model: Problem-Based Learning
Tujuan Pembelajaran Peserta didik mampu mengidentifikasi struktur dan ciri kebahasaan teks deskripsi dari objek di lingkungan sekitar.
Pemahaman Bermakna Kemampuan mendeskripsikan sesuatu secara detail dan runtut akan membantu siswa menyampaikan informasi secara jelas, baik dalam tulisan maupun percakapan sehari-hari.
Pertanyaan Pemantik “Jika kamu harus menjelaskan tempat favoritmu di sekolah kepada siswa baru tanpa menunjukkannya langsung, bagian apa yang akan kamu ceritakan dulu?”
Kegiatan Pembelajaran
- Memahami: Siswa membaca dua contoh teks deskripsi dan mengidentifikasi pola strukturnya secara berkelompok.
- Mengaplikasi: Siswa menulis teks deskripsi singkat tentang satu sudut sekolah pilihan mereka, menerapkan struktur yang sudah diidentifikasi.
- Merefleksi: Siswa saling bertukar tulisan dengan teman, memberi masukan, lalu menuliskan satu hal yang ingin diperbaiki dari tulisannya sendiri.
Asesmen Rubrik penilaian teks deskripsi (kelengkapan struktur, ketepatan ciri kebahasaan, kejelasan deskripsi).
Modul seperti ini bisa Anda kembangkan untuk pertemuan-pertemuan berikutnya sesuai urutan ATP yang sudah disusun. Jika Anda mengampu jenjang SD dan ingin referensi yang lebih spesifik untuk pendekatan deep learning, kami sudah membahasnya tuntas di Panduan Lengkap Menyusun Modul Ajar Deep Learning SD. Untuk guru IPAS, ada panduan per fase lengkap dengan cara memodifikasi konteks lokal di artikel Modul Ajar IPAS SD per Fase + Cara Modifikasi Konteks Lokal.
Tips mempercepat penyusunan: Anda tidak perlu menulis seluruh Modul Ajar dari nol. Gunakan AI sebagai pembuat draf awal, lalu sesuaikan dengan konteks kelas Anda. Kumpulan prompt siap pakai tersedia di artikel 30 Prompt AI Terbaik untuk Guru 2026.
Kesalahan Umum yang Membuat ATP & Modul Ajar Tidak Efektif
Sebelum dokumen Anda dianggap “selesai”, periksa apakah salah satu kesalahan berikut masih ada:
1. ATP disusun mengikuti urutan bab di buku teks, bukan logika belajar siswa. Buku teks disusun untuk kemudahan penerbitan, bukan selalu untuk urutan kognitif yang optimal. ATP yang baik boleh saja mengubah urutan bab jika itu lebih masuk akal secara pedagogis.
2. Tujuan Pembelajaran ditulis terlalu luas sehingga sulit diukur. TP seperti “siswa memahami materi X” tidak memberi indikator yang jelas kapan siswa dianggap berhasil. Selalu sertakan kata kerja operasional dan, jika perlu, batasan konteks.
3. Modul Ajar tidak mencantumkan Pemahaman Bermakna dan Pertanyaan Pemantik secara substantif. Banyak guru mengisi kedua bagian ini sekadar formalitas administratif, padahal justru di sinilah letak elemen meaningful dan mindful dari pembelajaran mendalam.
4. Kegiatan inti tidak benar-benar mencerminkan tiga tahap pengalaman belajar. Sering ditemukan modul yang menuliskan label “Memahami”, “Mengaplikasi”, “Merefleksi” tetapi isinya tetap berupa ceramah satu arah dari awal sampai akhir. Label tanpa perubahan metode pembelajaran tidak memberi dampak apa pun bagi siswa.
5. Asesmen hanya dirancang di akhir, tanpa asesmen diagnostik di awal. Tanpa data awal tentang kesiapan siswa, Modul Ajar berisiko dirancang untuk siswa “rata-rata” yang sebenarnya tidak ada di kelas mana pun. Panduan menyusun asesmen ini bisa Anda baca di Cara Membuat Asesmen Diagnostik Non-Kognitif di Awal Semester.
Percepat Penyusunan ATP & Modul Ajar Bersama Mentor Ahli
Menyusun ATP dan Modul Ajar yang benar-benar selaras dengan CP terbaru dan prinsip pembelajaran mendalam membutuhkan waktu — dan sering kali, satu set mata yang lebih berpengalaman untuk mengoreksi langsung di mana letak kelemahannya.
Dea Learning Center menyediakan pendampingan terstruktur melalui dua jenjang program:
- Kelas Intensif (22 JP) — diskusi strategis, praktik terbatas menyusun ATP dan Modul Ajar, serta reviu langsung dari mentor akademik. Tersedia format Zoom maupun luring.
- Bootcamp (44 JP) — pembelajaran mendalam berbasis studi kasus riil sekolah Anda, mencakup penyusunan ATP satu fase penuh dan Modul Ajar siap pakai untuk semester pertama, dengan bimbingan intensif layaknya konsultan internal.
Kedua program dirancang kolektif (minimal 10 peserta per institusi) sehingga guru bisa belajar dan saling mengoreksi bersama rekan sejawat di sekolah yang sama — bukan sekadar mendengarkan teori sendirian.
Wujudkan Persiapan Tahun Ajaran 2026/2027 yang Lebih Matang
Jadwalkan sesi konsultasi gratis bersama tim Dea Learning Center untuk menentukan program yang paling sesuai kebutuhan sekolah/yayasan Anda.
Hubungi WhatsApp: +62 821-3735-9495 (MinDEA) Lihat detail program di Kelas Intensif dan Bootcamp
Kesimpulan
Menyusun Modul Ajar dan ATP untuk Tahun Ajaran 2026/2027 menuntut lebih dari sekadar mengisi format administratif. Dengan berakhirnya masa transisi Kurikulum Merdeka di tahun ini, setiap satuan pendidikan dituntut menyusun dokumen yang benar-benar runtut secara logika belajar — mulai dari CP yang sudah diperbarui, diturunkan menjadi TP yang terukur, dirangkai menjadi ATP yang masuk akal secara kognitif, hingga diwujudkan dalam Modul Ajar yang sungguh-sungguh mencerminkan prinsip mindful, meaningful, dan joyful.
Anggaplah proses ini sebagai investasi di awal tahun ajaran, bukan beban administratif yang harus segera dilewati. ATP dan Modul Ajar yang disusun dengan benar di bulan Juni–Juli akan menghemat berjam-jam kebingungan Anda setiap minggu sepanjang semester berjalan.
Ingin tim pendidik di sekolah Anda menyusun ATP dan Modul Ajar yang siap pakai sebelum tahun ajaran baru dimulai? Hubungi tim Dea Learning Center untuk berkonsultasi mengenai program pendampingan yang sesuai kebutuhan institusi Anda.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
1. Apa perbedaan utama antara ATP dan Modul Ajar? ATP adalah peta jalan satu fase penuh berisi urutan Tujuan Pembelajaran, sedangkan Modul Ajar adalah rencana operasional untuk satu atau beberapa pertemuan yang mengacu pada urutan di dalam ATP. ATP menjawab “apa yang dipelajari dan dalam urutan apa”, Modul Ajar menjawab “bagaimana hal itu diajarkan di kelas”.
2. Apakah ATP harus dibuat ulang setiap tahun ajaran? Tidak harus dari nol, tetapi wajib direview. Jika ada pembaruan CP dari Kepala BSKAP untuk fase yang Anda ampu, ATP wajib disesuaikan. Jika CP tidak berubah, ATP lama masih bisa dipakai dengan penyesuaian kecil pada distribusi waktu sesuai kalender akademik baru.
3. Berapa lama waktu yang realistis untuk menyusun ATP satu mata pelajaran satu fase? Untuk guru yang sudah terbiasa, penyusunan ATP satu fase biasanya membutuhkan 1–2 hari kerja fokus. Bagi guru yang baru pertama kali menyusun dari CP terbaru, alokasikan waktu lebih panjang, sekitar 3–5 hari kerja, terutama untuk proses validasi bersama rekan sejawat.
4. Apakah Modul Ajar wajib mencantumkan label “Memahami, Mengaplikasi, Merefleksi” secara eksplisit? Tidak ada kewajiban format baku secara nasional, namun mencantumkan ketiga tahap ini secara eksplisit membantu guru — dan kepala sekolah saat supervisi — memastikan bahwa kegiatan inti benar-benar mencerminkan pengalaman belajar mendalam, bukan sekadar ceramah satu arah yang diberi label baru.
5. Di mana bisa mendapatkan contoh CP dan ATP resmi sebagai rujukan? Rujukan resmi tersedia melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM) di guru.kemdikbud.go.id menggunakan akun belajar.id. Pastikan selalu mengecek versi CP terbaru sesuai Keputusan Kepala BSKAP yang berlaku untuk kelas yang Anda ampu, karena dokumen ini dapat diperbarui dari waktu ke waktu.
Artikel ini diterbitkan oleh Dea Learning Center — lembaga pelatihan profesional untuk guru, peneliti, dan tenaga kependidikan. Kami hadir untuk mendampingi guru Indonesia menyusun perangkat ajar yang terstruktur, bermakna, dan siap menghadapi Tahun Ajaran 2026/2027.
