beda rpp dan modul ajar
beda rpp dan modul ajar

Apa itu RPP, modul ajar, dan RPM?

RPP, modul ajar, dan RPM adalah tiga nama untuk satu jenis dokumen yang sama: rencana pembelajaran yang dibuat guru sebelum mengajar. Yang membedakan hanyalah zaman dan istilah. RPP adalah istilah resmi yang dipakai kembali dalam Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026; modul ajar adalah istilah era Kurikulum Merdeka; RPM (Rencana Pembelajaran Mendalam) adalah sebutan populer di kalangan guru untuk RPP yang disusun dengan pendekatan pembelajaran mendalam.

Guru hanya perlu membuat satu dokumen. Kalau di sekolah Anda diminta membuat RPP dan modul ajar sekaligus untuk materi yang sama, itu duplikasi administratif, bukan tuntutan regulasi.

RPP (K-13) Modul Ajar RPP / RPM Pembelajaran Mendalam
Masa pakai 2013–2022 2022–2025 2026–sekarang
Acuan Permendikbud 22/2016, disederhanakan lewat SE Mendikbud 14/2019 Permendikbudristek 16/2022 Permendikdasmen 1/2026 (Standar Proses)
Sasaran karakter Penguatan Pendidikan Karakter Profil Pelajar Pancasila (6 dimensi) Profil Lulusan (8 dimensi)
Struktur kegiatan inti Eksplorasi – elaborasi – konfirmasi, lalu 5M saintifik Pemahaman bermakna, pertanyaan pemantik, kegiatan berdiferensiasi Memahami – mengaplikasi – merefleksi
Prinsip utama Saintifik Berdiferensiasi, berpusat pada murid Berkesadaran, bermakna, menggembirakan
Panjang khas 5–15 halaman, lalu disederhanakan jadi 1 halaman 5–20 halaman termasuk LKPD dan bahan ajar Tidak diatur; 2–3 halaman untuk 1–2 pertemuan
Kelengkapan Dokumen rencana saja Rencana + LKPD + bahan ajar + asesmen dalam satu paket Rencana; lampiran menyesuaikan kebutuhan

Kenapa istilahnya berganti-ganti?

Perubahan nama mengikuti perubahan peraturan yang mendasarinya, bukan perubahan tugas guru.

  • 2013–2022: RPP. Diatur Permendikbud No. 22 Tahun 2016. Sempat memuat 13 komponen, lalu disederhanakan lewat Surat Edaran Mendikbud No. 14 Tahun 2019 menjadi tiga komponen inti: tujuan, kegiatan, dan asesmen. Inilah yang populer disebut “RPP satu lembar”.
  • 2022–2025: modul ajar. Muncul bersama Kurikulum Merdeka lewat Permendikbudristek No. 16 Tahun 2022. Bedanya dengan RPP: modul ajar dirancang sebagai paket lengkap — rencana, LKPD, bahan ajar, dan instrumen asesmen jadi satu.
  • 2026–sekarang: kembali ke istilah RPP. Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses berlaku sejak 5 Januari 2026 dan menggantikan Permendikbudristek No. 16 Tahun 2022. Regulasi ini menggunakan istilah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

Dari mana istilah RPM muncul?

RPM adalah singkatan dari Rencana Pembelajaran Mendalam. Istilah ini tidak muncul dalam teks Permendikdasmen — ia lahir dari komunitas guru dan penyedia materi pelatihan setelah Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 terbit pada 23 Juli 2025 dan memperkenalkan pendekatan pembelajaran mendalam.

Praktisnya: RPM = RPP yang disusun dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Tidak salah memakai istilah RPM dalam percakapan sehari-hari. Tetapi untuk dokumen resmi — perangkat yang dikumpulkan ke pengawas, berkas supervisi, atau lampiran akreditasi — gunakan istilah RPP, karena itu yang tertulis di regulasi.

Yang sering keliru: menganggap RPM sebagai dokumen tambahan di luar RPP. Tidak ada kewajiban membuat dua dokumen. Kalau sekolah meminta keduanya, tanyakan dasar aturannya — biasanya ini kebijakan internal, bukan ketentuan Permendikdasmen.

Contoh berdampingan: satu materi, tiga format

Materi yang sama — perbandingan senilai, Matematika kelas 5 — ditulis dalam tiga format berbeda. Perhatikan bagian kegiatan intinya.

Bagian Gaya RPP K-13 Gaya Modul Ajar Gaya RPP Pembelajaran Mendalam
Pembuka Apersepsi: guru mengingatkan materi pecahan minggu lalu Pertanyaan pemantik: “Kalau resep untuk 4 orang, bagaimana untuk 10 orang?” Guru menyampaikan tujuan dengan bahasa siswa dan menanyakan apa yang sudah mereka ketahui
Inti Mengamati contoh soal → menanya → mencoba → menalar → mengomunikasikan Pemahaman bermakna disampaikan, siswa mengerjakan LKPD berdiferensiasi 3 level Memahami: siswa membandingkan dua resep nyata dari rumah.
Mengaplikasi: menggandakan resep untuk acara kelas sungguhan.
Merefleksi: menulis cara yang mereka temukan untuk mempercepat hitungan
Penutup Guru menyimpulkan, memberi PR Refleksi singkat: “apa yang kamu pelajari hari ini?” Jurnal belajar yang dibaca guru dan dipakai sebagai bahan pertemuan berikutnya
Asesmen Tes tertulis di akhir bab Diagnostik, formatif, sumatif Sama, dengan penegasan penilaian proses tidak hanya berbasis tes

Perbedaan yang paling menentukan ada di kolom terakhir baris “inti”: pada format pembelajaran mendalam, siswa menerapkan ke situasi nyata dan merefleksikan prosesnya, bukan berhenti di lembar kerja.

Cara mengubah RPP atau modul ajar lama menjadi versi pembelajaran mendalam

Tidak perlu menulis ulang dari nol. Lima langkah ini cukup untuk sebagian besar dokumen yang sudah ada:

  1. Ganti sasaran karakter. Hapus dimensi Profil Pelajar Pancasila, ganti dengan 1–3 dari 8 Dimensi Profil Lulusan: keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, komunikasi. Dasarnya Permendikdasmen No. 10 Tahun 2025.
  2. Susun ulang kegiatan inti jadi tiga tahap. Aktivitas yang sudah ada biasanya tinggal dikelompokkan: yang membangun pengetahuan masuk memahami, yang menerapkan masuk mengaplikasi, dan yang menutup dijadikan merefleksi dengan alokasi waktu tersendiri.
  3. Tambahkan satu penerapan ke konteks nyata. Ini bagian yang biasanya belum ada. Cari satu titik di mana materi bisa dipakai di lingkungan siswa — bukan soal cerita, tapi situasi sungguhan.
  4. Isi bagian kesiapan siswa dengan data. Ganti kalimat “siswa memiliki kemampuan beragam” dengan sebaran hasil asesmen awal yang sebenarnya.
  5. Pastikan refleksi menghasilkan sesuatu yang dibaca guru. Jurnal, kartu keluar kelas, atau tiga kalimat di buku tulis — bentuknya bebas, asal ditindaklanjuti.

Langkah 2 dan 3 yang benar-benar mengubah kualitas pembelajaran. Tiga langkah lain sifatnya administratif.

Lima langkah konversi di atas terlihat sederhana, tapi langkah 2 dan 3 — menyusun ulang kegiatan inti dan menemukan penerapan ke konteks nyata — yang biasanya butuh latihan bersama orang lain. Lihat program pendampingannya di bawah.

Jadi, dokumen mana yang harus saya buat?

  • Untuk dokumen resmi tahun ajaran 2026/2027: buat RPP dengan kerangka pembelajaran mendalam. Satu dokumen, bukan dua.
  • Kalau sekolah masih memakai istilah modul ajar: tidak masalah, isinya yang penting sudah memuat memahami–mengaplikasi–merefleksi dan 8 Dimensi Profil Lulusan.
  • Kalau pengawas meminta RPM: yang dimaksud adalah RPP pembelajaran mendalam. Dokumen yang sama, penamaan berkasnya saja disesuaikan.
  • Kalau diminta RPP dan modul ajar sekaligus: tanyakan dasar aturannya sebelum mengerjakan dua kali.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah RPP dan modul ajar sama?

Secara fungsi, sama — keduanya adalah rencana pembelajaran yang dibuat guru sebelum mengajar. Perbedaannya pada era dan kelengkapan: modul ajar era Kurikulum Merdeka dirancang sebagai paket lengkap berisi rencana, LKPD, bahan ajar, dan asesmen, sedangkan RPP fokus pada dokumen rencananya.

Apakah modul ajar sudah tidak dipakai lagi?

Istilahnya masih banyak dipakai di sekolah dan isinya sebagian besar tetap relevan. Yang berubah adalah acuan regulasinya — Permendikbudristek No. 16 Tahun 2022 digantikan Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 — sehingga kerangka kegiatan inti dan sasaran karakternya perlu disesuaikan.

RPM adalah apa?

RPM adalah Rencana Pembelajaran Mendalam, sebutan populer di kalangan guru untuk RPP yang disusun dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Istilah ini tidak muncul dalam teks Permendikdasmen; istilah resminya tetap Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

Apakah RPP satu lembar masih boleh?

Permendikdasmen No. 1 Tahun 2026 tidak mengatur jumlah halaman. Yang penting seluruh komponen — identifikasi, desain pembelajaran, pengalaman belajar, dan asesmen — termuat. Dokumen ringkas yang benar-benar dipakai lebih baik daripada dokumen tebal yang hanya diarsipkan.

Apakah Kurikulum Merdeka dihapus?

Tidak. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 bukan kurikulum baru, melainkan rangkaian terpadu dari beberapa peraturan dengan pendekatan integratif. Pembelajaran mendalam adalah cara menjalankan kurikulum, bukan penggantinya.

Belajar langsung bersama pendamping

Program DEA Learning Center

Pelatihan Tenaga Pendidik

Untuk guru semua jenjang, tentor, fasilitator pembelajaran, praktisi pendidikan, dan mahasiswa pendidikan. Tiga format, tinggal pilih sesuai waktu yang Anda punya.

Format Topik yang paling terkait artikel ini
Webinar
3 JP · 2 jam 15 menit
In service learning
Strategi Adaptasi Kurikulum untuk Pembelajaran Bermakna · Optimalisasi Modul Ajar dalam Implementasi Deep Learning
Kelas Intensif
22 JP · 3 sesi + 5 hari praktik
12 JP kelas + 10 JP praktik mandiri
Praktik Menyusun Modul Ajar yang Praktis dengan AI · Menyusun Asesmen Pembelajaran yang Sederhana dan Tepat
Bootcamp
44 JP · 6 sesi + 10 hari praktik
24 JP kelas + 20 JP praktik mandiri
Deep Learning: Dari Konsep ke Praktik Kelas

Biaya per peserta — makin banyak peserta, makin murah per orang:

Format 5 peserta 10 15 20 25
Webinar 850.000 700.000 550.000 325.000 300.000
Kelas Intensif 2.500.000 2.250.000 1.750.000 1.500.000 1.250.000
Bootcamp 4.000.000 3.500.000 3.000.000 2.500.000 2.000.000

Berlaku untuk pelatihan daring. Pelatihan luring ada tambahan biaya operasional dan logistik sesuai kota tujuan.

Semua format sudah termasuk:

  • Akses softcopy materi seumur hidup
  • Pendampingan profesional oleh mentor ahli
  • Lebih dari 100 topik yang bisa dikustomisasi sesuai kebutuhan
  • Softcopy e-sertifikat
  • Akses recording kelas kapan saja, gratis

Lihat Program & Daftar
Konsultasi Sekarang

Untuk sekolah dan lembaga: perhatikan tabel biayanya — harga per peserta turun tajam kalau pesertanya banyak. Webinar untuk 25 guru jatuh di Rp300.000 per orang, sepertiga dari harga kelompok kecil. Kalau yang perlu disamakan pemahamannya satu sekolah, ini jalur yang paling masuk akal. Ada juga program terpisah untuk kepala sekolah dan tenaga kependidikan — lihat di sini — atau konsultasikan kebutuhan sekolah Anda ke 0821-3735-9495.

Lanjut ke praktiknya

Ditinjau oleh: Dwi Esti Andriani, Ed.D.

Founder DEA Learning Center. Ed.D. Educational Leadership and Management, University of Western Australia. Dosen dan mantan Kepala Departemen S1 Administrasi Pendidikan FIP Universitas Negeri Yogyakarta (2019–2023

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *